Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bawa Kuyang, SMKN 2 Barabai Tembus ke Pentas Nasional

Muhammad Helmi • Sabtu, 13 Juli 2019 | 12:24 WIB
bawa-kuyang-smkn-2-barabai-tembus-ke-pentas-nasional
bawa-kuyang-smkn-2-barabai-tembus-ke-pentas-nasional

Kuyang, adalah folklor. Tapi cerita tentangnya mampu mengantarkan Miftahul Jannah, Ilma Safitri dan Ahmad Gunadi, mewakili Provinsi Kalsel pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) untuk kategori teater.


-- WAHYU RAMADHAN, Barabai --


Tentu tak gampang mengangkat cerita kuyang ke atas panggung pertunjukan. Meski begitu, masyarakat Kalsel pada umumnya, sudah tak asing dengan cerita seramnya perwujudan seorang perempuan yang mempelajari ilmu hitam. Dengan tujuan, untuk pengasih atau pelet, awet muda hingga berumur panjang.


Semua adegan itu, ditampilkan oleh siswa siswi dari SMKN 2 Barabai. Dengan sangat apik dan penuh keseriusan. Hingga akhirnya, mereka didapuk sebagai pemenang di FLS2N tingkat provinsi yang digelar pada 26 hingga 28 Juni lalu. Kemudian, pada September mendatang, mereka bakal bertolak ke Lampung, mewakili Kalsel.


Salah seorang Dewan Juri FLS2N kategori SMK sederajat di Kalsel, pada bidang teater, M Syahriel M Noor, ketika dikonfirmasi Jumat (12/7) kemarin mengungkapkan bahwa memang petunjuk dan teknis dalam festival mengharuskan peserta menampilkan legenda, mitos atau cerita rakyat.


Di samping itu, ada beberapa kelebihan yang dimiliki tim SMKN 2 Barabai. Salah satu di antaranya, meski memainkan teater modern, namun memiliki sandaran pada japin carita atau teater rakyat tradisional yang merupakan pengembangan tari dan musik japin.


“Penampil yang lain juga ada sandarannya. Hanya saja, tampak keteteran karena kebanyakan sandaran yang diambil hingga soal artistik dan lain-lain,” ungkapnya, seniman, aktor dan sutradara kawakan Kalsel itu.


Naskah yang dimainkan, berjudul Bacabut Pukang atau Penanggalanan Kuyang (kepala dan jeroan yang terbang, Red). Sang sutradara sekaligus pelatih ekstra kurikuler teater di SMKN 2 Barabai, Rahmiyati, menceritakan tentang perburuan kuyang terhadap perempuan hamil atau melahirkan.


Sosok kuyang diperankan oleh Miftahul Jannah, ditampilkan dengan sangat menyeramkan. Hanya memiliki kepala beserta isi dari organ tubuh yang terburai, terbang melayang mencari mangsa, mengitari rumah-rumah penduduk.


Sementara sang korban wanita hamil, yakni Jumi diperankan oleh Ilma Safitri, beserta sang suami Karman yang diperankan oleh Ahmad Gunadi, hanya bisa terus waspada akan kedatangan kuyang.


Mengusir kuyang dengan berbagai upaya, hingga sang istri berhasil terhindar dari mara bahaya. Semua adegan itu, ditampilkan dalam waktu 20 menit.


“Awalnya, saya sempat ragu menampilkan naskah ini. Berani atau tidaknya, saya diskusikan kepada teman-teman hingga akhirnya naskah ini jadi dimainkan,” tutur Rahmiyati.


Sebagai sutradara sekaligus pelatih, Rahmiyati, punya pertimbangan sendiri mengapa keraguan menghinggapi benaknya. Pasalnya, baik dari sang sutradara hingga pemain, tak ada satu pun yang pernah melihat secara langsung tentang sosok kuyang.


Ya, pertama, karena sekali lagi, kuyang merupakan folklor atau cerita rakyat yang dituturkan secara turun temurun dan tidak dibukukan secara mendetail. Meskipun sebagian besar masyarakat Kalsel zaman dahulu sudah tak asing dengan cerita dan sosok kuyang.


Kedua, dibalik sosoknya yang begitu sangat menyeramkan, keberadaan kuyang juga menimbulkan sedikit perdebatan di masyarakat. Ada yang mengatakan kuyang adalah makhluk gaib tak kasat mata atau hantu. Ada pula yang mengatakan bahwa kuyang dapat disentuh mengingat awalnya sosok kuyang hanyalah perwujudan perempuan jadi-jadian, akibat mempelajari ilmu hitam.


Meski tak lepas dari cerita mistis, tak serta merta adegan yang ditampilkan juga dipenuhi kengerian. Justru sebaliknya, penampilan juga dipadukan dengan tarian serta alunan musik tradisional. Maka, penonton yang berhadir pun tak sekadar menyaksikan cerita rakyat, melainkan juga menyaksikan hiburan dalam bentuk tarian.


“Sebelum Ramadan, kami sudah mulai rutin berlatih. Hingga sepekan menjelang festival berlangsung,” ungkap pemain, Ahmad Gunadi.


Dalam latihan juga tak selalu berjalan mulus. Terlebih ketika naskah yang dibawakan, bercerita tentang sosok kuyang. Pemain lainnya, Miftahul Jannah, menuturkan bahwa dirinya pernah mengalami kejadian aneh saat sedang asyik berlatih.


“Seperti ada yang menepuk-nepuk bahu saya. Kemudian seperti ada yang memanggil ‘Hei,’ padahal teman-teman yang lain tak ada yang memanggil apalagi menepuk bahu,” tuturnya.


Namun terlepas dari kengerian naskah dan lelahnya berlatih, semuanya sepakat bahwa yang dilakukan demi mengharumkan nama daerah. Terlebih, Barabai terkenal dengan ragam seni tradisi di Kalsel.


“Semoga saat tampil di Nasional nanti, kami bisa kembali keluar menjadi yang terbaik,” tuntas pemain lainnya, Ilma Safitri. (war/ema)

Editor : Muhammad Helmi