- Oleh: JAMALUDDIN, Barabai
Ulat bumbung memiliki nama latin erionata thrax. Hewan ini jenis larva yang berasal dari ngangat. Umumnya hidup di kayu atau bambu. Makanya hewan ini punya julukan pengebor kayu.
Di Hulu Sungai Tengah, hampir semua pemancing memakai ulat bumbung sebagai umpan. Biasanya ulat ini untuk memancing ikan haruan dan papuyu. Di balik itu semua, ternyata budidaya ulat bumbung sangat susah. Di wilayah Amuntai, Kandangan, Balangan, Tanjung, Barabai belum ada yang berhasil.
Karena banyak dicari, akhirnya orang lebih memilih mendatangkan umpan ini dari Pulau Jawa dan Sumatera. Misalnya Tahmidillah (41), dia mengambil suplay ulat bumbung dari Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kemudian dijual ke pengecer di wilayah Banua Lima.
Sekali memasok biasanya sebanyak 2.000-4.000 ruas (bumbung). Banyaknya ruas yang dia minta disesuaikan dengan musim. Jika musim hujan biasanya dalam satu bulan bisa dua kali pengiriman. Puncaknya di pertengahan tahun, dalam satu minggu bisa dua kali pengiriman.
Dia sudah menggeluti usaha ini sejak 2014 hingga sekarang. Tak tanggung-tanggung, warga Desa Pajukungan, Kecamatan Barabai, ini menjadi satu-satunya distributor ulat bumbung di wilayah Banua Lima. “Saya jual partai kepada para penjual umpan dan pakan ikan,” ujarnya, Rabu (16/2).
Dari hasil usaha itu, pada tahun 2021 saja dia bisa menjual 80 ribu ruas. Dia menjual ulat bumbung per ruas ke pengecer dengan harga antara Rp 5.000 sampai Rp 11.000. Dari harga ini untung yang didapat rata-rata Rp 1.000 rupiah. Isi ulat dalam bumbung antara 20, 25 sampai 30 ekor. “Harga dan jumlah ulat mengikuti cuaca, kalau musim hujan pasti lebih murah dan banyak,” bebernya.
Menurutnya, bisnis ulat bumbung ini menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan. Tentunya jika sudah memiliki pasarnya masing-masing. “Saya dulu merintis dari awal. Sempat tertipu oleh pemasok. Sudah kirim uang tapi barang tidak dikirim. Begitulah siklus berbisnis ada untung dan rugi,” kisahnya.
Jika usaha ini menguntungkan, kenapa tidak mau membudidayakan ulat bumbung sendiri? “Bukan tidak mau, tapi tidak menemukan caranya. Berkali-kali saya mencoba tapi selalu gagal. Akhirnya lebih memilih menerima pasokan dari Pulau Jawa dan Sumatera,” akunya.
Lantas bagaimana orang lain bisa membudidayakan? “Pemasok saya itu juga tidak membudidayakan. Tapi mereka mencari ke hutan. Saya belum menemukan pemasok yang ulat bumbungnya dari hasil budidaya,” jawabnya.
Dari pengakuannya, dia belum menemukan pembudidaya ulat bumbung. “Kalau pembudidaya sampai berkembang biak belum pernah tahu. Tapi kalau membesarkan ulat bumbung ada,” ucapnya.
Karena ulat bumbung ini musiman, Tahmidillah tak hanya memasok dari Pulau Jawa. Dia juga memasok ulat dari Pulau Sumatera. Hal ini dilakukan untuk mengatasi ketersediaan ulat yang habis ketika musimnya berganti. “Kalau di Pulau Jawa itu dari bulan Februari-September. Kemudain selanjutnya disambung ulat dari Sumatera,” ungkapnya.
Secara kualitas, tak ada bedanya ulat dari Jawa dan Sumatera. Yang membedakan hanya soal jarak dan biaya pengiriman. Jika ulat dari Jawa bisa dikirim lewat jalur laut dan darat. Waktunya juga paling lama sehari. Sedangkan dari Sumatera harus pakai kargo pesawat. Biayanya lebih mahal. “Karena pengiriman lama. Biasanya ulatnya lemas, karena lama di perjalanan. Itu yang membedakan,” pungkasnya. Editor : Arief