ZULQARNAIN, Banjarbaru
Di umur 22 tahun, Luthfi Ghazali Rahman tiba-tiba mendapat ujian berat dalam hidupnya. Tiba-tiba menjadi tunanetra, matanya buta total karena sakitnya. Saat itu tahun 2012 di bulan Februari. “Saya down, tapi tidak seperti teman-teman waktu dengar kisah mereka. Ada yang mau bunuh diri atau merusak-rusak barang,” kata Luthfi pada Ahad (27/11).
Luthfi muda, setelah lulus di bangku SMK Banjarbaru ia sempat bekerja di pertambangan sebagai seorang sampler batu bara di Kalimantan Tengah. Namun, sejak menjadi tunanetra, ia pun sempat tiga tahun tidak di rumah saja.
“Ya di rumah hanya makan atau tidur. Tidak tahu ada panti-panti seperti itu,” ujarnya.
Beruntung, ia memiliki sosok ibu tegar seperti Laila, yang terus mendukungnya. Ibundanya mencari informasi seputar panti. Tempat di mana anaknya bisa berdaya dan berkembang. Panti Sosial Bina Netra Fajar Harapan Martapura akhirnya menjadi pilihan berlabuh di tahun 2015.
“Bersyukur dapat dukungan terus dari orang tua, teman-teman, semuanya memberi semangat,” ujarnya.
Dalam pengalaman Lutfi di panti tersebut, ia katakan adalah tempat yang benar-benar dapat membimbing seorang disabilitas mencari asa baru. Mereka yang datang dari pelbagai daerah sampai pelosok diberi berbagai pelatihan.
“Kebetulan teman-teman di sana banyak yang jadi atlet, jadi pengen ikut. Sama kan banyak juga yang sukses jadi atlet,” ucapnya.
Luthfi dan kawan-kawannya menolak stigma sebagai sosok tak berdaya. Ia mulai melatih dan menyiapkan berbagai hal di tahun 2016. “Jadi event awal itu, waktu di Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Tabalong tahun 2017 di cabang olahraga lari.”
Di event pertamanya itu, ia berhasil membawa pulang perunggu, di cabang lari 100 meter dan 200 meter.
Lalu kapan ia mengenal judo? “Tahun 2016, waktu teman-teman yang dari Bandung ada yang kasih kabar soal cabor Judo,” katanya.
Mendengar cabang baru itu, dia langsung berminat, terus mencari informasi terkini terkait judo, namun baru di tahun 2019 ada seleksi atlet judo.
Luthfi mendaftarkan diri. Saat itu ada sepuluh orang yang mendaftar, namun akhirnya lambat laun tinggal delapan orang. Mereka mengundurkan diri. “Dugaan saya mungkin akibat risiko yang berat.”
Di sisi lain, setelah lulus pelatihan dari panti Fajar Harapan di tahun 2018, ia juga mendapat tawaran untuk tinggal di kompleks rumah disabilitas Kota Banjarbaru. “Itu program dari Pemko Banjarbaru. Alhamdullilah terus bisa tinggal di sini. Jadi kita cuma bawa badan, semua gratis. Sama apa yang dibutuhkan di rumah itu disediakan,” sambungnya.
Luthfi pun giat berlatih judo di padepokan Banjarbaru. Lantas bagaimana cara berlatihnya?
“Pertama kita mendengarkan penjelasan pelatih, membayangkan apa yang dikatakan. Bahkan jika perlu meraba posisi badan pelatih,” ungkapnya.
Prestasi Lutfhi di bidang olahraga sebenarnya sudah tampak sejak ia menjadi atlet di cabang atletik lari 100 dan 200 meter, tahun 2017 Peparprov Tabalong. Di sana ia berhasil membawa pulang perunggu.
Nah, di cabang blind judo ini, prestasinya makin moncer. Di Peparnas Papua 2021, ia berhasil membawa pulang perunggu. Saat itu, ia mendapat bonus yang cukup untuk mengantarkan ibudanya Laila berangkat umroh.
Dan tahun ini, sepertinya ia kembali bisa menunaikan hajatnya, untuk memberangkatkan sang ayah. Pasalnya di Peparprov tahun 2022 di Hulu Sungai Selatan baru-baru tadi, ia berhasil membawa emas di kelas 50 dan 57 kg. Dan juara tiga di kelas bebas.
“Sudah menjadi cita-cita saya sejak dulu saya bekerja, memberangkatkan orang tua ke tanah suci. Eh malah kesampaiannya ketika saya menjadi tunanetra,” tutupnya. (mr-157)
Editor : Muhammad Helmi