Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Zafry Zamzam Sang Manusia Komplet: Telur Dadar Dibagi 14 Potong

Arief • Kamis, 17 Agustus 2023 | 10:27 WIB
KALIMANTAN BERDJUANG: Berdiri kiri ke kanan: Siti Chasrimunah, Zafry Zamzam, Yusni Antemas, Zainal, Aliansyah Luj, A Gafar. Berjongkok: Artum Artha, anak-anak, Abdul Gani (loper), Arifin.
KALIMANTAN BERDJUANG: Berdiri kiri ke kanan: Siti Chasrimunah, Zafry Zamzam, Yusni Antemas, Zainal, Aliansyah Luj, A Gafar. Berjongkok: Artum Artha, anak-anak, Abdul Gani (loper), Arifin.
Zafry Zamzam  (1918-1972) adalah manusia yang lengkap. Beliau seorang guru, wartawan, politikus, rektor, ulama, dan pejuang. Rasa-rasanya, Banua tak pernah lagi memiliki tokoh sekomplet Zafry.

***


BANJARBARU - Zafry Zamzam adalah anak sulung dari sepasang petani. Ayahnya Zamzam bin Barnul, ibunya Idjum binti Fasat.

Lahir pada 15 September 1918 di sebuah desa kecil bernama sirih di Kandangan. Nama aslinya adalah Muchammad Jafri.

Pagi hari, Zafry kecil sekolah di Vervolk School (Sekolah Rakyat) di Kalumpang. Sorenya belajar di madrasah di Sirih.

Pada usia 12 tahun, Zafry melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Bantu (SGB) Kandangan. Sambil mengajar pada Sekolah Islam Sirih dan Sekolah Rakyat Negeri 3 Kandangan.

Sejak 1931, Zafry terlibat dalam pergerakan politik. Terutama sejak bergabung dengan organisasi Musyawaratut Thalibin.

Di kalangan pergerakan ia biasa dipanggil Bung Zafry. Di kalangan santri ia kerap disapa Buya Zafry.

Lulus dari SGB pada 1935, ia masuk Pesantren Darussalam di Martapura. Lalu mondok di Pesantren Modern Djetis Gontor di Ponorogo.

Pada 1937, sepulang dari Gontor, Zafry menjadi guru di Alabio, Hulu Sungai Utara.

Setahun kemudian menyunting Siti Kustaniah, putri Kiai Abdul Muthi Hamawang. Dara 15 tahun ini alumni Sekolah Islam Wasah.

Selama 34 tahun berumah tangga, lahir 11 anak. Delapan laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama mereka meninggal pada 1939.

Kisah masa kecil ini ditulis anak nomor tujuh, Fakhri Zamzam dalam buku berjudul 'Zafry Zamzam Waja Sampai Kaputing' setebal 165 halaman.

Anak nomor sembilan, Fiqhy Zamzam menceritakan, ayahnya sangat mengutamakan dan mementingkan pendidikan.

"Saya ingat betul, yang paling ditekankan selalu soal pendidikan. Beliau selalu bilang kami harus selesai dalam menuntut ilmu," ungkap Fiqhy sambil menyeka air matanya.

"Abah selalu mengingatkan, jangan pernah putus sekolah. Bagaimana pun beratnya kondisi," imbuhnya.

Penghasilan Zafry sebagai pengajar tentu tak seberapa. "Walaupun abah seorang dosen, hidup kami tetap sederhana. Bahkan bisa dibilang sulit. Bayangkan, telur dadar dicampur tepung lalu digoreng dan dibagi 14 supaya semuanya kebagian," kenangnya.

"Kadang ada saja keributan ringan. Gara-gara ada yang mengambil dua potong telur. Dan abah menghadapinya dengan bijak. Bukan amarah, tapi nasihat yang keluar dari mulutnya. Sama juga dengan umi (ibu)."

Jika punya waktu luang, Zafry akan duduk di teras. Membaca buku atau koran di atas kursi goyang.

Kalau tidak membaca, berarti mengobrol dengan tetangga. "Rumah kami bersebelahan dengan Pak Van der Pijl. Sore-sore biasanya mereka ngobrol santai sambil bertukar pikiran," kisahnya.

Van der Pijl adalah arsitek Belanda yang merancang Kota Banjarbaru.

Buku-buku Zafry kemudian dihibahkan keluarga ke Pondok Pesantren Darul Hijrah di Cindai Alus.

"Nama abah sampai dijadikan nama perpustakaan di sana," tutup Fiqhy.

Anak angkat Van der Pijl, Rico Hasyim juga mengakui kepedulian Zafry Zamzam terhadap pendidikan.

Photo
Photo
MENGENANG: Fiqhy Zamzam, anak kesembilan Zafry Zamzam, memperlihatkan album foto tua milik ayahnya kepada Radar Banjarmasin. | FOTO: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN

Dia ingat, ketika sedang bermain dengan anak-anak Zafry, ia kerap dipanggil. Hanya untuk ditanya soal sekolahnya.

"Sambil memegang buku di kursi goyangnya, Pak Zafry pasti menanyakan hal itu ke setiap teman bermain anaknya. Termasuk saya," katanya.

"Perkataan beliau yang paling saya ingat adalah sekolah itu harus tuntung (selesai). Karena tanpa pendidikan, seorang manusia tidak akan menjadi manusia," kenangnya.

Selain dosen, Zafry juga dikenal sebagai seorang ustaz yang rutin mengadakan majelis taklim.

"Makanya pas beliau wafat, semua warga Banjarbaru datang mengantarkan jasad beliau," kata Rico.

Rela Gadai Sawah Agar Majalah Bisa Terbit


SELAIN menjadi guru, semasa muda, Zafry Zamzam juga seorang wartawan. Ia pendiri Republik. Majalah yang berpusat di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.



Seperti namanya, ini media anti kolonial. Dalam edisi perdananya, terbit pada 17 Agustus 1946, majalah ini memuat lengkap teks proklamasi dan susunan kabinet RI yang pertama.

Itu seakan menegaskan dan mengingatkan masyarakat tentang proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan Sukarno dan Hatta setahun sebelumnya di Jakarta.

Peneliti sejarah di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalsel, Wajidi mengatakan, Republik juga terkenal berani memuat artikel yang menyerang tokoh-tokoh yang memihak Belanda.

"Isi pemberitaannya juga kerap menentang federalisme," jelasnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (15/8) malam.

Akibat aktivitas politiknya, Zafry dan rekan-rekannya kerap diteror. Puncaknya pada 1948 ia ditangkap Belanda.

"Penangkapan Zafry Zamzam mengakibatkan tak ada lagi tenaga penggerak majalah Republik yang berani menanggung risiko sebesar itu," jelasnya.

"Kendati demikian, majalah itu mampu bertahan selama dua tahun lebih," tambahnya.

Keluar dari penjara, Zafry tak kapok menjadi jurnalis. Pada 1949-1950, bersama Yusni Antemas, ia memimpin dewan redaksi Kalimantan Berdjuang.

Surat kabar ini berkantor di Jalan Musyawarah, Kandangan. Tiga bulan kemudian pindah ke Banjarmasin. Persisnya di perempatan Kertak Baru, kini Jalan Haryono MT.

Politik redaksi Kalimantan Berdjuang ini jelas: mendukung negara kesatuan dan menolak negara serikat.

Awak redaksi bahkan buka-bukaan menyatakan dukungannya pada perjuangan yang dipimpin Letkol Hasan Basry.



Perang gerilya itu dilaporkan secara berseri lewat judul Surat-Surat dari Hulu Sungai: Meninjau Daerah Gerilya dari Dekat.

"Beliau juga meliput kondisi pengungsi yang berada di luar daerah Kandangan," ungkapnya.

Imbas reportase itu luar biasa. Zafry menggelorakan semangat para pembacanya. Kekuatan tulisan Zafry terletak pada detailnya.

Hingga Zafry memberitakan keadaan Banua sesudah Proklamasi 17 Mei 1949. "ALRI dilaporkan dengan sangat menonjol. Bisa berkuasa di atas tanah jajahan. Laporan itu sontak dibaca banyak pihak luar. Dalam hal ini oleh pusat pemerintahan Indonesia," tutur Wajidi.

"Itu semua berkat berita Kalimantan Berdjuang. Dan penulisnya sering kali adalah Zafry Zamzam," tekannya.

Zaman itu, berjuang lewat pers merupakan pilihan nekat. "Sebelah kaki laksana sudah berada di dalam penjara," tulis Wajidi.

Zafry Zamzam tak sendirian. Wartawan lain juga pernah diinterogasi, ditangkap, dan dibui.
"Contoh Anang Abdul Hamidhan. Ia tokoh wartawan yang telah merasakan pahit getirnya penjara. Sampai tiga kali masuk bui."

Sebagai wartawan, Zafry dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian. Suatu waktu ia pernah berkata, tak masalah dirinya dipenjara, diintimidasi, atau korannya dibredel. Selama apa yang dilaporkannya merupakan kebenaran.

"Bagi beliau, pemberitaan tentang perjuangan kemerdekaan wajib terus dimuat."
Zafry juga rela mengorbankan hartanya agar berita yang ditulisnya sampai ke tangan pembaca. Ketika hendak mencetak majalah Republik, Zafry sampai menggadaikan sawah miliknya.

"Sangat luar biasa. Beliau memiliki dedikasi yang tinggi terhadap profesinya," tegas Wajidi.

"Zafry adalah contoh nyata tentang seseorang yang berani, ikhlas, dan jujur untuk profesi yang dilakoninya," pungkasnya. (zkr/war/gr/fud)

https://radarbanjarmasin.jawapos.com/banua/17/08/2023/zafry-zamzam-menolak-konsep-negara-islam-enggan-dikuburkan-di-taman-makam-pahlawan/ Editor : Arief
#Tokoh #Sejarah Banua