- Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru
Podcast Radar Banjarmasin kemarin (26/4) menghadirkan Kepala Subseksi Sumber Daya Pencarian dan Pertolonga Endrow Sasmita untuk mengetahui bagaimana mereka menyelamatkan para korban ambruknya Alfamart di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar pada Senin (18/4).
Kepada Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin, Toto Fachrudin, dalam podcast yang segera tayang di kanal YouTube Radar Banjarmasin itu, Endrow menceritakan proses evakuasi para korban yang sebagian besar terjebak di bawah reruntuhan bangunan Alfamart di Jalan A Yani Km 14 itu.
Endrow mengatakan, saat menerima informasi, dirinya sedang bersiap berbuka puasa di rumahnya. "Saya terima info pukul 17.28 (Wita), sementara kejadian sekitar pukul 17.26," katanya.
Dia mengungkapkan, ketika Basarnas Banjarmasin menerima informasi, kebetulan ada 6 orang sedang piket. Sehingga empat lainnya bisa langsung ke lokasi kejadian. "Sedangkan teman rescue lainnya langsung dikumpulkan untuk segera ke lokasi," ungkapnya.
Endrow menuturkan, saat sampai di Tugu Pancasila, Gambut, mereka disambut dengan azan magrib. Karena di rumah tidak sempat berbuka puasa. "Kemudian lewat sedikit tugu, jalan sudah macet sekitar 4 sampai 5 kilo meter," tuturnya.
Karena melihat jalan sangat padat, mereka memutuskan untuk melawan arus: melewati jalur arah Banjarmasin - Banjarbaru. "Kalau lewat jalan yang benar (jalur Banjarbaru-Banjarmasin) mungkin tidak akan tembus, karena sangat macet," ujar Danru Basarnas saat ambruknya Alfamart ini.
Saat sampai di lokasi, dia mengaku melihat ada banyak warga berada lokasi. "Tapi memang agak sulit untuk menertibkan, padahal harusnya standarnya area steril. Teman-teman yang berkepentingan saja yang ada di sana," katanya.
Selain itu, Endrow juga melihat ada satu korban dengan kondisi mengenaskan. Karena dari kepala sampai dadanya tertindih reruntuhan bangunan. "Jelas terlihat, tapi tdak bisa dievakuasi karena tertindih bangunan lantai duanya. Dari dada sampai kepala yang terlihat hanya kakinya," ujarnya.
Kemudian, dia juga mengaku mendengar informasi ada sejumlah korban yang meminta tolong, tapi tidak dapat dievakuasi. "Karena kami tidak tahu keberadaan mereka. Info kami dapat dari korban lewat telepon," ujarnya.
Endrow menuturkan, korban yang menelepon berada di dua titik berbeda. "Ada dua lewat telepon, Reza dan Arini," tuturnya.
Sesuai standar operasional (SOP) mereka, dia menjelaskan, dalam melakukan penyelamatan mereka fokus ke korban yang masih selamat atau punya kdmungkinan untuk hidup. Walaupun ada korban terlihat, tapi sudah dalam kondisi meninggal dunia.
"Saya coba petakan, berdasarkan telepon dan rekaman CCTV yang kami terima dari teman Polres dan manajemen Alfamart. Kami analisa juga kemungkinan para korban ada di mana," jelasnya.
Karena ada dua titik korban yang dipastikan selamat melalui telepon, Endrow mengatakan, mereka lalu membagi tim menjadi dua untuk membuka akses ke dua titik itu. "Tapi cukup saya sesalkan,banyaknya orang di lokasi itu. Saya berkoordinasi dengan teman keamanan agar bisa diklirkan," katanya.
Di samping itu, dia mengatakan, pihaknya tetap memetakan keberadaan korban lainnya melalui rekaman CCTV. "Yang bisa dievakuasi duluan korban di sebelah timur dekat kasir, kalau bagian barat dan belakang masih tertinggal," katanya.
Dia menuturkan, melihat reruntuhan bangunan, memang paling banyak ambruk ke arah barat. Di sana lantai 1 hingga 3 menjadi satu. "Jadi kalau mau menembus lantai satu di barat, kami harus membobol lantai 3 dan 2," tuturnya.
Karena aksesnya sulit, sehingga mereka fokus ke lokasi korban yang masih hidup. Yakni, Reza bersama Lia dan Arini yang berada di lokasi berbeda. "Mereka ini saja yang masih bisa menelepon," kata Endrow.
Disinggung kendala tersulit apa yang dialami saat melakukan evakuasi, menurut Endrow adalah menertibkan warga. "Sempat area diklirkan, tapi begitu akses terbuka warga merapat lagi," ujarnya.
Setelah melalui proses yang cukup berat, dia menyampaikan, sekitar pukul 20.45 Wita tim gabungan berhasil mengeluarkan Reza, Lia dan Arini. "Setelah itu saya lihat kondisi teman sudah mulai kelelahan dan perlu beristirahat, kalau tidak fokus bahaya," ucapnya.
Melihat hal itu, Basarnas Banjarmasin kemudian mendatangkan satu tim lagi berisikan 6 orang untuk membantu evakuasi. "Jadi yang sudah lelah kami istirahatkan," ujar Endrow.
Dengan tambahan tim, dia menceritakan, mereka terus melakukan pencarian korban. Hingga akhirnya pada pukul 04.50 Wita menemukan tanda keberadaan korban lain. "Saat itu pas posisi lelah. Ada anggota yang mendengarkan suara minta tolong tapi samar-samar," paparnya.
Tim lalu saling koordinasi memastikan asal suara itu, kemudian memutuskan untuk melakukan pencarian. "Ternyata benar, hanya ada celah sedikit saja di bawah mereka ada korban bernama Hanafi," ujarnya.
Dia mengungkapkan, Hanafi saat itu dalam kondisi tertindih balok. "Kami hanya melihat wajahnya. Kami tidak tahu arah badannya di mana," ungkapnya.
Tim kemudian membuka reruntuhan untuk mengevakuasi Hanafi. Prosesnya cukup lama, karena banyaknya beton yang harus diangkat. Serta posisi badannya yang sulit ditebak. "Kami sampai harus pakai crane. Pukul 7.45 Wita baru berhasil kami keluarkan," beber Endrow.
Lanjutnya, saat reruntuhan di sekitar Hanafi bisa dibuka, ternyata di sebelahnya ada korban lain: Misnawati yang sedang memeluknya. "Tapi saat itu Hanafi tidak sadar, padahal ada tangan memeluknya," ujarnya.
Misnawati sendiri dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan Hanafi hampir kehilangan kesadaran. "Kami terus menyemangati dia agar tetap sadar. Karena dia mau menyerah, katanya lelah mau tidur. Dia harus tetap sadar, sebab secara medis kalau kesadarannya hilang maka bisa sekalian meninggal dunia," kata Endrow.
Agar tetap sadar, tim selalu mengajak Hanafi berkomunikasi. Bahkan Hanafi yang kemudian meninggal dunia pada siang harinya itu sempat bercerita akan menikah pada tahun depan. "Alhamdulillah, hingga berhasil dievakuasi dia masih sadar," paparnya.
Setelah menemukan Misnawati, tim gabungan kemudian menemukan satu korban lain bernama Akbar yang juga sudah meninggal dunia. Sehingga dari total 13 korban, lima di antaranya tewas. (ris/by/ran) Editor : Arief