Pintu masjid peninggalan zaman Kesultanan Banjar ini selalu terbuka untuk siapa saja yang datang berkunjung. Musafir dan peziarah silakan mampir.
****
DI BUKU tamu, tertera jelas siapa saja yang pernah mampir ke masjid di Kampung Kuin, Banjarmasin Utara tersebut.
Tertulis rombongan warga asal Kuala Terengganu, Malaysia. Tujuannya untuk lawatan. Tertanggal 25 Februari kemarin.
Pada tahun 2024, mereka adalah pelancong terjauh yang datang kemari.
Mengacu literatur, masjid ini dibangun pada masa Pangeran Samudera, nama lama Sultan Suriansyah. Sekitar tahun 1526-1540 M.
Masjid ini berada di seberang Sungai Kuin. Dibangun dari kayu ulin, dominan warga hijau.
Ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga perlambang Kesultanan Banjar.
Arsitekturnya mengacu Masjid Agung Demak. Tampak pada atap masjid berbentuk tumpeng berundak. Bukan kubah seperti kebanyakan masjid di Kalimantan Selatan.
Pengaruh itu tak terlepas dari bantuan Kerajaan Demak pada Pangeran Samudera ketika ia berperang melawan pamannya.
Pada 23 Mei 2008, masjid ini ditetapkan pemerintah menjadi cagar budaya.
Masjid ini pernah menuai pujian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. Sandi bilang, ini masjid yang amat indah.
"Masjid ini menghadirkan banyak aspek, bukan hanya religi, tapi juga kekayaan budaya dan kearifan lokal," ujarnya saat mengunjungi Kuin Utara pada Agustus 2023 lalu.
Penulis mengunjungi masjid itu pada Kamis (14/3) petang. Dua jam menjelang azan magrib.
Di sebuah ruangan yang bersisian dengan teras utama, tampak para ibu dan bapak sedang mencacah telur dan daging. Untuk ditabur ke piring bubur bersama kerupuk.
"Ini menu berbuka puasa hari ini. Bubur ayam," ujar Sulaibatul Islamiyah, 63 tahun, warga Kampung Kuin.
Di sudut lain, M Jubaidi dan Adriano tampak asyik menyusun gelas-gelas berisi teh manis.
Seperti masjid dan musala pada umumnya di bulan Ramadan, Masjid Sultan Suriansyah juga menyediakan makanan untuk berbuka puasa.
Jubaidi menuturkan, tahun ini, setiap hari panitia menyediakan 150 porsi hidangan berbuka plus 50 porsi cadangan.
Diperuntukkan bagi warga sekitar masjid, juga peziarah atau musafir yang mampir ke masjid.
"Biasanya, pukul 6 kurang, orang-orang mulai berdatangan," ucap pria 41 tahun itu.
Dananya berasal dari donatur. Sementara memasak dan penyajian dikerjakan warga sekitar secara turun temurun.
"Dahulu waktu kecil, saya sering berbuka puasa di sini. Sambil melihat orang tua menyiapkan makanan untuk berbuka," timpal Adriano.
"Sekarang, giliran saya yang bantu-bantu. Ini sudah menjadi tradisi bagi warga sini," tambah pria 53 tahun tersebut.
Di teras, banyak bocah membawa buku dan pulpen. Itu buku laporan kegiatan pelajar selama bulan Ramadan.
Anak-anak mengikuti kegiatan keagamaan di masjid, kemudian meminta tanda tangan imam atau ustaz sebagai bukti.
Usai salat magrib berjemaah, mereka ramai-ramai meminta tanda tangan. Kelar salat tarawih minta lagi.
Kaum (marbot) masjid, Zainuddin mengatakan, selain salat tarawih berjemaah, juga ada tadarus Al-Qur'an.
Kaum pria tadarus bakda salat tarawih. Sedangkan kaum perempuan bakda salat subuh.
Ada pula kajian keagamaan. Pada bulan biasa digelar empat kali dalam sepekan, khusus Ramadan menjadi lima kali.
"Waktunya juga diubah. Bila sebelumnya sesudah magrib hingga isya, diubah menjadi setelah salat subuh hingga pukul 07.00 Wita," ungkapnya.
Pada malam-malam ganjil, masjid ini diramaikan oleh jemaah yang sedang "mencari" lailatul qadar.
"Ramai sekali. Bisa empat sampai lima saf. Tidak hanya kaum laki-laki, tapi juga kaum perempuan," tutupnya.
Bergeser ke luar, dermaga seberang masjid tampak sepi. Padahal biasanya di sana banyak yang berkumpul untuk duduk-duduk santai. Mungkin karena cuaca sedang terik dan gerah.
Di dalam ruang induk masjid, sambil menunggu waktu berbuka ada yang mengaji, ada pula yang cuma bermain gawai.
Salah satunya Hidayat. Ia asal Tinggiran Luar, Tamban, Barito Kuala.
Ia mengaku sengaja datang. Pengin merasakan berbuka di masjid bersejarah berumur nyaris lima abad itu.
"Saya merasa feel-nya beda dengan masjid-masjid lainnya. Nuansa baharinya," ujarnya.
"Ini tempat yang pas untuk diziarahi," tambah Hidayat.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief