Sebagai petani sayur, Sugiannor menghadapi masalah pupuk yang langka. Sebagai pembudidaya ikan air tawar, ia menghadapi masalah pakan yang mahal. Inilah kisah perjuangannya.
****
DESA Danau Karya berada di Kecamatan Anjir Pasar di Kabupaten Barito Kuala, berbatasan dengan Kecamatan Wanaraya.
Belum lama tadi, penulis berkunjung ke Danau Karya.
Di sana ada kolam-kolam besar berisi ikan nila. Lahan itu milik Muhammad Sugiannor.
Dia adalah Ketua Gapoktan Danau Karya. Latar belakangnya adalah petani sayur mayur.
Dua tahun terakhir, ia sukses menjadi pembudidaya ikan nila dengan sistem bioflok.
Dalam satu kolam bioflok, bisa berisi 750 ekor ikan. Di sana ada tiga kolam. Setiap tiga bulan sekali bisa dipanen. Sekali panen, satu kolam menghasilkan 225 hingga 230 kilogram.
Sebagai penyuluh pertanian swadaya, ia melihat petani di desanya menghadapi masalah pupuk dan pestisida.
"Dengan budidaya sistem bioflok ini, bisa sekaligus membuat pupuk pertanian,” ujarnya bersemangat.
Limbah budidaya ikan diolah menjadi pupuk. “Bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 60 persen. Keuntungan buat kami petani sayur,” jelasnya.
Misinya sederhana, tapi niatnya mulia. Yakni mengurangi ketergantungan petani pada bantuan pemerintah.
"Sehingga kami tidak mengharapkan subsidi pemerintah saja," kata Sugi.
Apalagi subsidi pupuk telah dikurangi hingga 50 persen. “Otomatis mengurangi gairah pertanian,” sesalnya.
Danau Karya adalah penyuplai sayur utama di kawasan Anjir Pasar.
Sugi sendiri mulai bertani sejak tahun 2004. Selama ini, selain masalah pupuk, Sugi dan rekan-rekannya juga berhadapan dengan perubahan iklim. Contoh curah hujan ekstrem.
Sementara untuk hasil budidaya ikan nila, Sugi membuat peraturan buat dirinya sendiri.
“Panen ikan di sini hanya dijual kepada masyarakat sekitar untuk peningkatan mutu gizi keluarga. Seperti mengatasi stunting (tengkes). Dijual dengan harga Rp28 ribu saja per kilogram. Tidak dijual ke pedagang,” tegasnya.
Jejak Sugi mulai ditiru oleh desa tetangga, walaupun masih dalam skala kecil. Namun, setiap usaha pasti ada aral.
“Kalau soal budidaya ikan ini kendalanya adalah mahalnya pakan ikan," keluhnya.
Kini Sugi dipercaya sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Danau Karya. Namun, ia selalu memandang dirinya sebagai penyuluh pertanian.
Misinya semata-semata untuk mengedukasi dan mengangkat ekonomi petani.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief