Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Begini Sensasi Menginap Satu Malam di Vila Pantai Gedambaan Kotabaru

Muhammad Helmi • Kamis, 22 Juni 2023 | 12:07 WIB
TENANG: Vila di Pantai Gedambaan bergaya western minimalis ini menawarkan suasana berbeda bagi para wisatawan. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN
TENANG: Vila di Pantai Gedambaan bergaya western minimalis ini menawarkan suasana berbeda bagi para wisatawan. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN
Bagi pasangan baru yang ingin berbulan madu, vila di Pantai Gedambaan bisa jadi pilihan. Malam romantis Anda akan dihibur nyanyian ombak dan lampu-lampu nelayan.

Zalyan Shodiqin Abdi, Kotabaru

Jaraknya sekitar setengah jam dari pusat kota. Menuju ke sana, kita akan membelah punggung pegunungan Sebatung. Di perjalanan mata sudah dilenakan hijau pepohonan di kanan, dan birunya laut di sebelah kiri.

Makin dekat Gedambaan, semakin rapat pohonnya. Makin tercium aroma garam lautnya. Pohon kelapa bergoyang-goyang seperti tarian selamat datang.

Sampai Gedambaan, kita harus merogoh kocek. Bayar tiket masuk, Rp20 ribu.

Sampai sini sebenarnya sudah bisa menikmati panorama pantai dan pegunungan di satu titik. Juga menjajal menu khas pesisir seperti ikan bakar, pentol ikan, kelapa muda, dan seterusnya. Plus berenang sepuasnya.

Tapi, bagi pasangan muda yang sedang berbulan madu bisa merogoh kocek Rp350 ribu untuk menginap di vila utama. Sebenarnya vila belakang lebih murah, Rp250 ribu. Tapi tambahan selembar uang Soekarno Hatta itu setimpal.

Vila belakang bangunan lama. Seperti pondok. Kabar terbaru, bangunan lama itu sekarang sudah diroboh. Direnovasi seperti bangunan baru di depannya. "Kami enggak bisa transfer. Harus cash, tambah deposit jadi Rp500 ribu," ujar kasir kepada penulis akhir pekan tadi.

Kunci pun diberi, plus kata sandi wifi-nya. Di pantai signal internet seperti kapal nelayan kecil di tengah gelombang laut tinggi. Timbul tenggelam.

Penulis dan rekan berjalan kaki menuju vila. Rumah-rumah mungil itu terpisah jalan semen yang hanya muat dilewati satu unit kendaraan roda empat. Atap rumahnya teduh dipayungi pohon-pohon besar berusia puluhan tahun.

Vila itu punya beranda menghadap persis ke laut. Ada dua kursi kayu dan sebuah meja ringan. Saat membuka pintu, jelas mata langsung tertumpu pada sofa empuk di depan TV LCD 32 inch.

Di belakang sofa, ranjang ukuran king seperti menyapa ramah punggung yang lelah. Coba periksa kamar mandinya. Bersih. Ada bak, dan pancuran. Juga blower yang bisa diatur arah angin dengan cara menarik-narik talinya. Arah ke dalam, tarik satu kali. Arah angin keluar, tarik dua kali. Tarik tiga kali: off.

Rekan penulis menemukan sisa mi instan jenis mangkuk di tempat sampah dekat lemari pakaian. "Mungkin petugasnya kelupaan membuang," ujarnya.

Saat itu hari jelang sore. Es kelapa muda dipesan, ditambah dua mangkok bakso. Rasa baksonya sebenarnya biasa saja. Tapi, suasananya yang oke punya.

Jarak pantai ke vila sekitar seratus meter. Masih bisa mendengar suara ombak dan melihat birunya laut. Di depan horizon berjejer bagan-bagan nelayan Desa Sarangtiung.

Jelang senja, suasana hangat tadi berubah romantis. Lampu-lampu berwarna kuning memintal batang-batang dan ranting pohon. Di atas pucuk pohon, ramai suara burung berebut tempat tidur. Intinya: momen paling tepat membuat reel Instagram.

Ketika cahaya lampu benar-benar hilang di horizon, muncullah pendar-pendar lampu bagan para nelayan. Seperti kumpulan kunang-kunang. Penjaga pantai secara berkala patroli dengan roda duanya. Kehadirannya membuat rasa aman.

Lepas Isya, kembali ke realita. Perut lapar. Pemandangan indah malam di pantai tidak mampu menutupinya. Di sinilah baru sadar, menginap di Gedambaan harus bawa bekal. Warung-warung makan tutup malam hari.

Terpaksa ke luar kompleks wisata. Pergi ke desa terdekat. Sekitar 10 menit berkendara, ada penjual nasi goreng di Desa Sarangtiung. Ketika kenyang, balik ke vila.

Sisa malam dihabiskan berjalan di pantai. Bercengkerama. Kembali ke vila, putar musik YouTube di smart TV. Nyanyian serangga di luar masih terdengar. Sunyi yang menenangkan. Benar-benar cocok untuk pasangan muda.

Kabid Wisata Kotabaru, Ronald bilang jika ingin menginap di akhir pekan, harus pesan sekitar sepekan sebelumnya. Vila itu tidak pernah kosong pada Jumat malam dan Sabtu malam. Penginap biasanya orang sudah berkeluarga. Mereka kadang panggang-panggang daging di sana.

Jika malam hari kerja, biasanya mudah cari vila kosong. "Untuk omzet daerah dari vila itu sekitar Rp10 juta per bulan," ujarnya.
Ke depan, pemerintah terus berupaya mengembangkan sarana prasarana di sana. Supaya orang semakin betah.

Kita tunggu. Tapi, apa yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup. Terkadang yang membuat orang suka kembali lagi justru karena ketenangannya.(gr/dye)
Editor : Muhammad Helmi
#Wisata Kalsel #Feature Wisata