Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Museum Kayuh Baimbai Diresmikan, Tapi Belum Bisa Dikunjungi

Arief • Kamis, 9 Maret 2023 | 08:17 WIB
DIRESMIKAN: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, didampingi jajaran unsur forkopimda, meresmikan Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin, kemarin (8/3). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
DIRESMIKAN: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, didampingi jajaran unsur forkopimda, meresmikan Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin, kemarin (8/3). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin diresmikan kemarin (8/3) siang. Dari segi arsitektur, mengadopsi Rumah Banjar tipe Palimbangan. Namun, bangunan seharga miliaran rupiah itu masih belum bisa dikunjungi.

Penulis: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin


Peresmian diiringi dengan penampilan Sinoman Hadrah. Tampak hadir di situ Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, beserta jajaran Forkopimda, juga SKPD terkait.

Hujan deras mereda, Ibnu langsung memberikan sambutan. Ia juga memberikan nama baru untuk museum itu. Dari yang semula bernama Museum Kota Banjarmasin, kini menjadi Museum Kayuh Baimbai. Ibnu mengatakan penamaan museum mesti mengikuti nomenklatur Museum Nasional Indonesia.

"Itu agar membuat museum ini tercatat dan menjadi bagian dari museum yang ada di Indonesia di Kemendikbud RI," jelasnya, ketika diwawancarai seusai peresmian.

Bangunan museum itu berdiri kokoh menghadap Sungai Martapura. Lokasinya berjarak selemparan batu dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Muara Kelayan, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Pembangunannya digagas oleh Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin. Dimulai sejak 23 Juni 2022, dan rampung di Desember 2022. Dana yang dikucurkan sebesar Rp3,8 miliar.

Jauh sebelum menjadi museum, bangunan itu dulunya adalah rumah milik warga setempat. Namanya, Syarifuddin. Berdasarkan hasil wawancara dengan Syarifuddin beberapa waktu lalu, dituturkannya bahwa ayahnya membeli rumah itu dari seorang saudagar.

Bentuk bangunan sedari awal memang Rumah Banjar bertipe Palimbangan. Mengapa Palimbangan? Menilik literatur kebudayaan Banjar, rumah tipe Palimbangan memang biasanya dihuni oleh kaum saudagar. Lokasi umumnya berada tak jauh dari sungai. Supaya memudahkan para saudagar mengangkut barang dagangan.

Belakangan, pemko tertarik untuk menjadikan rumah milik Syarifuddin itu sebagai museum. Selain karena bangunannya yang masih orisinal, juga lantaran lokasinya yang strategis. Pada periode tahun 2018 hingga 2019 lalu, lahan berikut bangunan rumah dibeli oleh Pemko Banjarmasin.

Meski masih mengadopsi bentuk bangunan lama, kondisinya kini sudah berubah total. Semua bahan bangunan serba baru. Kecuali tiga buah teralis besi yang dipasang di bagian atas pintu masuk.

Photo
Photo
TERALIS KENANGAN: Tiga teralis besi yang sejak dulu hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian bangunan lama museum. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bangunan museum itu hanya satu lantai. Namun, ada banyak ruangan. Di bagian depan dan belakang, terdiri dari ruang pameran. Lalu di bagian tengah ada ruang untuk kurator, ruang reparasi, ruang rapat, hingga perpustakaan. Di sisi bangunan sebelah kanan, disediakan toilet.

Bagaimana isinya? Kemarin (8/3), baru hanya sebatas meresmikan rampungnya bangunan saja. Di dalam museum, belum ada koleksi benda-benda yang dipamerkan. Masih kosong melompong.

Kalau pun ada benda yang bernilai sejarah, sementara ini baru sebuah meriam yang diletakkan persis di halaman depan bangunan museum. Meriam sepanjang 2,9 meter itu ditemukan pada 8 Agustus 2016 lalu. Persis ketika ada proyek pembangunan jalan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Diduga, meriam itu diproduksi oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang merupakan persekutuan dagang terbesar asal Belanda.



Perihal keamanan, rasa-rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Tiap sudut, baik di dalam maupun di luar bangunan museum, banyak dipasang kamera pengawas alias CCTV. Lalu, juga ada pos penjagaan. Posisinya persis di halaman bagian kiri museum.

Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Iwan Fitriady mengatakan kelengkapan koleksi alias isi museum dirampungkan tahun ini. Sebagian yang akan ditempatkan adalah benda-benda milik ahli waris bangunan itu sebelumnya. Jumlah koleksinya ada lebih dari 500 buah.

Iwan mengaku lupa terkait anggaran yang dialokasikan untuk merampungkan koleksi berikut sarana prasarana penunjang lainnya. Kendati demikian, ia menyebut pengisian perlengkapan dilakukan bertahap per tiga bulan.

"Namun sebelum itu dilakukan, kami juga perlu menyiapkan tenaga kurator dan konservator terlebih dahulu. Jadi ada dua tenaga ahli nantinya," jelasnya.

Di bangunan museum juga belum terlihat adanya sarana prasarana bagi pengunjung berkebutuhan khusus alias difabel. Contoh sederhana, untuk masuk ke dalam museum hanya ada tangga yang berundak di terasnya. Tak ada jalur khusus untuk kursi roda atau guiding block alias jalur pemandu.

Dikonfirmasi hal itu, Iwan menyebut ini masukan yang bagus. Ia bilang pihaknya sudah ada pikiran untuk mengarah ke arah kelengkapan sarana prasarana pengunjung difabel.

"Nanti, mungkin pada saat melengkapi sarana prasarana, akan kami penuhi juga untuk teman-teman difabel," janjinya.

Lalu, apa hendak ditonjolkan pada museum itu? Kabid Kebudayaan di Disbudporapar Banjarmasin, Zulfaisal Putera bilang museum tidak hanya diisi benda-benda pusaka. Bisa pula koleksi dari masyarakat yang dititipkan kepada pihak museum. Selanjutnya memorabilia berupa koleksi benda-benda yang digunakan sebagai alat untuk mengenang suatu peristiwa atau seseorang.

Disiapkan juga arsip digital sejarah Banjar. Pengunjung yang menginginkan informasi yang berkaitan dengan sejarah Banjar bisa mengaksesnya di Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin. "Sementara, tiga hal itu tadi. Tapi yang menyeleksinya adalah kurator. Contoh, untuk benda pusaka, tidak semuanya masuk museum," ucapnya.

"Kalau bentuknya sama, tahunnya sama, cukup satu saja yang ditampilkan," jelasnya.

Begitu pula bila ada benda koleksi yang dianggap membahayakan secara spiritual. Menurutnya, hanya replikanya saja yang boleh dipajang atau ditampilkan. "Yang asli, biar disimpan ahli waris atau masyarakat bersangkutan. Jadi sekali lagi, ada kurator yang menentukan," ucapnya.

Photo
Photo
BANYAK RUANGAN: Salah satu sudut di bagian dalam Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Lalu, kapan masyarakat Kota Banjarmasin sudah bisa mengunjungi museum itu? Zulfaisal mengatakan baru bisa dilakukan pada tahun 2024 mendatang. Alasannya, karena masih banyak yang perlu disiapkan. "Terlepas dari itu, kami menambah satu lagi tempat atau pusat keramaian berbasis edukasi di Kota Banjarmasin," pungkasnya.

Pemilik Rumah Ikut Bahagia


Noryati tampak duduk bersandar di dinding bangunan Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin, kemarin (8/3). Dia istri Syarifuddin. Sang ahli waris rumah alias bangunan yang kini dibeli dan dijadikan Pemko Banjarmasin sebagai museum itu.



Ketika disambangi, perempuan 64 tahun itu tampak menyunggingkan senyum. Dia mengaku tak mampu menyembunyikan kebahagiaan serta kekagumannya. Ya, itu memang terbukti. Dari mulutnya, berulang-ulang terdengar ungkapan syukur. "Banyak sekali perubahan bangunan ini. Saya melihatnya tampak lebih bagus sekali," ucapnya.

Noryati menuturkan sejak muda sudah tinggal di rumah yang kini jadi bangunan museum itu. Dia juga masih mengingat jelas, bagian-bagian rumahnya itu. "Dahulu, rumah ini memiliki sepuluh kamar. Lima kamar di lantai bawah, lima kamar di lantai atas," ucapnya.

Apakah artinya dahulu rumah itu bertingkat? Jawabannya, tidak. Lima kamar itu dibangun belakangan. "Banyak keluarga yang datang dan menginap, maka ayah memutuskan membangun lima kamar tambahan," tuturnya.

"Zaman dahulu, jarang ditemukan penginapan atau hotel-hotel seperti sekarang," ujarnya perempuan yang kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Jalan Belitung itu.

Selain tampilan bagian depan, mayoritas bagian dalam ruangan museum tampak berubah total. Modern, namun masih ada ciri khas bangunan lama.

Yang mana ciri bangunan lama yang dimaksud Noryati? Dia menunjuk ke tiga buah teralis besi yang dipasang di atas pintu masuk. "Dari awal, teralis itu dipasang di situ. Tak pernah diutak-atik. Ketika bangunan ini dirombak total, teralis itu diamankan, dan kembali diminta untuk dipasang lagi," tuturnya.

"Bila melihat teralis itu, saya teringat masa-masa bangunan ini dahulunya. Banyak sekali kenangannya," ungkapnya.

Noryati berharap museum ini seperti bangunan terdahulu. Banyak mendatangkan atau didatangi orang-orang. "Bangunan yang bisa meningkatkan wawasan, serta berguna bagi masyarakat," harapnya.

Hal senada juga sampaikan Syarifuddin. Selain berharap menjadi sarana pendidikan, ia pun mengharapkan bangunan museum menjadi berkah pula untuk warga sekitar. "Saya dengar, dinas terkait juga ingin menjadwalkan kunjungan rutin tiap pekan bagi siswa-siswi sekolah. Semoga ada banyak manfaat ke depannya," harapnya.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan museum adalah bagian dari sebuah peradaban kota. Siapapun yang datang ke Banjarmasin dan ingin tahu sejarahnya, bisa datang ke museum.

"Di sini nantinya, akan ada arsip file digital yang sifatnya sangat-sangat bersejarah. Apakah nanti akan kami minta dari Museum Nasional Indonesia, maupun museum di Belanda yang menyimpan sejarah Banjar," ungkapnya.

"Akan kami upayakan agar bisa menjadi koleksi Museum Kayuh Baimbai Kota Banjarmasin," pungkasnya.(war/az/dye) Editor : Arief
#Bangunan Bersejarah #Museum Kota #museum #benda bersejarah #Sejarah Banua