Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menelusuri Jejak Kopi Lokal di Banua, dari Cerita Sopir hingga Sultan

Arief • Sabtu, 2 April 2022 | 19:59 WIB
ANTUSIAS: Pengunjung melihat koleksi yang dipamerkan di Festival Parang, di kawasan Museum Wasaka, kemarin (22/6) siang. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
ANTUSIAS: Pengunjung melihat koleksi yang dipamerkan di Festival Parang, di kawasan Museum Wasaka, kemarin (22/6) siang. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Cerita tentang biji kopi yang ditanam di Kalimantan Selatan tak banyak diketahui. Di meja dan bar kedai yang kini menjamur pun, keberadaannya seakan terlupakan.

-Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin



KEHADIRAN buku 'Biji-Biji Kopi yang Bercerita di Bumi Borneo' adalah upaya menghimpun sejarah dan mengulas karakter biji kopi yang terabaikan itu.

Buku itu mulai disusun pada 2015 dan rampung Januari tadi. Sebulan kemudian diterbitkan oleh Tahura Media.

Terdiri dari 122 halaman dengan 25 esai, ditulis oleh Syam Indra Pratama. Seorang pegiat kopi asal Martapura.

Topik bahasannya kompleks. Syam tak hanya bercerita tentang sejarah tanaman kopi di Kalsel.

Bahwa tanaman kopi mulai dibudidayakan sejak tahun 1970. Yang datanya, dikutip dari jurnal perjalanan FJ Hartman.

Diceritakan di situ, bahwa pernah ada sebuah perkebunan lada dan kopi terbaik di Hulu Sungai.

Lalu, ada pula tentang dugaan adanya spesies kopi langka yang tumbuh di Kalsel. Yakni, Coffea Stenophylla.

Meskipun untuk memastikannya, tentu perlu mendatangkan para ahli di bidangnya.

Sisi lain, Syam juga menulis tentang pergulatan yang dialami para petani kopi lokal. Walaupun menurutnya belum bisa dikatakan sepenuhnya petani kopi.

Alasannya, kopi hanya ditanam sebatas tanaman sampingan. Alias bercampur dengan kebun pisang, bahkan jengkol.

"Bukan ditanam di tempat khusus dengan perlakuan khusus seperti di daerah lain di luar Kalimantan," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, 25 Maret tadi.

Pria 32 tahun itu menuliskan perkembangan, menawarkan solusi hingga kritik terhadap pemerintah daerah.
Mencari literatur tentang tanaman kopi di Kalsel memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau pun ada, berasal dari literatur berbahasa asing yang ditulis pada era kolonial. Umumnya hanya bisa ditemui dalam sejumlah arsip-arsip lawas.

Tak ayal, Syam kerap bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain di sejumlah daerah di Kalsel untuk mengumpulkan data untuk bukunya. Misalkan di Kabupaten Banjar, yakni di Kecamatan Astambul dan Pengaron.

Di situ, ia bertemu pengepul, petani dan penikmat kopi. Termasuk berbincang dengan sejarawan hingga dinas terkait.

Sisi lain, Syam juga menuturkan pengalaman unik dalam perjalanannya. Bahwa informasi sejarah ia peroleh dari seorang sopir taksi online.

Dari keterangan si sopir, Banjarmasin pernah menjadi daerah penghasil biji kopi. Lokasinya di Kelurahan Sungai Andai.

Jauh sebelum Sungai Andai berubah menjadi permukiman padat seperti sekarang.

Tapi sewaktu itu hanya untuk dikonsumsi pribadi. Maksudnya, ditanam sendiri, diminum sendiri.
"Saya pun tergerak untuk membuktikannya," ungkap Syam.

Beberapa waktu kemudian, ia mendatangi warga yang sudah lama bermukim di Sungai Andai.

Terungkap, tanaman kopi sudah lama menghilang. Kalah dengan ekspansi pengembang perumahan. Apalagi, kopi sekadar ditanam di lahan-lahan kosong.

Syam juga menyinggung tanaman kopi apa yang bisa bertahan di dataran rendah seperti Banjarmasin. Yakni, liberika atau robusta.

"Entah bagaimana sejarahnya bibit kopi bisa ditanam di Banjarmasin. Namun, Banjarmasin memang menjadi kawasan tempat tinggal Sultan Banjar tempo dulu," tulisnya.

Ya, dalam buku itu juga disinggung tentang perhatian Sultan Banjar tentang tanaman kopi.

Diceritakan, pada tahun 1818 hingga 1823, Sultan Sulaiman Al Mutamidullah, diminta pemerintah kolonial Belanda untuk lebih menggalakkan tanaman kopi dan lada, sebagai jenis komoditi ekspor andalan.

Bahkan permintaan itu disertai dengan adanya perjanjian antara Sultan Sulaiman dengan Van Boekholz yang mewakili pemerintah Hindia Belanda.

Lantas, apa yang membuat Syam tertarik untuk membuat buku tersebut?

Jawabannya, ada banyak. Mulai dari rasa penasaran, passion, hingga keprihatinan bahwa kopi Kalsel belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

"Kalau hanya diminum, tak lebih dari sekadar cairan berwarna hitam," pungkasnya.

Masukan Buat Pemda



Penerbitan itu mendapat sambutan hangat dari sejumlah pihak. Salah satunya seniman banua yang juga pemilik kedai kopi, Novyandi Saputra.

Ia mengaku bahagia, mengingat selama ini mencari literasi buku kopi Kalsel itu sangat sulit. Dan Syam, menurutnya menuliskannya dengan sangat ikhlas.

"Apakah buku ini sudah sempurna? Tentu belum. Tapi setidaknya ini menjadi awal tentang apa yang kami inginkan," ujarnya.

PENULIS BUKU: Syam Indra Pratama dipotret di kedai kopi Prabayaksa miliknya. Anda bisa mengunjunginya di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
PENULIS BUKU: Syam Indra Pratama dipotret di kedai kopi Prabayaksa miliknya. Anda bisa mengunjunginya di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
LITERASI: Isi buku ini sudah dikumpulkan Syam sejak tahun 2015 silam. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Di kedainya sendiri, Novy menyediakan biji kopi lokal dari Pengaron. Dan apresiasi pelanggan cukup bagus.

"Hanya saja, memang cukup susah mendapatkannya. Karena tidak banyak yang mau mengolah biji kopi lokal," ucapnya.

Kemudian, peminatnya belum seramai biji kopi lain. Tapi itu pula yang membuat biji kopi lokal menjadi eksklusif.

"Kami meyakini, bertahun-tahun kemudian, orang akan familiar dengan biji lokal," ucapnya.

Kepada pemerintah, ia punya masukan. Bahwa pemda harus mulai melibatkan orang-orang yang bergerak di industri kopi.

"Tidak bisa hanya sendirian tiba-tiba melakukan penanaman dan pembibitan. Saya rasa itu tidak fair. Karena yang berdagang adalah masyarakat. Yang tahu kondisi dan bagaimana seharusnya adalah para pedagang," pungkasnya.

Terinspirasi Kapal Prabayaksa



Syam Indra Pratama lahir di Martapura, Kabupaten Banjar. Sewaktu kecil, ia mengaku gemar berenang di sungai bersama teman-temannya.

Suatu ketika, seorang teman sepermainan menderita luka di kaki. Lantaran digigit seekor ikan buntal ketika mandi.

"Saya melihat kaki yang luka ditempeli serbuk kopi. Dalam hati saya, kopi itu sakti," ucapnya lalu tergelak.

Itulah pertama kalinya ia tertarik dengan yang namanya kopi. Meskipun diakuinya waktu ia ia sebenarnya tidak suka meminum kopi.

Seiring waktu, ketertarikannya terhadap kopi semakin membuncah. Tatkala ia mengetahui bahwa ada tanaman kopi di Kalsel.

Kendati demikian, ia justru belum pernah melihat ada satu pun biji kopi lokal yang berada di kedai-kedai kopi yang ngetren itu.

Di benaknya, juga muncul pertanyaan, mengapa kopi yang ditanam di Kalsel justru tak seterkenal kopi lain?

Photo
Photo
AYO DIBELI: Buku karya Syam Indra Pratama di tangan seorang pembaca.

Sebaliknya, kopi Kalsel, justru lebih banyak berada di pasar tradisional. Itu pun sudah digiling dan dikemas sederhana. Seperti gula curah.

"Saya semakin penasaran dan memutuskan untuk mencari di mana tanaman kopi itu berada," lanjutnya.

Pencarian dimulai dengan bertanya ke pedagang kopi di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Dari situ, diketahui bahwa kopi yang biasa dijual diambil dari Kecamatan Pengaron.

"Saya mendatangi desa-desa, sampai ketemu petani hingga pengepul. Lalu ditunjukkan tanaman kopinya," ucapnya.

Dijelaskannya, ketika melihat tanaman kopi yang didatanginya, ia merasa terkejut. Sungguh tak seperti yang pernah dibayangkannya. Lantaran tanaman kopi bercampur dengan tanaman lain.

"Tingginya ada yang mencapai 7 hingga 8 meter karena tidak rajin dipangkas," ungkapnya.

Dari situ ia mulai menjalin komunikasi yang lebih intens dengan sejumlah petani kopi. Sambil tentunya, belajar terkait seluk beluk dunia kopi.

Selain berdisikusi dengan sejumlah petani, ia mengikuti kursus di sebuah kedai kopi di Banjarmasin. Di situ, Syam belajar membedakan jenis kopi, menggiling, menyeduh dan lain sebagainya.

"Sampai akhirnya, saya nekat membuka kedai kopi sendiri di tahun 2017. Dengan menyediakan biji kopi lokal yang ditanam di Kalsel," ungkapnya.

Tujuannya, tak lain agar ke depan, mengenalkan kopi lokal. Contoh Kopi Pengaron.

Menurutnya, cita rasa yang dihasilkan tak kalah dengan kopi-kopi lokal dari daerah lain. Andai digarap secara serius, pangsa pasar kopi lokal ini cukup bagus. Karena hanya sedikit yang menggarapnya.

Diakuinya, bakal butuh waktu lama. Kendati demikian, bukan berarti tak ada upaya. Ia melihat saat ini sejumlah anak muda dan pemda mulai ramai memberikan dukungan untuk kopi lokal.

Syam pun bersemangat. Fokus dengan kopi lokal jualannya. Kedai kopinya kini berada di kawasan Kampung Buku, Jalan Sultan Adam.

Terinspirasi dari nama sebuah kapal dalam hikayat Banjar, nama kedai kopinya adalah Prabayaksa.

Konon, Prabayaksa adalah kapal terbesar dan tercepat yang membawa Empu Jatmika dan anaknya, Lambung Mangkurat, dari Negeri Keling menuju tanah yang akan menjadi tempat didirikannya Nagara Dipa.

Prabayaksa sendiri diambil dari kata Sanskerta yang berarti sinar, cahaya, semarak dan kemegahan.
"Nama adalah doa, saya berharap nasib kopi Kalsel bisa sebersinar dan semegah Prabayaksa," tutupnya. (war/fud) Editor : Arief
#Kopi