Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengenal Shintya Subhan, Penerjemah Bahasa Isyarat

Arief • Selasa, 3 April 2018 | 14:54 WIB
mengenal-shintya-subhan-penerjemah-bahasa-isyarat
mengenal-shintya-subhan-penerjemah-bahasa-isyarat

Dengan gerakan tangan, bibir dan mata, seorang interpreter bisa membuka jendela wawasan kaum difabel. Sayang, interpreter masih tergolong langka di Banjarmasin. Dan Shintya adalah salah satunya.


SYARAFUDDIN, Banjarmasin


JIKA Anda tak bisa tidur, cobalah menyalakan televisi. Pilih saluran berita tengah malam. Lalu, perhatikan kotak kecil tambahan pada pojok bawah atau atas layar. Lewat gerakan tangan, seorang perempuan atau lelaki sedang menerjemahkan berita yang dibacakan anchor.


Mereka adalah interpreter atau penerjemah bahasa isyarat. Tujuannya, agar kaum tuli yang hanya mengandalkan indera penglihatan juga bisa mendapat akses informasi.


Nah, hal serupa juga bakal Anda temui di Balai Kota Banjarmasin. Dalam sejumlah rapat koordinasi, kini disediakan seorang interpreter. Dia biasa duduk di sebelah kanan narasumber. Terpisah agak ke tepi panggung.


Namanya adalah Shintya Subhan. Kemarin (2/4) dalam musrenbang yang dihadiri pejabat pemerintah kota, provinsi dan pusat, kehadiran Shintya menjadi pemandangan unik. Tanpa lelah, dari pagi sampai siang, perempuan 37 tahun itu mengawal rapat.


Jika narasumbernya kebetulan berbicara dengan cepat, kian cepat pula tangan Shintya bergerak di udara. Jika lamban, makin perlahan pula irama pergerakan tangannya.


Tak hanya kedua tangannya yang cekatan, wajah Shintya juga ekspresif. Dia bisa memonyongkan bibir atau mengedipkan mata. Semua untuk mempertegas pesan yang ingin dia sampaikan.


"Saya mulai belajar bahasa isyarat sejak 13 tahun lalu. Persisnya sejak bergiat dalam pendampingan komunitas tuli di Banjarmasin," ujarnya.


Shintya memang sengaja memakai istilah tuli dan bisu. Alih-alih tuna rungu. Sebab, dari hasil kongres tahun kemarin di Kediri, istilah tuna rungu dianggap usang.


Alasannya, kaum difabel merasa istilah tuna rungu terdengar kasar. Bermuatan belas kasihan. "Istilah tuli bagi mereka justru lebih manusiawi," imbuhnya.


Perempuan 37 tahun ini pengajar di SDN Banua Anyar 8. SD di Banjarmasin Timur itu memang menyandang status sekolah inklusif. "Kebetulan dulu saya kuliah di jurusan pendidikan luar biasa. Tapi lebih banyak memperoleh ilmu dari komunitas," imbuhnya.


Di sekolah itu, Shintya mengajar tiga anak tuli. Di Banjarmasin saat ini diperkirakan ada 300 orang tuli. Jika ditotal untuk se-Kalsel, bisa mencapai 600 orang tuli.


Masalahnya, angka itu tak sebanding dengan jumlah interpreter. Di Banjarmasin saja, setahu Shintya hanya ada tiga orang yang cukup lihai memakai bahasa isyarat. "Susah sekali mencari seorang interpreter," keluhnya.


Jika sekarang pemko memanggilnya dalam rapat koordinasi atau seminar, Shintya mengaku senang. Dia menganggapnya sebagai pengabdian. Bahwa kaum difabel juga dilibatkan dalam rencana pembangunan kota.


Lalu, apa yang paling susah dalam pekerjaan ini? Tak lain istilah-istilah khusus dan teknis dalam pembangunan. Contoh tata ruang, neraca anggaran, limbah domestik, atau lelang proyek.


"Paling susah menerjemahkan istilah yang terlalu teknis. Solusinya, saya terbiasa membicarakannya dulu dengan kawan-kawan di komunitas tuli. Mencari padanannya dalam bahasa isyarat. Begitu ketemu, kami sepakati," pungkasnya. (fud)

Editor : Arief