Yayasan Ainul Amin Tebing Tinggi punya ustaz-ustaz tangguh yang bertugas hingga ke pedalaman Meratus. Berikut pengalamannya dalam berdakwah.
***
Matahari perlahan mulai meninggi. Cahayanya dengan lantang menyinari deretan pegunungan hutan adat di Desa Dayak Pitap, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan.
Maklum, saat itu sudah pukul 11.00 siang. Meski sinarnya tepat berada di ubun-ubun, panas matahari tidak terlalu menyengat.
Minggu (28/1) siang, penulis berkesempatan melihat langsung proses pembangunan rumah salah satu mualaf di Desa Dayak Pitap.
Setelah melalui perjalanan sekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor dari pusat kota Paringin, penulis disambut Muhammad Rija, empunya rumah yang akan dibangun.
Rija merupakan salah satu dari 5 mualaf yang difasilitasi oleh Yayasan Ainul Amin Tebing Tinggi. Sejak memutuskan memeluk agama Islam pada tahun 2021 lalu, yayasan tersebut diakuinya sangat berperan penting.
Bukan hanya membimbing Rija memperdalam ajaran agama, juga memberikan bantuan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan membantu proses pembangunan rumah tersebut.
"Sebelumnya saya dan istri tinggal bersama orang tua. Keinginan untuk punya rumah sendiri ini saya utarakan ke pihak yayasan,” ceritanya.
Ia diminta menyiapkan bahan. “Untuk tenaga, ustaz-ustaz di yayasan yang gotong royong," ucapnya.
Rija lantas memperkenalkan kepada Ustaz Juni. Salah satu pengurus yayasan yang kerap 'blusukan' membantu warga yang ingin bersyahadat.
Perhatian kemudian terfokus pada cerita Ustaz Juni. Tentang perjalanannya dalam memfasilitasi.
Lahir dan dibesarkan di daerah tersebut, Ustaz Juni seolah menjadi pilar penting dalam membawa cahaya Islam ke wilayah tersebut.
Dalam upayanya, Ustaz Juni menerapkan konsep jemput bola, dan pendekatan yang humanis. Ustaz Juni mendatangi kalau ada warga yang minta difasilitasi.
“Kalau menunggu warga yang mendatangi, bisa jadi malu atau sebagainya. Jadi kita yang harus responsif," kata Ustaz Juni.
Ia pun dengan senang hati mendampingi mualaf yang perlu bimbingan. Salah satu yang paling diingat, saat salah satu mualaf kesulitan dalam melaksanakan salat Jumat.
Ustaz Juni rela meninggalkan masjid yang biasa ia salat, untuk mendatangi mualaf tersebut. Lantas mengajaknya salat di masjid terdekat.
Menurutnya, kadang ada mualaf yang masih dalam proses belajar menjalankan kewajiban salat. Mungkin dia merasa sungkan bertemu jemaah lain.
“Jadi saya dampingi. Setelah itu, saya coba komunikasikan dengan warga agar beliau ini didampingi,” kenangnya.
Jadi tanpa kehadiran ustaz, ada banyak warga yang siap membantu nantinya.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Ustaz Juni tetap teguh dalam perjuangannya.
Menurutnya, salah satu kunci agar mudah diterima harus dengan istikamah dan bisa membawa diri.
Statusnya sebagai keponakan kepala adat Tebing Tinggi juga menjadi nilai plus yang membuatnya kian dekat dengan masyarakat.
Ia justru mengaku tidak mendapat kesulitan berarti dalam membimbing mualaf dari segi ilmu agama. Kedekatan kultur budaya Islam dengan agama sebelumnya, membuat para mualaf mudah beradaptasi.
"Mayoritas kawan-kawan mualaf ini sebelumnya memeluk kepercayaan Kaharingan,” terangnya.
Ustaz Juni menuturkan apa dilakukannya sangat didukung oleh pihak keluarga para mualaf yang masih memeluk kepercayaan lama. Pihaknya pun tidak mengekang mualaf yang masih terlibat dalam aktivitas tradisional di daerah tersebut.
"Contohnya, di sini kerap ada aruh adat. Kami justru menyarankan mereka (mualaf, red) untuk tetap membantu kelancaran acara," pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief