Oleh: ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.
Penampilannya sederhana. Ia ramah dengan siapapun. Ketika diminta Radar Banjarmasin bercerita tentang pengalaman karirnya sebagai lurah, ia juga langsung setuju.
"Boleh-boleh," ucap Padli, yang saat ini menjabat sebagai Lurah Basirih, itu kemarin (6/6).
Di Banjarmasin, Kelurahan Basirih juga terkenal dengan kawasan bermasalah. Istilah bekennya, kawasan "Texas".
Kelurahan tersebut, dihuni sebanyak 24.000 penduduk. Hampir separo, adalah pendatang. Ada yang berasal dari Hulu Sungai, adapula yang berasal dari luar Provinsi Kalsel.
Mayoritas penduduk, pekerja pelabuhan. Bukan tanpa alasan, mengingat kelurahan ini cukup dekat dengan pelabuhan. Kehidupan di pelabuhan terkenal keras. Masalah kecil, bisa berujung perkelahian.
Persoalan intulah yang kerap dihadapi Padli.
Lelaki kelahiran Kotabaru, 13 Januari 1967 itu menuturkan, pernah suatu ketika, sepekan seusai ia menjabat sebagai Lurah Basirih, sebuah perkelahian terjadi.
Tak tanggung-tanggung, perkelahian itu bahkan merembet melibatkan penduduk antar rukun tetangga (RT) di kelurahan yang ditanganinya.
Perkelahian itu menurutnya dipicu adanya pemukulan terhadap seorang anak. Karena tak terima, keluarga si anak memboyong rekan-rekannya untuk melakukan penyerangan.
"Saya lupa tanggal kejadiannya. Yang saya ingat, sebulan lalu," ujarnya.
Meski belum terlalu mengenal medan, sebagai lurah, ia pun memilih langsung terjun ke lokasi kejadian.
Bersama seorang stafnya, ia mendatangi masing-masing keluarga korban yang bertikai. Guna mengetahui akar permasalahan.
"Saat itu, kedua keluarga yang bertikai itu sama-sama ngotot," ujarnya.
Di sisi lain, seperti yang diungkapkan sebelumnya, kedua belah pihak juga melibatkan banyak warga.
Kendati demikian, Padli mengaku harus tetap tenang dalam menghadapi berbagai permasalahan.
Sadar tak bisa didamaikan dengan cara demikian singkat, Padli pun mengundang perwakilan keluarga dari kedua belah pihak ke kantor kelurahan, untuk dimediasi.
"Awalnya sempat panas, namun setelah diberikan solusi, akhirnya mereka bisa menerima," tuturnya.
"Mediasi sengaja dilakukan di kantor kelurahan biar netral. Alhamdulillah keduanya mau berdamai dan membuat surat pernyataan damai," jelasnya.
"Saat itu, saya juga dibantu Bhabinkamtibmas dan Babinsa," tambahnya.
Di sisi lain, kepiawaian Padli menjadi mediator dalam menangani permasalahan, tentu tak didapatnya secara instan.
Jauh sebelum menjabat sebagai Lurah Basirih, ia juga pernah menjabat sebagai Lurah Kelayan Luar. Kawasan ini, juga termasuk salah satu kawasan "Texas" di Banjarmasin.
"Saya menjabat sejak tahun 2019 hingga 2023," ungkapnya.
Berpenduduk sebanyak 6.000 orang, kawasan itu dikenal dengan tingkat kriminalnya yang tinggi.
"Jadi, kasus perkelahian seperti ini sudah cukup sering saya tangani," ucapnya.
Bahkan menurutnya, bukan hanya perkelahian biasa. Ada yang sudah saling tikam senjata tajam.
"Padahal saat itu sudah ada polisi, tapi masih berani," kenangnya.
Bertahun-tahun menjadi lurah di wilayah rawan, juga membuat Padli piawai membaca persoalan yang terjadi di masyarakat.
Dari masalah yang ringan, berat, hingga persoalan kriminal.
"Semuanya yang kita jalani tentu ada hikmahnya," tandasnya. (az/war) Editor : Arief