Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rayakan 23 Tahun Berkarya, Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Gelar Acara Ini di Siring Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Selasa, 27 Februari 2024 | 11:43 WIB
KEREN: Penari Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru saat menampilkan tarian andalannya di Siring Laut.
KEREN: Penari Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru saat menampilkan tarian andalannya di Siring Laut.

Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru begitu terkenal di kalangan seniman Kalimantan Selatan. Tidak hanya pernah menjuarai lomba tarian di Kalsel. Namun, juga nasional. Bahkan beberapa kali tampil berpartisipasi di event internasional.

     *****
Ratusan penari terlihat memakai pakaian adat yang berbeda. Mulai dari Suku Banjar, Dayak, dan Suku Bajau. Mereka menari bersama. Meluapkan rasa syukur atas 23 tahun berkarya di Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru (S2PSKB). Menghibur pengunjung wisata Siring Laut Kotabaru, Minggu (25/2) malam.

Selain tarian, mereka juga menampilkan Gangsa Swara. Musik tradisional yang pernah menjuarai nasional lomba lagu daerah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Selama 23 tahun belajar berkebudayaan, anggotanya menorehkan banyak prestasi. Di antaranya tahun 2001, mewakili Kabupaten Kotabaru dan Kalsel pada Pesta Gendang Nusantara Melaka Malaysia yang diikuti oleh Negara dan Rumpun Melayu se-Asia. Event internasional itu kembali diikuti pada tahun 2008, 2010, hingga 2012.

Pada tahun 2012 pula, mewakili Kotabaru dan Kalsel mengikuti Festival Indonesia di Melbourne Australia. Berikutnya di tahun 2015, menjadi duta kebangsaan hubungan diplomatik Indonesia – Brunei Darussalam di Brunei Darussalam.

Dua tahun kemudian menjadi duta kesenian pada event Matta Fair 2017 di Kuala Lumpur. DI tahun 2017 itu pula mengikuti Bedog Art Festival (BAF) 8 yang diikuti 9 negara di Studio Banjarmili Martinus Miroto Yogyakarta.

Dari tahun 2005 sampai sekarang, selalu selalu berpartisipasi dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupaten Kotabaru untuk menggelarkan tari kolosal dengan tema berbeda. Bahkan selalu terlibat dalam penyambutan tamu-tamu daerah. Selain itu, masih banyak lagi sebenarnya prestasi yang pernah mereka toreh.

Di sela penampilannya Minggu malam, salah satu Ketua S2PSKB Hadriani mengucapkan rasa senangnya sanggar ini bisa bertahan sampai sekarang. Berhubung pelaku seni sudah berbuat banyak di Kotabaru, ia juga menyampaikan kritikan. Ini terkait belum adanya tempat khusus sebagai sarana latihan. Mereka masih menumpang di aula Disdikbud Kotabaru. “Kami mohon lebih diperhatikan. Kami aset budaya daerah,” ungkapnya.

KEREN: Penari Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru saat menampilkan tarian andalannya di Siring Laut.
KEREN: Penari Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru saat menampilkan tarian andalannya di Siring Laut.

Menurutnya, dengan adanya bangunan khusus buat sanggar akan semakin menunjang kegiatan mereka. Supaya bisa lebih berkembang melestarikan budaya daerah.

Kabid kebudayaan Disdikbud Kotabaru, Edi Cahyono mengungkapkan rasa bangganya dengan sanggar ini. “Kami mengapresiasi 23 tahun, bukan waktu yang singkat. Apalagi di Kalimantan Selatan Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan ini cukup disegani dan terkenal,” ucapnya.

Terkait sarana latihan, Disdikbud Kotabaru tetap mendukung sarana latihan di aula instansinya. Tapi, sanggar ini juga bisa mengajukan proposal secepatnya untuk bantuan pengadaan baju tari dan lainnya.

Sekda Kotabaru, Said Akhmad juga sangat mengapresiasi sanggar ini. Baginya, setiap pementasan seni penting menunjukkan karakter kearifan lokal kepada wisatawan.

Terkait keluhan sanggar untuk tempat latihan, sekda minta agar Disparpora Kotabaru memberikan ruang khusus di panggung Siring Laut yang akan segera jadi. Panggungnya akan ditambah. “Jadi nanti silakan gunakan sebagai tempat latihan. Tempat ini tidak jauh, dan bisa kita pusatkan di Siring Laut,” ucapnya.

Selain Anang Narendra dan Rudi Nugraha, Firhansyah adalah salah satu pendiri sanggar ini. Firhansyah yang kini menjadi Wakil Ketua Dewan Kesenian Kalsel berpendapat bahwa pada dasarnya seniman bisa berdiri sendiri. Tidak ketergantungan terhadap pemerintah daerah. Namun, pemerintah juga patut menyediakan tempat yang layak untuk seniman berkarya.

Firhansyah menegaskan bahwa berkesenian tidak akan mati. Kembang tradisi juga tidak akan layu. Ia akan tetap harum, walaupun zaman berbeda. Asalkan tetap mempertahankan tradisi. “Saya akan terus komitmen membantu. Apalagi Kotabaru bagaikan berliannya seniman. Pokoknya semangat terus,” tutupnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Kotabaru #seni #Tari #Budaya #pagelaran