Jemaah menyesaki Masjid Jami Sungai Jingah. Selain untuk berbuka puasa, mereka juga ingin menghadiri haul ke-4 Guru Zuhdi.
***
AWALNYA Masjid Jami Sungai Jingah berdiri sekitar 200 meter dari tepi Sungai Martapura.
Namun, karena tanahnya tergerus abrasi, masyarakat sepakat memindahkan Masjid Jami ke kawasan yang lebih aman.
Kala itu, umat berlomba menyumbangkan hasil pertanian dan emas untuk dana pembangunan masjid.
Sejarah mencatat, Masjid Jami didirikan pada 17 Syawal 1195 Hijriah atau pada 1777 Masehi.
Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Banjar, di era pemerintahan Pangeran Tamjidillah.
Dari segi arsitektur, masjid ini menggabungkan gaya Banjar dan Hindia Belanda.
Sejarah pembangunan Masjid Jami diabadikan dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Arab Melayu, terpasang di samping mimbar.
Ada dua barang peninggalan dari masjid lama di lokasi pertama yang dibawa kemari, yakni mimbar dan dauh (beduk).
Ketika penulis datang, Kamis (28/3) sore, satu jam sebelum beduk magrib, Masjid Jami disesaki ratusan orang.
Ruang utama masjid, pelataran, hingga area parkir berubah menjadi saf jemaah.
Selain untuk berbuka, mereka juga datang untuk menghadiri haul ke-4 Guru Zuhdi.
Rencananya haul digelar usai salat tarawih. "Acaranya habis isya," ujar salah seorang petugas, Haji Jarkasi.
Ini haul ketiga. Pertama, Jumat (8/3) malam di Masjid Jami, kedua Senin (18/3) malam di kubah makam, dan terakhir di Masjid Jami.
"Haul digelar sampai tiga kali, karena banyaknya jemaah yang mau datang," kata Haji Jarkasi.
"Saya sengaja ke sini untuk berbuka sekaligus menghaul. Karena haul sebelumnya saya nggak sempat hadir. Hari ini saya sempatkan, buru-buru sepulang bekerja," kata Rani (40).
Sepekan sebelumnya, penulis juga datang kemari. Sama seperti masjid lainnya di bulan Ramadan, Masjid Jami memegang tradisi membukakan puasa.
Jelang magrib, masjid di Antasan Kecil Timur, Banjarmasin Utara itu selalu ramai dikunjungi jemaah dan disinggahi musafir.
Banyak yang rebahan di pelataran depan masjid. Mereka sedang menunggu berbuka.
Sementara di pelataran belakang, takmir sibuk menyusun gelas berisi teh manis dan piring kecil berisi sepotong kue dan sebiji kurma.
Masjid Jami Sungai Jingah memiliki menu yang istikamah: bubur sop ayam.
"Saya dari Samuda, Kalteng. Kebetulan lagi jalan-jalan ke tempat keluarga di Banjarmasin, sekalian mampir berbuka di sini," kata Ayi, sapaan akrabnya.
Beberapa tahun lalu, ketika masih tinggal di Banjarmasin, bersama suaminya ia kerap berbuka di Masjid Jami.
"Hidangan bubur sop di sini enak banget. Kalau Ramadan sering teringat bubur di masjid ini," tutur perempuan 30 tahun itu.
Sementara Fauzi, warga Kayu Tangi, kerap singgah kemari setiap pulang kerja. Mampir untuk salat asar dan melepas penat.
Menurutnya, lantai pelataran Masjid Jami begitu adem. Ditambah hembusan semilir angin, membuat mata Fauzi mengantuk. Setengah tertutup.
"Saya memang biasa mampir ke sini sepulang kerja, apalagi ketika berpuasa, nyaman untuk istirahat, hawanya dingin," ungkap Fauzi.
Takmir masjid, Haji Radiansyah menyebutkan, setiap hari rata-rata panitia membukakan puasa 350 orang.
Dan, jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. "Kami menyiapkan hidangan 400 sampai 600 piring setiap hari," sebutnya.
Tidak hanya didominasi kaum pria, kaum perempuan juga banyak. "Tahun ini jumlah antara jemaah pria dan perempuan hampir imbang,” imbuhnya.
Dananya terkumpul dari para donatur. Sementara memasak dan penyajian dikerjakan warga sekitar masjid.
"Dana yang dikeluarkan setiap hari sekitar Rp3 juta. Setiap kali memasak, kita bikin dua kawah dan dua belek beras," ujarnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief