Kasih Ibu Sepanjang Jalan. Kiasan itu tepat kiranya disematkan kepada Kasmiah, ibunda dari Stensen Pradarma Tiar. Demi sang anak tercinta, Kasmiah rela berbasah peluh bersepeda setiap hari membonceng sang anak ke kolam renang untuk latihan.
Fauzan Ridhani, Banjarmasin
Kalau anak-anak lain istirahat di rumah sepulang sekolah, Stensen Pradarma Tiar justru langsung bergegas berangkat latihan renang.
Karena memiliki disabilitas kaki kiri sejak lahir, otomatis perenang difabel yang akrab disapa Tiar ini harus mengandalkan bantuan sang Bunda, Kasmiah untuk menuju ke kolam renang Gelanggang Remaja di kawasan GOR Hasanuddin HM Banjarmasin. Sepeda pancal menjadi alat transportasi satu-satunya yang dimiliki keluarga Tiar.
Bertolak dari kediaman mereka di kawasan Jalan Tembus Mantuil, Basirih, Banjarmasin Selatan, dua beranak ini sudah harus berada di kolam renang pada pukul 15.00 Wita. Sepasang tongkat bantu Tiar digantungkan di setang sepeda.
Sedangkan, tas yang berisi perlengkapan renang Tiar diletakkan di keranjang depan sepeda. “Saya tidak bisa cepat mengayuh sepeda, soalnya berat apalagi sambil membonceng Tiar di belakang. Mau tak mau, berangkat dari rumah paling tidak mulai pukul 14.00 Wita. Perjalanan dari rumah ke kolam renang memakan waktu setidaknya satu jam, itupun kalau kondisi jalan lancar,” kata Kasmiah.
Diakui Kasmiah, membonceng Tiar dari rumah ke kolam renang sangat menguras energi. Kerudung dan bajunya kerap bernoda bercak bekas keringat. Apalagi, pada jam-jam seperti itu, matahari masih cukup terik. Kalau hujan lebat, mereka memilih berteduh. “Tapi kalau gerimis, kami tetap jalan,” sambung wanita 42 tahun itu.
Yang membuat Kasmiah kerap kesal adalah apabila ada perlengkapan putra pertamanya itu ketinggalan. Terkadang, karena buru-buru, kacamata renang, handuk, atau celana ganti tak disadari belum dimasukkan ke tas. “Karena perlu, mau tak mau saya harus balik lagi ke rumah.
Tapi, saya bisa lebih cepat sampai ke rumah, karena Tiar ditinggal di kolam renang untuk latihan fisik. Saya sudah harus kembali ke kolam renang, sebelum Tiar nyebur ke kolam,” ujar ibu dua putra tersebut.
Namun, apabila semua perlengkapan Tiar tak ada yang tertinggal, Kasmiah juga tetap meninggalkan Tiar di kolam renang.
Rupanya, Kasmiah melanjutkan gowesnya ke Pasar Baru untuk membeli mainan anak-anak. “Sehari-hari, saya jualan mainan anak-anak di kawasan SDN Kelayan Selatan. Kebetulan, anak saya yang kedua, Al Khatib juga bersekolah di sana. Nah, kesempatan belanja mainan untuk jualan itu, hanya pada saat Tiar latihan. Begitu saya selesai belanja di pasar, saya kembali ke Kolam Renang untuk menunggu Tiar selesai latihan dan pulang,” paparnya.
Aktivitas itulah yang dilakukan oleh Kasmiah sehari-hari. Ketika ditanyakan perihal keberadaan Ayahanda Tiar, Kasmiah merenung. “Saya sudah lama pisah dengan Bapaknya Tiar, tepatnya pada saat Tiar berusia 2,5 tahun.
Dia pergi begitu saja, padahal rasanya saya tidak pernah mengeluh sedikitput kepadanya. Ibarat di rumah tidak ada beraspun, saya diam saja. Tapi, dia memilih meninggalkan saya dan anak-anaknya,” kenang Kasmiah seraya enggan menyebutkan nama Ayahanda kandung Tiar itu.
Namun, belum lama ini, Kasmiah sudah menikah lagi. Itupun atas desakan dari Tiar sendiri. Menurut Kasmiah, Tiar tak ingin Ibundanya tak ada pendamping. “Alhamdulillah, pengganti saat ini lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan yang paling penting lebih sayang juga dengan dua putra saya. Namanya, Tajuddin,” kata Kasmiah sedikit tersipu.
Lantas kenapa, bukan Tajuddin yang sehari-hari mengantarkan Tiar ke Kolam Renang? Rupanya, Tajuddin disibukkan dengan pekerjaannya sebagai penjaga pabrik pemotongan kayu di Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala). Otomatis, Tajuddin juga jarang ada di rumah. “Paling-paling, pada saat akhir pekan baru ada di rumah. Selain itu, Tajuddin juga tak bisa bersepeda, kalau berangkat kerja, Dia mengandalkan jemputan temannya,” tutur Kasmiah.
Kondisi yang terbilang memprihatinkan itu justru ditahan Kasmiah dengan penuh rasa syukur. Hasilnya, Tiar yang dilahirkannya dalam kondisi difabel, ternyata mampu menjadi penghapus laranya. Lewat prestasi di cabang olahraga (cabor) renang, Tiar justru jadi sosok perbaikan ekonomi di keluarganya.
“Alhamdulillah, Tiar sempat dapat juara dan diganjar bonus puluhan juta Rupiah. Dari uang bonus itulah, Tiar berikan kepada saya untuk merenovasi rumah, biaya sekolah, dan membeli kasur. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya kami tidur di kasur, sebelumnya cuma alas tikar,” ujar Kasmiah.
Ke depan, Kasmiah berharap Tiar dan adiknya bisa sukses. “Saya selalu mendoakan supaya Tiar bisa jadi perenang hebat seperti yang diimpikannya. Saya juga berpesan supaya Tiar terus mengasah kemampuannya mengolah kerajinan tangan, karena Tiar sepertinya punya bakat di bidang itu,” sebutnya.
Sementara itu, Tiar mengaku prestasi yang dicapainya kini tak lepas dari berkah doa dan perjuangan sang Ibunda. “Karena beliau saya bisa semangat dan motivasi jadi juara. Saya kasihan dengan Ibu yang sudah capek mengantar saya latihan dengan naik sepeda, makanya saya harus jadi juara.
Kalau saya kalah, saya merasa seperti mengecewakan Ibu,” ujar siswa kelas kelas IX SMPN 11 Banjarmasin itu.
Tiar bertekad untuk mengukir prestasi lebih baik lagi pada ajang yang lebih tinggi. Sekarang, Tiar sedang persiapan menuju ajang Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) Kalsel 2018 di Kota Banjarbaru, April nanti. “Target saya dapat medali emas, supaya bisa dapat bonus lebih besar dan membelikan Ibu sepeda motor. Sehingga, nanti ibu tak perlu capek-capek mengayuh sepeda lagi,” tekadnya.
Di sisi lain, Ketua Umum National Paralympic Comitee (NPC) Kota Banjarmasin, Kursani mengaku salut dengan perjuangan Tiar. Menurutnya, Tiar merupakan atlet berkemauan keras dan tak mudah menyerah dalam mencapai target. “Saya yakin, ke depan Tiar mampu jadi atlet renang andalan Kalsel. Asalkan latihan konsisten, tak menutup kemungkinan Tiar akan mampu berlaga dan juara di ajang kejuaraan renang difabel nasional maupun internasional,” tandasnya.(oza/ay/ran)
Editor : Arief