Di tembok beton kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe (BTD), Priadi Hefni menggambar sisi lain Kota Banjarmasin. Melalui goresan muralnya, ia berkisah tentang evolusi manusia dan pergulatannya dengan modernitas.
****
TANGANNYA masih belepotan cat berwarna kuning, ketika pemuda 29 tahun itu menuangkan cat ke bekas botol minum kemasan.
Cat diaduk, kuas dicelup. Sejurus kemudian, tangannya meliuk-liuk di tembok.
Selain menggunakan cat semprot, ia juga memakai cat tembok biasa.
Meski belum rampung, wujud mural yang dibuatnya sudah mulai tampak.
Sekilas, seperti ilustrasi teori evolusi yang dicetuskan naturalis Inggris, Charles Robert Darwin.
Dalam bukunya On the Origin of Species, terbit pertama kali 24 November 1859, Darwin mengemukakan tentang kemungkinan-kemungkinan evolusi spesies. Yang mengalami perubahan fisik dari waktu ke waktu dikarenakan proses seleksi alam.
Tanggal 24 November kemudian diperingati masyarakat dunia sebagai Hari Evolusi.
Pembaca tentu familiar dengan ilustrasi teori evolusi tersebut. Minimal pernah melihatnya di buku teks pelajaran biologi.
Ilustrasi yang kemudian disalahpahami dan memicu kontroversi, bahwa nenek moyang kita ternyata seekor kera. Padahal Darwin sendiri tak pernah menyebut secara langsung hal tersebut.
Bedanya, agar ada sentuhan lokal, Priadi mengganti gambar kera itu menjadi bekantan—maskot Kalimantan Selatan.
Bekantan ini menempuh perjalanan panjang. Menjadi petani di ladang hingga menjadi pekerja kantoran.
Latarnya adalah hutan yang asri, berganti menjadi gedung bertingkat dan kepulan asap pabrik.
"Saya memang terinspirasi teori evolusi Darwin," ucap Priadi saat berbincang dengan Radar Banjarmasin, Jumat (16/2) petang.
Priadi adalah satu dari delapan seniman yang mengkuti event 5ive Pointz, Grafity and Mural Competition. Termasuk dalam rangkaian peluncuran Kalender Event Banjarmasin 2024.
Kompetisi ini digagas Paguyuban Bandarmasih Tempo Doeloe bersama Staf Muda Wali Kota Banjarmasin.
"Saya mulai menggarap sejak pukul 10.00 Wita. Tapi berjeda-jeda juga karena menunggu waktu salat Jumat," ujarnya.
Panitia mengangkat tema besar, Expose Banjar. Untuk sub tema, gambaran perkembangan Banjarmasin dahulu sampai sekarang.
"Namun dari sudut pandang kawan-kawan seniman grafiti dan mural," ungkap salah satu juri kompetisi, Happy Bima.
Selain dari Banjarmasin, juga ada peserta dari Banjarbaru dan Martapura.
Peserta boleh perorangan atau berkelompok. Karya mereka akan dinilai tiga juri, perwakilan pemilik tenant di BTD hingga perupa Kalsel.
"Penilaian dilihat dari aspek teknis penggarapan dan kekuatan pesan yang mau disampaikan," jelas Happy.
Panitia juga menyediakan cat untuk membuat mural, berupa cat tembok dan cat semprot.
Hadiahnya, juara pertama berhak atas uang tunai sebesar Rp5 juta, juara kedua Rp3 juta, dan juara ketiga Rp2 juta.
Nominalnya kecil? Ya, tapi tembok BTD akan dilihat orang banyak. Ini sebuah ruang pameran yang strategis.
Untuk waktu penggarapan, dimulai dari kemarin hingga sore ini (17/2).
Area kompetisi menempati salah satu lorong kawasan BTD yang temboknya sudah dicat polos.
"Agar karya kawan-kawan bisa lebih dilihat masyarakat luas," kata Happy.
Di bagian tembok yang lain ada Rizky, Fahmi, Khalil, dan Mahmud. Mereka berempat satu tim. Berasal dari kelompok yang bernama Zakarul Amin.
Mereka berkolaborasi membuat sebuah mural besar. Menggambar Pasar Terapung hingga soto Banjar.
"Kami ingin menyampaikan pesan bahwa Banjarmasin punya banyak tempat wisata dan kekayaan budaya yang menarik," tuturnya.
Rizky cs memakai teknik pop art. Memanfaatkan warna dan simbol visual yang populer.
Beralih ke tembok lain, ada Ferdi. Ia melukis bangunan-bangunan terkenal milik Banjarmasin. Salah satunya Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Melihat animo peserta, Happy tak menutup kemungkinan event serupa bakal dibuat sekuelnya.
"Paling tidak, event ini bisa menjadi pemantik," tambahnya.
Happy berharap, melalui event ini, anak muda Banjarmasin kembali meramaikan BTD yang berada di Jalan Hasanuddin HM, Banjarmasin Tengah.
Mengingat saat kawasan tersebut direnovasi pada tahun 2023 kemarin, jumlah pengunjungnya sempat menurun.
"Kami ingin kawasan ini menjadi ramai seperti dahulu," tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief