Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berharap Kerajinan Purun Bisa Bertahan

Arief • Selasa, 17 Oktober 2023 | 08:13 WIB
MENGANYAM: Jainatur Rahmah (kanan) sedang menganyam tas purun di teras rumahnya di Kelurahan Palam, Minggu (15/10) siang. | FOTO: BAYU ADITYA RAHMAN/RADAR BANJARMASIN
MENGANYAM: Jainatur Rahmah (kanan) sedang menganyam tas purun di teras rumahnya di Kelurahan Palam, Minggu (15/10) siang. | FOTO: BAYU ADITYA RAHMAN/RADAR BANJARMASIN
Saat pandemi covid berakhir, kerajinan berbahan purun di Kumpung Purun peminatnya kembali banyak. Kini para perajin semakin rajin menganyam.

Oleh: BAYU ADITYA RAHMAN, Cempaka


Di teras rumahnya, di RT 05, RW 02 Jainatur Rahmah tampak cekatan menarik dan merapikan lembaran purun yang sedang diolahnya.

Dia bersama warga lainnya di Kampung Purun,Kelurahan Palam,Kecamatan Cempaka setiap hari menganyam purun untuk memenuhi permintaan pemesan.

"Alhamdulillah banyak pesanan dari beberapa daerah. Bahkan ada dari Kalteng," kata Rahmah saat ditemui Radar Banjarmasin, Minggu (15/10).

Setelah pandemi covid mulai berakhir dan aktivitas keluar rumah sudah diperbolehkan, pesanan kerajinan purun memang ikut membaik hingga sekarang.

"Kami bersyukur bisa melalui masa sulit itu, sekarang sudah normal untuk produksi dan penjualannya," syukurnya.

Selain itu, bahan baku purun sejenis rumput anggota famili teki-tekian juga mudah didapatkan di Palam. "Lokasi mencari purunnya ada di danau di sekitar sini," ujarnya.

Bahan baku prun itu kemudian diberi pewarnaan saat proses setengah penumbukkan, lalu kemudian direndam dengan air mendidih.

"Paling 15 menit direndam, lalu dikeringkan di tempat teduh seharian. Selanjutnya ditumbuk lagi sebentar untuk meratakan. Setelah itu sudah bisa dianyam," beber Rahmah.

Dengan proses yang cukup panjang itu, Rahmah berharap agar anak muda mau melirik jadi perajin purun, supaya kerajinan ini tetap bertahan.

"Terkadang anak muda gengsi, dan memang menganyam ini pekerjaan melelahkan, tapi bagi saya yang sudah terbiasa akan suka dengan kegiatan ini," ujarnya.

"Apalagi sekarang nilai ekonomisnya tinggi, bahkan bisa jadi kerjaan utama bukan sampingan lagi," ungkapnya. (ij/ris) Editor : Arief
#kerajinan tangan