Penulis: WAHYU RAMADHAN
Hampir tak ada lagi yang tersisa dari luas tanah pekarangan rumahnya di Kompleks Ahmad Yani 1, Kelurahan Pengambangan Kecamatan Banjarmasin Timur itu. Kecuali jalan setapak selebar satu meter. Pekarangan sudah tampak sesak dengan ratusan bibit buah lokal.
Terbagi dalam 14 ragam bibit buah. Kapul, mangga kuini, hampalam, limau (jeruk) kuit, kasturi, gitaan, dan buah lainnya seperti berebut tempat.
Tinggi bibit buah beragam. Dari yang paling kecil seukuran cangkir, hingga bibit yang tingginya mencapai lebih dari empat meter.
Selain membuat rimbun pekarangan, kondisi itu juga membuat rumah bernomor 38 yang ditempati Bambang Karyanto beserta keluarganya tak begitu tampak. "Tapi, rumah ini justru paling mudah ditemukan. Karena banyaknya tumpukan bibit-bibit ini," ucapnya, lantas tersenyum.
Sudah lima tahun belakangan, Bambang menggeluti hobi 'menumpuk' bibit buah itu. Selain mengusung tema kelokalan, Bambang juga mengumpulkan bibit buah yang kini jarang terlihat. Ketika dikunjungi Radar Banjarmasin pada Senin (3/7) pagi, kakek tujuh cucu itu tampak bangga memperlihatkan bibit yang dikumpulkannya.
Salah satunya adalah bibit buah kasturi. Tingginya hampir satu meter. "Di Banjarmasin, pohon kasturi sudah sangat jarang ditemukan. Mungkin tak ada lagi. Padahal pohon ini bisa menjadi maskot," ujarnya.
"Buah kasturi perlu dilestarikan, hanya ada di Kalsel. Jangan sampai justru malah diklaim orang, baru ribut," tekannya.
Terakhir kali Bambang melihat pohon kasturi pada tahun 2022 lalu. Usianya diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Lokasinya ada di kawasan Lok Baintan, Kabupaten Banjar.
Sebuah kawasan yang berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Banjarmasin. Tempat di mana Pasar Terapung masih eksis. "Pohon kasturi itu sudah tampak tumbang akibat banjir. Tapi, masih hidup dan berbuah. Sudah dijaga oleh tiga generasi," ungkapnya.
"Mengapa bisa saya pastikan usia pohon kasturi itu lebih dari 100 tahun? Cucu si pemilik pohon yang saat ini menjaganya saja sudah 47 tahun," bandingnya. "Orang-orang mungkin masih bisa menikmati buahnya. Tapi, tidak pernah melihat pohonnya," jelasnya.
Selain bibit kasturi, lelaki kelahiran 28 Juli 1958 itu juga memperlihatkan bibit buah gitaan. Bibit yang satu ini diletakkan cukup eksklusif. Letaknya tidak di pekarangan. Tapi di dalam rumahnya. Tinggi bibit juga sekitar satu meter.
"Dari sepuluh bibit, hanya dua yang bisa bertahan. Makanya saya masukkan ke dalam rumah," ungkapnya.
Gitaan juga buah asli Kalimantan. Tak ada di kawasan lain. "Kalaupun ada, hanya di Sabah dan Serawak. Tapi, itu kan masih satu pulau dengan kita. Borneo," tekannya.
Dituturkan Bambang, bibit buah gitaan tak bisa terlalu terpapar terik matahari. Tidak bisa pula terlalu berada di kawasan rimbun, atau tanah becek. "Bibit ini, ketika usianya mencapai tiga hingga empat tahun, sudah berbuah. Sekali berbuah, akan terus berbuah terus menerus. Tak habis-habis," jelasnya.
Ukuran buah hampir sebesar genggaman orang dewasa. Kulit luarnya hampir mirip sawo. Dengan ketebalan dalam daging berwarna putih yang cukup tebal. Sedangkan buah dalamnya berwarna jingga.
"Jumlah buah di dalamnya itu bisa lima atau lebih. Rasanya manis dan sedikit asam. Ada rasa susu juga. Jadi, saya rasa seperti ada tiga rasa dalam satu buah," jelasnya.
Di sisi lain, Bambang juga menjelaskan bahwa oleh peneliti buah-buahan, gitaan mendapat julukan sebagai buah surga. Itu lantaran rasanya yang beragam. "Kalau saya tidak keliru, ada peneliti dari Belanda juga," ungkapnya.
"Katanya, memakan buah itu jangan khawatir dikeluarkan dari surga. Seperti halnya ketika mengonsumsi buah khuldi. Saya pikir celoteh yang cukup satir," ujarnya, kemudian terkekeh.
Terlepas dari ragam bibit jenis buah yang ada di kediamannya, ada satu hal yang ingin ia tekankan. Hobi yang digelutinya murni untuk edukasi dan pelestarian.
"Saya perkenalkan ke sekolah-sekolah atau pesantren. Kemudian ke lingkungan tempat tinggal saya pribadi. Ada pula saya tanam langsung di pinggir-pinggir jalan," jelasnya.
Meskipun setelah ditanamnya, justru malah sering hilang. “Mungkin ada yang kepengin," ungkapnya, lantas terkekeh.
Siapa saja bila berminat terhadap bibit buah lokal yang ada, Bambang siap memberikannya secara gratis. "Saya hanya tidak ingin buah lokal ini justru hilang," tekannya.
Lalu, dari mana ia mendapatkan bibit buah itu? Bambang mengaku membelinya dari berbagai tempat. Dengan merogoh kantong pribadi.
"Saya beli semampu saya. Bibit yang ada di depan itu saja, bila dinominalkan bisa sampai Rp17 juta. Kalau lagi pengin tapi saa tiu tak ada duit, ya saya mengutang ke menantu," ungkapnya, lalu terkekeh lagi.
Bambang mengaku tak rugi walau bibit yang dibeli dengan uang pribadi, kemudian dibagikan secara cuma-cuma. Ia hanya menganggap semuanya adalah hadiah.
Pekarangannya pun juga tak pernah kosong. Selalu saja ada bibit buah. "Biarlah nanti, hal itu menjadi urusan saya dengan Tuhan. Saya tidak ingin berurusan dengan manusia," ucapnya. Sekali lagi, menurutnya, semata-mata untuk pelestarian dan edukasi.
Sempat Ditentang Keluarga
Sejauh ini, setidaknya sudah puluhan ribu bibit buah yang dibagikan Bambang secara cuma-cuma. Tidak hanya bagi masyarakat yang berada di Kalsel. Namun, juga hingga ke luar daerah. "Di Ibu Kota Nusantara (IKN), Provinsi Kaltim, saya juga menyumbang ribuan bibit buah. Selain itu, ada juga bibit pohon ulin (kayu besi, red)," ungkapnya.
Banyaknya bibit yang dibeli, dikumpulkan, lalu dibagikan secara cuma-cuma, ternyata juga pernah mendapat pertentangan dari pihak keluarga. "Istri dan anak saya protes. Duit saya habis hanya untuk beli bibit, lalu dibagikan gratis," ungkap Bambang, lantas tergelak.
Seiring berjalannya waktu, protes justru berubah menjadi dukungan. Niat untuk pelestarian dan edukasi yang tinggi justru meluluhkan hati keluarganya. "Malah sekarang, anak dan istri saya mendukung," ucapnya.
Hal itu dibenarkan sang istri, Ratna Wilis. "Walaupun masih banyak keterbatasan. Kami anggap upaya yang dilakukan ini adalah amal jariah," ujar perempuan 61 tahun itu. "Kami tidak menjual bibit. Yang mau, silakan ambil. Dengan syarat, ditanam dan dirawat," tambahnya.
Lantas, mengapa harus buah, bukan bibit pohon biasa? Bambang mengatakan, buah lebih banyak manfaatnya. Bukan sekadar penghijauan saja. "Buah bisa dinikmati. Di sisi lain, di Banjarmasin sendiri penghijauan sudah cukup banyak. Sementara untuk buah-buahan, tak begitu banyak," bandingnya.
Perhatian pemerintah terhadap buah-buahan lokal pun dirasakannya masih minim. "Kurang peduli, masih berkutat pada penghijauan. Berkutat pada aturan pusat. Hanya sebatas wacana memasifkan buah lokal. Minim eksekusi," tegasnya.
Pada intinya, Bambang menekankan edukasi. Ia bilang masih banyak yang tak tahu tentang buah lokal. Dalam hal ini, ia menuturkan salah satu kisah menarik. Suatu waktu, ia mengaku pernah melayangkan protes ke salah satu pabrik mi instan terkenal.
"Mi instan itu memakai kemasan bertuliskan limau (jeruk) kuit. Tapi yang dipasang justru gambar jeruk nipis," tuturnya.
"Heboh. Kepala cabangnya datang ke rumah saya. Menjelaskan ketidaktahuan mereka karena yang bikin kemasan adalah pabrik pusat," ucapnya.
"Saya jelaskan, ini limau kuit, dan ini limau nipis. Akhirnya, mereka mengerti. Kemudian mereka memboyong lima bibit limau kuit dari sini" ungkapnya. "Saya dengar, kini mereka juga menanam limau kuit. Saya sangat bersyukur untuk itu," tekannya.
Menurut Bambang, kekeliruan seperti itu mungkin biasa bagi orang lain. Tapi, masyarakat lokal yang tahu, semestinya haruslah peduli. "Terus terang, saya tidak marah. Tapi, itu perlu diluruskan," tegasnya.
"Saya hanya tidak ingin, generasi mendatang justru lebih tahu tentang anggur dan apel. Ketimbang kasturi dan gitaan," tekannya. "Atau lebih mengenal pizza, ketimbang kue lempeng dan untuk," pungkasnya.(az/dye) Editor : Arief