Diserang aplikasi pemutar musik dan barang bajakan, sebagian orang memilih bertahan. Mengkoleksi kaset pita, CD, dan vinyl orisinal untuk memperoleh musik berkelas.
------------------------------------------------
DONNY MUSLIM, Banjarmasin
------------------------------------------------
ALFI Syachrin sibuk menata lemari di ruang tamu rumahnya. Isinya berantakan oleh tumpukan kepingan CD, kaset pita, dan piringan hitam. Lelaki 41 tahun itu kolektor rilisan fisik yang getol berburu karya orisinal sejak masih bocah.
"Mulai mengoleksi sejak awal SMP. Suka dengar musik bareng kakak. Jadi kami patungan uang jajan. Itu pun kalau ada duit lebih. Maklum, belum masih sekolah," ujarnya di rumahnya di Jalan Mahligai Kompleks Puskopolda, kemarin (23/6).
Dari zaman sekolah hingga sekarang, koleksi rilisan fisik milik Alfi kebanyakan diisi album bergenre rock dan metal. Dari musisi Indonesia sampai luar negeri. Seperti grup musik SAS, Godbless, Grassrock, Wings, dan Search. Kebanyakan memang band lawas.
"Koleksi karya musisi zaman sekarang juga ada. Tapi banyak lebaynya. Makanya pilih-pilih," kata Alfi terkekeh. Ia masih mengoleksi album grup musik dalam negeri seperti Naif, The SIGIT, Seringai, hingga grup asal Kalimantan Selatan: Radja yang digawangi Ian Kasela.
Dihitung-hitung, total koleksinya sudah tembus ribuan album. "Rata-rata rilisan pertama yang langsung diluncurkan oleh musisinya. Kalau album yang sudah daur ulang, banyak perubahan. Biar langka, tetap saya cari," tutur Alfi.
Sebagian ia peroleh dari hasil perburuan di internet. Terkadang, dia juga menjajakan koleksinya. Hitung-hitung investasi. Bagi pencinta rilisan fisik, bertemu dengan barang langka artinya merogoh kocek lebih dalam.
Lalu, mengapa Alfi ngotot bertahan dengan koleksinya di tengah gempuran aplikasi musik dan rilisan bajakan yang lebih murah? Pertama, kualitas suara jelas kepalang beda. "Lebih hidup yang tidak digital," jelasnya.
Kedua, memiliki album fisik memberi rasa kepuasan. Biasanya para musisi, menyematkan lirik serta foto masing-masing personil pada cover albumnya. "Ini bukannya asyik? Berbeda jauh kalau dengar lewat digital," tambah Alfi.
Alasan terakhir lebih filosofis. Ia gundah melihat banyak orang tak bertanggung jawab membajak karya-karya para musisi. Baginya, tren bajak-membajak menjadi sumber kesedihan musisi.
Ditanya impian, Alfi tak ingin muluk. Selain ingin membuka pameran rilisan fisik di ruang publik, Alfi kepengin toko-toko yang menjual rilisan fisik kembali hidup. "Di Banjarmasin, satu demi satu berguguran. Kalau, ada sekarang cuma online. Belum ada toko khusus," tandasnya.
Tren Penjualan Belum Menggembirakan
Alfi tak lantas percaya. Hanya karena seseorang terbilang pencinta musik, bukan berarti dia bakal membeli rilisan fisik orisinal. Sebab, faktanya lebih banyak yang senang membeli barang bajakan.
Atau, mengunduh secara ilegal. Alih-alih berlangganan secara resmi dari aplikasi yang membayarkan royaltinya pada musisi.
Menurutnya, masih banyak fans karbitan yang justru membantu pembajakan karya musisi kesayangannya sendiri. "Di Banjarmasin, yang terdeteksi baru belasan orang yang benar-benar peduli terhadap perkembangan rilisan fisik," ungkap Alfi.
Dari belasan orang itu, Alfi menggagas grup pencinta album fisik untuk wilayah Kalsel. Diberi nama Musik Analog Banjarmasin. "Isinya ngobrol mengenai tren rilisan, jual beli, sampai obrolan-obrolan lainnya," ceritanya.
Targetnya tentu membuka lapak. "Ya, kami berencana membuka lapak di ruang publik agar masyarakat lebih banyak tahu dan peduli. Syukur-syukur ada yang mau saling tukar menukar rilisan langka," katanya terkekeh.
Menanggapi tren penjualan rilisan fisik di Kalsel, Ari Sutrisno dari Demajors mengatakan belum terlalu menggembirakan. Demajors sendiri merupakan perusahaan rekaman independen. Yang menyalurkan banyak album-album musisi nasional serta sekalian membuka toko.
"Belum begitu ngetren. Tapi, ada saja yang beli setiap hari. Namun, dari luar Kalsel," kata Gorey, sapaannya ketika ditemui wartawan di Pasar Kajut Ramadan beberapa waktu lalu.
Untuk musisi independen di wilayah Kalsel sendiri, penghargaan karya-karya fisik belum bisa dikatakan menggembirakan. Tapi, ia mencoba membuka peluang bagi penggerak skena lokal yang ingin menitipkan karya mereka di lapaknya. "Ada juga teman-teman yang menitipkan karyanya," tuntasnya. (at/fud/ema)
Editor : Arief