Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tekad Tanjung Pagar Raih Juara Maharagu Sungai: Ajak Warga, Terkendala Jamban

Arief • Selasa, 4 Juli 2023 | 08:21 WIB
Aina, Lurah Tanjung Pagar
Aina, Lurah Tanjung Pagar
Mempertahankan gelar juara sering tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Kelurahan Tanjung Pagar bertekad menangkan lomba Maharagu Sungai 2023.

Oleh: ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.


Banjarmasin banyak terdapat sungai. Itu sesuai julukannya sebagai Kota Seribu Sungai. Apalagi banyak rumah panggung berdiri di tepi sungai. Namun, dampaknya juga banyak sampah yang dibuang masyarakat.

Lomba Maharagu Sungai digelar Pemko Banjarmasin sebagai upaya mengembalikan fungsi, serta mengurangi kerusakan sungai. Kelurahan Tanjung Pagar akan kembali mengikuti lomba itu tahun ini. “Semoga bisa menang seperti tahun sebelumnya. Doakan ya,” tutur Lurah Tanjung Pagar, Aina.

Wanita kelahiran Banjarmasin, 15 September 1969 ini mengatakan kelurahan yang dipimpinnya sudah dua kali mengikuti Lomba Maharagu Sungai. Tahun 2018, juara pertama se-Kota Banjarmasin. Tahun 2019, juara satu se-Kecamatan Banjarmasin Selatan. Sedangkan 2022, juara 2 tingkat Kota Banjarmasin. 2020-2021 absen lantaran Covid-19.

“Tahun ini, kami akan berupaya bersama-sama warga supaya bisa juara satu lagi,” ucapnya.

Aina sudah mengumpulkan ketua RT setempat. Termasuk para warga di area sungai yang akan diikutkan lomba. Diskusinya tentang langkah yang akan dilakukan.

Jika sebelumnya melibatkan warga RT 12. Tahun ini, gantian warga RT 21. Sungainya masih tetap, Sungai Tatah Belayung. “Saya sudah ngobrol dengan Ketua RT dan warga,” tutur ibu dua anak ini.

Lantas, sejauh mana persiapan yang dilakukan? Aina menyebutkan ada 14 kriteria yang menjadi penilaian dari tim juri. Di antaranya penilaian peran pemangku sungai mengajak warga setempat untuk ikut memelihara sungai. Harus ada pula gerakan kebersihan lingkungan dari sampah.

Penilaian lainnya, berapa orang dalam kelompok tersebut yang terlibat. Perencanaannya bagaimana? Penghijauan lingkungan seperti apa? Bagaimana pula perubahan fungsi sungai dari sebelum, dan sesudah lomba.



Soal administrasi serta kelembagaan di kelompok maharagu sungai yang dipimpin pemangku sungai juga tidak luput dari penilaian. Dinilai juga inovasi yang mengarah pada kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Aina mengaku beruntung sikap gotong royong warga di Kelurahan Tanjung Pagar tergolong tinggi. Jadi, tidak terlalu sulit menggerakkannya. Apalagi didukung Ketua RT yang aktif. Hampir semua yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan lancar.

Memang ada yang masih belum beres. Soal jamban. Di Sungai Tatah Belayung masih terdapat 6 jamban. Ada yang masih digunakan warga, ada juga tidak.

Menurutnya, mengubah kebiasaan warga buang air besar (BAB) di sungai itu gampang-gampang susah. Tapi, ia optimis bisa menyelesaikan.

“Jamban yang tidak digunakan warga, masih berdiri. Warga beralasan, bisa digunakan kalau ada warga atau pengendara melintas yang kebelet. Makanya tidak dirobohkan,” ujarnya.

Jika merobohkan jamban, otomatis harus mengganti dengan WC? Pengalaman sebelumnya, warga sebenarnya bisa membangun secara mandiri. Sedangkan yang tidak mampu, akan dibantu. Tidak harus mahal, asalkan memenuhi standar, dan bisa digunakan.

Menurutnya, tidak semua warga itu yang tak mampu membangun WC. Paling hanya satu atau dua saja. “Kami berharap ada bantuan CSR dari perusahaan. Di Tanjung Pagar ini tak ada perusahaan, hanya pengembang perumahan,” tutup Aina.(az/dye) Editor : Arief
#Feature Politik