Ada 51 jurnalis dari berbagai provinsi di Kalimantan diboyong ke Bali pada 16-18 Februari tadi. Berbagai pengalaman seru dialami saat mengikuti gathering Otoritas Jasa Keuangan (OJK) se-Kalimantan di Pulau Dewata itu.
Oleh: Eddy Hardiyanto, Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
Hampir semua sudah siap berangkat. Masing-masing duduk berboncengan di atas kendaraan berwarna merah. Berjejer membentuk kolom-kolom memanjang di tanah lapang. Mereka terlihat lagi mendengarkan pengarahan dari pemandu.
Sedangkan rombongan kami tiba di lokasi paling akhir. Diantar naik pikap dari restoran Surya Bintang Adventures. Ketika turun dari pikap, langsung disuruh pasang helm. Lantas dikasih dua plastik kresek berwarna kuning. Diminta mengikatnya di area telapak kaki.
Berikutnya, sepatu boots dibagikan. Telapak kaki dimasukkan. Plastik kresek itu ternyata fungsinya melicinkan. Biar mudah memasukkan dan mengeluarkan telapak kaki dari dalam sepatu boots.
Kami langsung menuju barisan. Tinggal pilih mau naik yang mana. Ada 38 ATV disediakan. Terdengar raungan kendaraan kecil beroda empat itu bersahut-sahutan dari peserta yang lebih dulu duduk.
Ketika saya naik, ATV masih dalam keadaan belum hidup. Setelah utak-atik starter, bingung mau menjalankannya bagaimana. Gas di gagang sebelah kanan coba diputar, kok begitu keras.
Pemandu pun dipanggil untuk menjelaskan secara singkat penggunaannya. Porsneling giginya mirip mobil matik. Gasnya ternyata bukan diputar di gagang kanan. Tapi, ada tuas di bawah gagangnya. Tuas di bawah itu digerakkan dengan jempol. Kalau mau maju, tuasnya tinggal ditekan. Sungguh pengalaman baru mengendalikan laju kendaraan hanya dengan jempol. Jari-jari lain, tangan kiri dan kanan, memegang tuas rem layaknya motor matik.
Coba jalan, ternyata tidak mudah untuk berbelok. Setangnya bukan power steering. Perlu tenaga ekstra untuk menggoyang setang ke kiri maupun ke kanan. Bahkan, setang cenderung melawan bila ban bertemu lubang.
Belokan pertama langsung bertemu turunan. Berhubung banyak yang belum pernah mencoba ATV, pemandu harus kerja keras. Mengatasi ATV yang melintir ke samping.
Perjalanan cenderung lambat. Di jalur yang lumayan sempit itu, iring-iringan ATV lebih sering berhenti. Di setiap tikungan, pemandu di depan harus selalu mengecek sampai ke belakang, apakah semua peserta sudah aman semua.
Rutenya ini memang sangat menantang. Masuk hutan lebat. Berbukit-bukit di kawasan Ubud, Bali. Sering kali berhenti sejenak. Bergantian. Mengambil ancang-ancang. Demi memacu ATV lebih kencang agar kuat menanjak. Apalagi di ujung tanjakan, langsung menikung, sekaligus menanjak lagi.
Air terjun kecil beberapa kali ditemui mengguyur rute yang dilalui. Airnya terjung dari tebing di sebelah kanan, menuju jurang di sebelah kiri.
Adrenalin makin naik ketika memasuki gua. Sangat gelap. Tidak kelihatan apa-apa. Mirip terowongan panjang. Hanya ada cahaya di ujung sana. Ketika memacu ATV, sambil bertanya-tanya dalam hati, ada rintangan apa di depan. Khawatir kalau ada lubang, ATV tidak terkendali, dan membentur dinding gua di kiri kanan.
Lolos dari gua, perjalanan dilanjutkan. Berhubung ditempuh selama dua jam, ada istirahatnya di tengah perjalanan. Ini kesempatan ganti joki. Saya juga ingin merasakan duduk di bangku penumpang.
Setelah istrihat di pondok yang ada kulkasnya, rutenya ternyata tidak kalah menegangkan. Masuk ke saluran air. Di antara dua tebing. Jalanan tertutup air keruh. Banyak bebatuan, dan lubang yang tidak bisa ditebak. Goncangannya cukup kuat. Rute saluran air ini panjang juga. Kedalaman airnya hingga menyentuh sepatu boots di pijakan ATV. Rute ATV sepanjang 7 kilometer ini juga melintasi persawahan.
Tidak hanya pengalaman naik ATV saja yang dirasakan Sabtu (17/2) tadi. Kegiatan adventure berikutnya rafting di Sungai Ayung, Ubud. Bagi saya, arung jeram menumpangi perahu karet ini pengalaman ketiga. Sebelumnya pernah di Kawasan Sleman Yogyakarta, dan juga di Jawa Barat.
Ada tantangan tersendiri arung jeram di Sungai Ayung kali ini. Sudah langsung terasa saat menuju ke perahu. Lokasi sungainya ada di bawah bukit. Tidak kelihatan dari atas. Harus jalan kaki dulu. Menurun. Melewati anak tangga tidak beraturan dari beton. Berkelok-kelok. Jumlahnya sekitar 400-an anak tangga. Sebagai perbandingan, kalau naik tangga gedung ke lantai atasnya, paling banter 20 anak tangga. Jadi berkali-kali lipatnya.
Begitu pula saat balik ke darat. Jumlah anak tangganya sekitar itu. Tentu ngos-ngosan bila terus menanjak tanpa jeda. Kaki pegal-pegal dibuatnya. Tangan juga pegal-pegal karena mendayung dan mengemudikan ATV.
Dibandingkan pengalaman sebelumnya, rute di Sungai Ayung ini mirip di Sleman. Sungainya lumayan lebar. Arusnya tidak kuat. Namun, arung jeram di Sungai Ayung terkenal dengan jeram terpanjang di Bali. Menempuh 12 kilometer dengan durasi petualangan kurang lebih 2,5 jam.
Berbeda dengan di Jawa Barat, tepatnya arung jeram di Kabupaten Banjar. Meski di sana sungainya lebih sempit, arusnya sangat deras. Riamnya juga curam. Kalau perahu karet terjun ke bawah, wajah penumpang sampai masuk ke dalam air.
Arung jeram di Ubud kali ini justru lebih banyak bercandanya. Kalau antar perahu sedang berdekatan, jadi rusuh. Saling sembur air. Mengoyangkan dayung sekuat tenaga, mengarah air ke wajah penumpang perahu lain.
Di perahu yang saya tumpangi juga tergolong heboh. Ada empat jurnalis wanita duduk di belakang. Sering berteriak. Saya yang duduk di depan sampai tak mendengar instruksi pemandu di belakang.
Situasi agak tenang setelah istirahat. Perahu yang kami tumpangi agak memisahkan diri dari perahu lain. Benturan dengan perahu lain lebih berkurang.
Rutenya ini juga ada melewati pura di sungai. Bahkan, meluncur menuruni bendungan.
Hujan juga turun. Tapi yang diomongkan di perahu malah cerita Saranjana. Cerita mistis.
Ketika menuruni riam, tiba-tiba perahu bagi depan sebelah kiri menghantam batu yang tertutup air. Perahu oleng ke kiri. Di sebelah saya, rekan dari Kalimantan Utara, terlempar ke sungai.
Untung bisa berenang dan tidak membentur batu. Kami baru berhasil mengangkat tubuhnya ke perahu, setelah menarik rompi keselamatannya.
Dua aktivitas adventure ini difasilitasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) se-Kalimantan. Mereka mengundang para jurnalis untuk ikut gathering di Bali. “Semoga kegiatan kita menambah rasa kekeluargaan,” ujar Kepala Kantor OJK Kalsel, Darmansyah.
Aktivitasnya di Bali tidak hanya adventure untuk mengakrabkan antara insan pers dengan OJK. Namun, juga diselingi kunjungan ke Kantor OJK Provinsi Bali, disertai journalist talk, dan market update terkait perkembangan industri jasa keuangan di masing-masing provinsi.
Macet Tetap Disyukuri
Kalau berkunjung ke Bali, sebaiknya jangan di akhir pekan maupun libur tanggal merah. Jalanan terasa sangat macet. Terutama bila menuju kawasan Legian atau Pantai Kuta.
Tentu dua kawasan ini banyak bulenya. Mereka banyak terlihat jalan kaki dengan pakaian agak terbuka. Banyak pula yang terlihat nongkrong di bar di sepanjang jalan.
Kebetulan kami diinapkan di kawasan Pantai Kuta. Naik bus pula. Kalau ke mana-mana terpaksa melewati kemacetan. “Kami tidak berani mengeluh (macet, red),” ujar Mbok Dwi, pemandu di bus 2 yang kami tumpangi. Mbok adalah panggilan untuk kakak dalam Bahasa Bali.
Bagi mereka, macet itu anugerah. Itu tanda perekonomian telah pulih. Lebih baik bila dibandingkan pada masa pandemi Covid-19. Kala itu, pariwisata Bali lumpuh. Kawasan Legian dan Pantai Kuta seperti kota mati. Tidak ada toko yang buka. Hotel-hotel banyak dijual. Penduduknya yang bergerak di bidang pariwisata tidak punya penghasilan. Mbok Dwi mengaku sampai beralih jadi pedagang elektronik. “Kulkas dijual. Televisi dijual. Semua elektronik di rumah dijual,” ucapnya, mengenang untuk bertahan hidup. “Jadi kalau sekarang jalanan macet, syukuri saja,” sebutnya.(*)
Editor : Arief