Semakin malam, tambah ramai. Para kawula muda saban malam memadati pelataran Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.
****
Sejumlah anak muda duduk santai beralaskan tikar plastik bersama rombongannya di Museum Lambung Mangkurat di Jalan A Yani kilometer 35, Banjarbaru, Senin (25/3) malam.
Sambil minum kopi dan menikmati makanan ringan yang dijual di foodtruck, mereka tampak bercanda gurau.
"Ke sini karena mengincar kulinernya. Sebelum Ramadan ke sini juga, cuma belum ada live music-nya jadi tidak seramai seperti malam ini," ucap Rahma, warga Liang Anggang yang nongkrong bersama teman-temannya.
Rahma mengaku suasana nongkrong malam hari di halaman Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru seperti sedang berada di Alun-Alun Yogyakarta.
"Seru sih, karena suka yang ramai-ramai. Merasa seperti bukan di Banjarbaru, vibesnya dapat lah, duduk lesehan, ada pohonnya juga, lampu penerang, foodtruck, ditambah live music-nya," sebut Rahma.
Pengunjung lainnya, M. Iqbal Agus mengaku, dirinya bersama teman sejawatnya sudah sering nongkrong di halaman Museum Lambung Mangkurat. "Dari Januari sudah sering kumpul di sini bareng teman-teman. Kalau bulan Ramadan ini, selesai tarawih baru ke sini," mahasiswa ULM Banjarbaru.
Iqbal pun memilih nongkrong di halaman Museum Lambung Mangkurat ketimbang di Lapangan Murjani. "Di sini bisa lebih santai, walaupun tempat duduknya kadang susah dicari karena banyak orang. Tapi lebih enak di sini,"ucap warga Pelaihari itu.
Sementara itu, salah satu pedagang minuman, Rizky mengatakan, pengunjung lebih banyak pada saat malam Ramadan usai tarawih daripada hari biasanya. "Karena sebelumnya baru buka, jadi masih sedikit yang tahu kalau ada tempat nongkrong di museum," ucapnya.
Perihal lapak, Rizky mengaku para pedagang foodtruck menyewa lahan dengan pihak museum dengan tarif Rp 400 ribu per bulan. "Jadi jualan di sini sudah ada izin," katanya.
Ia menyebut, biasanya pengunjung mulai berdatangan setelah selesai salat tarawih. "Makin malam, makin ramai. Apalagi belakangan ini ada live musiknya, tambah ramai. Sampai-sampai saya buka hingga jam 2 dini hari," ujar Rizky.
Salah satu musisi, Anton mengatakan adanya live music yang digelar oleh lintas musisi ini bertujuan untuk menghibur para pengunjung yang sedang berkumpul. "Kami menyebut tempat ini Pelatar Museum. Kalau musik ini sudah jalan seminggu lalu," bebernya.
Anton menyebut, pelatar museum ini lebih terasa seperti tempat tongkrongan di pulau Jawa. "Suasananya lebih dapat seperti di alun-alun. Harga makanan yang dijual menggunakan foodtruck juga ramah di kantong," pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief