Kada Sakuning Banih Maurai adalah lakon yang sederhana, menghibur, dan Banjar banget. Jalan cerita dan dialognya juga dekat dengan keseharian kita. Menontonnya ibarat menyapa kawan lama.
SYARAFUDDIN, Banjarmasin
PERTUNJUKAN ini merupakan hadiah dari Himasindo (Himpunan Mahasiswa Seni Indonesia) kepada penikmat seni Banua. Sanggar dari FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) Universitas Lambung Mangkurat itu sedang merayakan ulang tahun ke-23.
Dimainkan di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basri, Senin (23/7) malam. Naskahnya ditulis oleh Nafi M Ali. Nafi pula yang menyutradarainya. Teater mahasiswa memang seperti itu. Mengakali keterbatasan kru dengan merangkap tugas.
Kada Sakuning Banih Maurai berarti "Tak Sekuning Hamparan Padi". Ungkapan untuk menunjukkan kenyataan yang bertolak belakang dengan harapan. Sesuai judul, dialog sepenuhnya menggunakan Bahasa Banjar.
Kian merakyat dengan bumbu umpatan lokal. Mohon maaf, seperti bungul dan tambuk. Selera humornya juga receh. Tapi receh yang sanggup mengocok perut penonton.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik sering disuguhi pertunjukan teater yang canggih. Dialog, bahasa tubuh, alur cerita, properti panggung, musik, tata cahaya hingga kostum kerap mengadopsi pemikiran-pemikiran dari luar. Yang filosofis, tak mudah dicerna dan cenderung muram.
Maka sajian Himasindo adalah antitesa. Pada adegan pertama, kita sudah tahu pertunjukan ini bakal renyah. Dibuka dengan konser dangdut untuk merayakan ulang tahun Karang Taruna. Organisasi kebanggaan desa yang dipimpin oleh pak haji beristri banyak.
Dari tembang jadul hingga kekinian dimainkan. Macam "Kata Pujangga" milik Rhoma Irama atau "Jaran Goyang" milik Via Vallen. Dibantu pemain organ tunggal, sang biduan adalah lelaki yang lentik dan kenes. Yang tak canggung berjoget erotis demi menarik saweran.
Penontonnya adalah hansip yang kerempeng, preman setengah teler, pedagang kaki lima, anak kecil hingga ibu-ibu rumah tangga berkerudung lebar. Pada bibir panggung, remaja-remaja bau kencur asyik berpacaran.
Mereka tak peduli. Apakah lagunya nge-beat atau slow, liriknya ceria atau sedih, goyang dan senggolnya tetaplah harus enerjik. Konser baru berakhir ketika satu-dua sikutan menyebabkan tawuran antar penonton. Pemandangan yang sungguh khas Indonesia.
Cerita ini dimulai dari sebuah keluarga. Abah meminta anaknya mengantarkan hasil panen keluarga ke pabrik padi terdekat. Sang anak, namanya Mursid, lebih memilih berburu pilanduk (kancil). Masuk hutan dengan menenteng senter dan senapan angin.
Pada malam yang gelap, berdua saja dengan temannya, Mursid melamun dan tersentak. Dia sadar harus pergi ke kota untuk melanjutkan kuliah. Agar tak terjebak di desa seperti kebanyakan teman sebaya. "Di kampung ini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Bahkan pilanduk pun makin sulit dicari," ujarnya.
Dalam kacamata orang kampung, ijazah adalah tiket. Untuk bisa bekerja di perusahaan perkebunan sawit. Pekerjaan yang dipandang mentereng. Pada sisi lain, mereka memandang ibukota sebagai sosok yang miskin rasa iba. Siapa lemah sudah pasti tergilas.
Singkat cerita, Mursid menjadi buruh perusahaan. Konflik muncul ketika mandor perusahaan, Dahlan, menyadari terjadi pencurian buah sawit. Dahlan kebetulan juga orang kampung.
Otak persekongkolan itu adalah Mursid. Dibantu teman-teman sekampung yang menyandang label jagau (preman). Seperti Usuf, Amat dan Mail. Pada akhirnya, kejahatan itu terbongkar. "Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma menjadi maling?" cecar Dahlan.
Mursid punya argumen sendiri. Ongkos pendidikan tak pernah murah. Pendidikan gratis hanyalah slogan pemilu. Dia mencuri demi mencari penghasilan lebih untuk diberikan kepada orang tua. "Sudah terlanjur. Apakah kamu tega menceritakan semuanya pada ibuku? Abah sudah meninggal dunia," balas Mursid.
Dahlan yang kasihan dengan Mursid membiarkannya kabur. Alih-alih menyerahkannya kepada polisi. Adegan penutup adalah ibu Mursid yang menangis di depan kuburan. Suaminya sudah meninggal, putranya jadi buronan. Tangisnya kering dan sunyi.
"Ini isu-isu yang dekat dengan kehidupan kita. Alam dan lingkungan sosial desa yang sudah rusak. Ibu kota yang keras. Dan pendidikan menjadi tumpuan untuk memperbaiki hidup. Terkadang, harapan bertabrakan dengan kenyataan," jelas Nafi.
Kisah nyata tentang lingkungan dan budaya desa yang rusak akibat ekspansi modal mudah ditemui di Kalsel. Baik akibat pertambangan batu bara maupun perkebunan kelapa sawit.
Dari semua karakter, sebenarnya tak ada tokoh utama. Setiap peran menyimpan dilemanya masing-masing. Tak ada hitam dan putih. Siapa yang paling benar dan sepenuhnya salah.
Jika ada cela dari pertunjukan ini, dia setuju dengan artikulasi beberapa pemain yang terdengar kurang jelas. Bisa dimaafkan karena hampir seluruh pemain adalah anggota baru sanggar. Bagi mereka ini merupakan pengalaman manggung perdana. "Latihan juga sempat terjeda libur lebaran. Tentu hal itu tak bisa menjadi pembenaran," tegas pemuda 26 tahun ini.
Penonton juga menyoroti penata suara latar. Tiarap di atas panggung, dari balik properti, kepalanya berkali-kali nongol. Pemandangan itu tampak menggelikan.
Meski tak ada tokoh sentral, karakter Mursid lah yang paling menonjol. Dimainkan oleh Puji Arisandi, 21 tahun. Diakuinya, karakter yang didalaminya bertolak belakang dengan kehidupan pribadinya. "Tapi mirip cerita orang tua saya. Mereka orang kampung yang merantau ke kota," ujarnya.
Puji mengaku kecewa dengan pilihan Mursid yang memutuskan menjadi dalang kejahatan. "Saya berharap Mursid bisa lebih baik. Tapi begitulah keadaannya. Mereka orang-orang kecil yang dihimpit masalah ekonomi. Saya tak berhak menghakimi," tukasnya. (fud/at/nur)
Editor : Arief