Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Gelaran Hasan Basry Tetap Merdeka: Bapak Gerilya Kalimantan

Arief • Senin, 13 Februari 2023 | 10:36 WIB
ANGKAT SENJATA: Hasan Basry (tengah) memimpin pasukan melawan penjajah Belanda. Pementasan bertajuk Sendratasik Berkarya XII ini digelar di Taman Budaya Kalsel, Jumat (10/2) malam. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin
ANGKAT SENJATA: Hasan Basry (tengah) memimpin pasukan melawan penjajah Belanda. Pementasan bertajuk Sendratasik Berkarya XII ini digelar di Taman Budaya Kalsel, Jumat (10/2) malam. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin
Suasana Balairungsari Taman Budaya Kalsel mendadak hening, Jumat (10/2) malam itu. Laiknya mesin waktu, pengunjung diajak kembali ke tahun 1945. Masa di mana Kalimantan belum merdeka.

Ya, tahun itu, Kalimantan memang belum merdeka. Berdasar pada Perjanjian Linggarjati pengakuan Belanda atas kekuasaan Republik Indonesia (RI) hanya sebatas Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera.

Sementara di Banua, perjuangan sendiri belumlah usai. Pergolakan di mana-mana. Meski proklamasi kemerdekaan dikumandangkan dan terdengar hingga ke Kalimantan.

Di masa itulah, Hasan Basry tampil sebagai pesohor. Menghimpun kekuatan, melakukan perlawanan. Pendirian Laskar Syaifullah di Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pada tahun 1946 adalah salah satunya.

Melalui kegiatan "Pasar Malam Amal", organisasi ini menghimpun berbagai kalangan untuk bergabung dan berjuang, mengumpulkan dana, juga misi pelatihan keprajuritan. Nahas, kegiatan itu diobrak-abrik Belanda. Sejumlah tokoh dari laskar ditangkap hingga dipenjarakan.

Organisasi itupun bubar. Namun, api perlawanan belum padam. Kali ini melalui "Banteng Indonesia". Organisasi rahasia ini berkembang begitu pesat. Perjuangan secara gerilyanya terdengar hingga ke Pulau Jawa. Bahkan, mengundang respons ALRI Divisi IV yang berpusat di Jawa Timur.

Hingga kemudian, pada bulan November 1946, Gerakan Rahasia ALRI Divisi IV A Pertahanan Kalimantan pun dibentuk. Bermarkas di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Hasan Basry didapuk sebagai pemimpin gerakan. Pertempuran demi pertempuran pun dilakoni.

Singkat cerita, puncaknya pada 17 Mei 1949, Hasan Basry beserta para pejuang berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Saat itu, di atas panggung dengan sorot lampu yang terang benderang, Hasan Basry dengan lantang menyatakannya. Tentu, dimulai dengan kata: Merdeka! Itulah sekelumit cuplikan adegan tentang kisah perjuangan Pahlawan Nasional Hasan Basry.

Penampilan dibawakan sejumlah mahasiswa-mahasiswi Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, FKIP di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Riuh tepuk tangan terdengar. Semua larut dengan decak kagum, mengapresiasi gelaran bertajuk Sendrasik Berkarya XII, itu. "Ada rasa haru, dan emosional. Rasa-rasanya, tak cukup kalau pementasan ini tidak dilanjutkan," puji Ahmad Ridhani, salah seorang penonton.

Ia menyarankan akan lebih bagus lagi kalau pementasan mengangkat tokoh-tokoh pahlawan layaknya Hasan Basry bisa lebih diperbanyak lagi. "Dikemas dengan penampilan yang sangat menarik seperti ini, tentu pesan yang ingin disampaikan pun lebih mengena dan mudah diterima," tambahnya.



Mengangkat judul "Hasan Basry Tetap Merdeka", gelaran ini adalah paket lengkap. Ada drama, tari, dan musik di situ. Setidaknya, ada lebih dari 100 mahasiswa yang dilibatkan. Dari angkatan tahun 2019 hingga tahun 2022.

Kepala Prodi Seni Pertunjukan FKIP ULM Banjarmasin, Tutung Nurdiyana menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar berlangsung setiap tahun. "Baru kali ini, dalam pementasan Sendratasik Berkarya mengangkat kisah pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan," ucapnya, ketika diwawancarai seusai gelaran.

Inspirasinya datang ketika pihaknya menggelar pertunjukan mengangkat kisah Pangeran Antasari, pada 10 November 2022 lalu. Persisnya, di area perkantoran Gubernur Kalsel. "Jadi mengapa tidak sekalian saja kami angkat kisah tentang Hasan Basry, kan," ujarnya.

Untuk diketahui. Hasan Basry lahir di Kandangan, pada 17 Juni 1923. Ia adalah tokoh militer dan Pahlawan Nasional Indonesia. Jasadnya sendiri dikebumikan di kawasan Simpang Empat Liang Anggang, Banjarbaru.

Hasan Basry yang bergelar Bapak Gerilya Kalimantan itu juga tak hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Di ULM, ia juga dikenal sebagai seorang pendiri juga rektor. "Kami ingin, adanya pementasan ini menjadi pemantik juga pengingat. Agar generasi muda dan yang akan datang tidak melupakan jasa para pahlawan," harapnya. "Kami ingin, generasi muda tahu. Terus menerus mengenal pahlawannya," tegasnya.

Menyaksikan pementasan yang digelar malam itu, membuat haru Staf Ahli Hukum di Setdako Banjarmasin, Lukman Fadlun. Mewakili Pemko Banjarmasin, ia mengapresiasi kegiatan yang digelar. Ia mengatakan, beruntunglah kita kini hidup bukan di tengah penjajahan hingga peperangan melawan Belanda. Indonesia sudah sepenuhnya merdeka. "Maka sudah sepatutnya, kita menghargai jerih payah para pejuang," ucapnya.

Photo
Photo
PANTANG MENYERAH: Sosok Hasan Basry yang diperankan oleh Ibnu Alfaruq. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

Di sisi lain, ia juga mengatakan bahwa adanya pementasan tersebut mengingatkannya ketika menjadi mahasiswa S1 di ULM Banjarmasin. Lukman dulunya sangat menyukai seni.

Hanya saja, kesibukannya menjadikan jeda untuk menyaksikan ragam pertunjukan kesenian. "Tapi malam ini, saya dibawa kembali merasakan jerih payah para pegiat seni. Sungguh, ini penampilan yang menambah wawasan," pungkasnya.

Tak Ada Jejak Visual, Sulit Diperankan


Riset, berkutat dengan banyak data, berbincang sejarawan, juga zuriat sang pahlawan menjadi hal yang penting sebelum melakukan pementasan.



Ibnu Alfaruq didaulat yang membawakan peran sebagai Hasan Basry malam itu. Ia bilang, butuh dua bulan baginya untuk melakukan pendalaman karakter. "Ditunjuk memerankan tokoh besar, tanggung jawabnya pun besar pula," ujarnya, ketika diwawancarai Radar Banjarmasin, Jumat (10/2) malam itu.

Terlebih lagi, tak ada visual bergerak yang menampilkan sosok Hasan Basry itu sendiri. Hasilnya, bagaimana karakter, hingga gerak-gerik sang pahlawan hanya direka ulang melalui penuturan para sejarawan dan sebagainya.

Tentu bagi Ibnu, ada rasa haru ketika melakukan riset. Salah satunya ketika menziarahi makam Hasan Basry di kawasan Liang Anggang, Banjarbaru. Ia mengaku sempat meneteskan air mata. "Persis ketika saya melangkahkan kaki ke makam beliau. Saya banyak merenung, curhat juga di situ," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan sang sutradara pagelaran Sendratasik Berkarya XII, Ario Ramadan Ariyadi. Ia menuturkan, bahwa pertunjukan "Hasan Basry Tetap Merdeka" yang dibawakan penuh dengan tantangan. Ada tanggung jawab yang cukup besar.

Ia lantas memberkan hal penting, dan menurutnya perlu dibagikan. Sebagai pengingat, Hasan Basry di usia 22 tahun sudah punya prinsip yang begitu kuat dan luhur. "Prinsip mempertahankan tanah Kalimantan. Yang kita rasakan kini, adalah hasil kerja keras beliau. Juga pejuang lainnya," ujarnya.

Bagi anak muda, ia mengharapkan pertunjukan yang dibawakan adalah titik awal untuk mengajak generasi sekarang agar bisa maju. "Berpikir juga bertindak tentang apa yang bisa kita berikan untuk bangsa ini," tekannya.(war/az/dye) Editor : Arief
#Pameran Seni #Seni dan Budaya