Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gelak Tawa Nonton Teater Komedi, Sanggar Kariwaya Balangan Tampilkan Mamanda Khas Kalsel

M Dirga • Senin, 13 November 2023 | 10:34 WIB

 

PENTAS: Aktor Sanggar Kariwaya mempertontonkan drama dalam balutan komedi pada pementasan teater tradisi mamanda di Pasar Budaya Rancah Mampulang Balida, Sabtu (11/11) malam.
PENTAS: Aktor Sanggar Kariwaya mempertontonkan drama dalam balutan komedi pada pementasan teater tradisi mamanda di Pasar Budaya Rancah Mampulang Balida, Sabtu (11/11) malam.

Pertunjukan mamanda terkenal dengan komedinya. Gelak tawa penonton terdengar keras saat seni teater khas Banua itu ditampilkan di Pasar Budaya Rancah Mampulang Balida.

      Oleh: M Dirga, Paringin

Suasana dingin menyelimuti Desa Balida, Kecamatan Paringin, Balangan, Sabtu (11/11) malam. Hawa kian menusuk, mengingat sore harinya seantero Bumi Sanggam diguyur hujan deras. Tapi, di Pasar Budaya Rancah Mampulang Balida, justru sebaliknya. Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai malam minggu di desa budaya tersebut. Pertunjukan teater tradisi mamanda digelar oleh Sanggar Kariwaya Balangan.

Penonton mulai berdatangan setelah Isya. Mereka disambut nyanyi-nyanyian khas Banjar. Alunan musik panting, biola, babun, dan gong Banjar berpadu dengan vocal merdu membawakan berbagai tembang Banjar seperti 'Ampat si Ampat Lima', 'Kakamban Habang', hingga 'Baras Kuning' sebagai suguhan pembuka.

Gelak tawa penonton tiba-tiba pecah saat dua orang 'Harapan' memasuki arena pertunjukan. Keduanya memperkenalkan diri dengan pantun dan berbagai tingkah jenaka. Dalam mamanda, harapan merupakan dua orang prajurit terbaik kerajaan yang membuka adegan pertunjukan. Selanjutnya, satu persatu aparat kerajaan memasuki arena untuk melaksanakan sidang kerajaan. Itulah sedikit gambaran keseruan pertunjukan mamanda malam itu.

Secara garis besar, Sanggar Kariwaya mempertontonkan kisah sebuah kerajaan bernama Sanggam Buana. Diperintah raja bijaksana ingin mengadakan aruh perkawinan sang putri. Berbagai drama sebelum prosesi perkawinan yang dibalut dengan suguhan komedi menjadi bumbu menarik pertunjukan. Sukses mengocok perut penonton.

Secara keseluruhan, mamanda oleh Sanggar Kariwaya layak mendapatkan apresiasi. Warga Kecamatan Juai, Riswan Aditya mengaku sangat terhibur malam itu. "Tidak rugi jauh-jauh mendatangi ke sini. Tawanya pas, tidak monoton. Sama sekali tidak membosankan, meski durasi pentasnya cukup panjang. Pesan moral yang diselipkan lewat pementasan juga tersampaikan dengan baik," kata Iwan.

Pertunjukan ini seolah menjadi sebuah perayaan kebebasan setelah sekian lama vakum. "Mudah-mudahan pertunjukan ini menjadi langkah awal dan ikhtiar kami untuk bangkit," kata Ketua Umum Sanggar Kariwaya, M Refany Hamzah.

Ia mengakui munculnya ide pentas ini dipengaruhi oleh kegelisahan, setelah sekian lama tidak merasakan atmosfer panggung. Ia menepis pandemi Covid-19 menjadi satu-satunya faktor utama hibernasi. "Utamanya adalah faktor regenerasi. Kami kesulitan karena setelah pandemi, sejumlah anggota kami tidak berdomisili di Balangan lagi. Sebagian ada yang kuliah keluar kota. Sebagian lagi sibuk dengan tuntutan pekerjaan," bebernya.

Sang ketua berharap hadirnya pementasan ini bisa menjadi pemantik gairah agar kembali eksis berkesenian. Ini menjadi wadah bagi anggota untuk mengembangkan potensi diri di bidang kesenian.

Sejak berdiri tahun 2006, Sanggar Kariwaya menjelma menjadi salah satu komunitas kesenian yang cukup diperhitungkan di Kalsel. Berbagai penghargaan berhasil mereka torehkan baik di kategori kesenian tradisi maupun modern. Bak siklus kehidupan yang mengalami turun naik, Sanggar Kariwaya juga pernah merasakan pasang surut.

"Sanggar Kariwaya ini berdiri saat menjelang Aruh Sastra Kotabaru pada tahun 2006. Sempat redup, kemudian bangkit lagi di tahun 2013. Hingga akhirnya, di tahun 2019 kembali vakum. Tahun ini, kita coba untuk bangkit kembali," kata pendiri sanggar Kariwaya sekaligus ketua umum pertama, M Hasmi Yudhi.

Pria yang akrab disapa Ami tersebut mengakui adanya perbedaan gairah berkesenian sebelum dan sesudah pandemi. "Adanya pandemi sangat memengaruhi. Pascapandemi, minat anak muda mulai bergeser ke digitalisasi. Mereka lebih akrab dengan gadget. Bahkan saat ngumpul dengan teman, hp tidak lepas dari tangan," keluhnya.

Ami berharap pementasan malam ini menjadi titik balik kembalinya hegemoni Sanggar Kariwaya. Lebih dari itu, ia berharap ekosistem kesenian di Balangan juga kian marak serta kian bergairah.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Balangan #Seni Budaya #teater