Oleh: FADLAN ZAKIRI, Banjarbaru
WENTIRA berada di tengah hutan antara Kota Palu dan Kabupaten Mutong di Sulawesi Tengah.
Sepuh desa di sana mempercayai keberadaan kota gaib ini. Mereka menceritakan tentang pesanan misterius dari Wentira. Para kurir pemula pasti akan kebingungan mencari alamat yang tercantum di paket.
Biasanya, penduduk setempat akan menyuruh mereka meninggalkan paket itu di tugu yang menandai gerbang masuk Wentira. Ditinggalkan begitu saja.
Cerita itu dituliskan dalam Wentira Kota Gaib, karya terbaru Randu Alamsyah, sastrawan beken Kalsel.
Bagi orang Banjar, Wentira memang kalah populer dengan Saranjana, legenda kota gaib dari Kabupaten Kotabaru.
Meski kalah eksis dengan Saranjana, misteri Wentira ini membuat Randu tergugah.
"Aku melihat pembaca horor tumbuh stabil di Indonesia," kata pria asal Luwuk Banggai yang sekarang tinggal di Banjarbaru ini.
"Semacam mitos lokal yang sekarang mulai menasional," tambahnya.
Sebenarnya, naskah novel ini sudah ditulisnya di Wattpad sejak 2020 lalu. Namun karena kesibukan, buku ini sempat mandek dua tahun.
Pada awal 2023, Randu iseng mengirimkan bab pertamanya ke penerbit. Ternyata penerbit bersedia menerbitkan, asalkan dirampungkan dalam sebulan.
Berat? Bagi Randu, menulis buku setebal 288 halaman dalam 30 hari adalah hal biasa. "Tapi pas otak lagi lancar aja," seloroh Randu.
Untuk bahan novel ini, Randu mewawancarai banyak narasumber, termasuk orang tuanya sendiri.
Tak bikin merinding? Randu menggeleng. "Sudah biasa dengar cerita seram. Dulu aku juga biasa lewat lokasi itu," kisahnya.
Dalam mitos rakyat ini dituturkan, di sana ada peradaban super maju. Gedung-gedung menjulang berkilauan.
Apakah ia percaya? "Aku percaya ada banyak dimensi di alam ini. Alam riil kita hanya salah satu dimensi," jelasnya.
Namun, Randu melihat, beberapa urban legend memang dipertahankan untuk motivasi politik atau pelestarian lingkungan.
"Agar tak ada yang berani merambah hutan di sana, jadi disebarkan cerita seram. Atau memang sebenarnya ada, tapi kita nggak bisa melihatnya? Wallahualam," tukasnya.
Randu konsisten di genre horor karena ia melihat prospeknya cerah. "Novel horor punya dua keuntungan: diterbitkan dan difilmkan," ujarnya.
Ia tak omong kosong. Buktinya, novel horor pertamanya sudah dibeli oleh sebuah production house (PH) terkenal.
"Mungkin sekarang sedang proses syuting. PH ini bahkan meminta dua naskah horor lagi. Sudah di-booking sebelum ditulis."
"Itulah alasanku menekuni penulisan profesional. Itulah alasan utamaku berhenti bekerja di media," sambungnya.
Salah satu karya Randu yang dibeli untuk difilmkan menceritakan tentang Hotel A di Banjarmasin. Judulnya Kamar Terakhir Baru Saja Dipesan.
"Untuk risetnya aku langsung ke sana, mewawancarai karyawan hotel," pungkasnya. (gr/fud) Editor : Arief