Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kenalin, Cewek-cewek Cantik Penggiat Seni Rupa

Arief • Sabtu, 17 Maret 2018 | 06:40 WIB
kenalin-cewek-cewek-cantik-penggiat-seni-rupa
kenalin-cewek-cewek-cantik-penggiat-seni-rupa

Cantik, muda, bertalenta. Tiga kata itu paling pas untuk menggambarkan kelima sosok cewek ini. Luluk Nindya Rizky Amanda, Saufa Nurbaidha, Melinda Hairi, Ratu Ariaty Djamaluddin dan Widdya Ilawati. Penampilan, jelas oke punya. Dan yang paling spesial, mereka memiliki kegemaran serupa. Berporos pada seni rupa, tepatnya seni lukis dan menggambar. Berikut ulasannya.


 


Luluk Nindya Rizky Amanda
Handlettering & Botanical Illustration


Akrab disapa Lulu. Kegemarannya menjurus pada handlettering. Yakni teknik mengkreasi 26 huruf alfabet menjadi lukisan yang indah.


Kata Lulu, handlettering memiliki dua keunggulan. Pertama, lebih mudah mengekspresikan pesan dengan menuangkannya ke dalam tulisan indah. Kedua, nilai estetika serta makna di balik karya seni ini tidak bisa dipandang sebelah mata.


Lulu sudah lama menggeluti dunia seni rupa. Berbagai kerajinan tangan dan karya desain grafis pernah ia buat. 2015 lalu, awal mula cewek 23 tahun ini mempelajari handlettering. Kala itu, dia berniat membuat cendera mata untuk instansi tempatnya magang.


“Agar sedikit beda, aku membuat doodle Sasirangan dan lettering untuk kenang-kenangan tempat magangku,” ujarnya.


Bermodal tutorial handlettering di YouTube, ia pun semakin memantapkan langkah. Ditambah dukungan dari seniman yang tergabung dalam Bartiast (Borneo Art Enthusiast), membuat Lulu tak ragu dengan pilihannya.


Tak sekadar hobi, handlettering juga menjelma menjadi usaha. 2016 tepatnya, Lulu membentuk Productive Luniria. Yakni merek karya yang ia jual. Kata ‘Productive’ dipilih untuk mewakili dirinya sebagai jiwa muda yang berkarya. Sedangkan ‘Luniria’ adalah singkatan dari nama lengkapnya. “Di situ saya berhasil mengembangkan seni handlettering, watercolor dan botanical illustration. sebagian hasil penjualan juga disisihkan untuk amal,” ucapnya.


Agar tulisan utama makin cantik, Lulu mengkreasinya dengan botanical illustration. Teknik ilustrasi tanaman. Berupa kembang dan dedaunan. Teknik pewarnaannya menggunakan watercolor.


Kertas lukis 300 gsm, pensil, marking pen dan brush marker menjadi amunisi utama. Selain itu, spidol, palet berisi belasan puluhan tone warna dan kuas berbagai ukuran juga tersedia di tasnya. Peralatan tersebut dengan mudah ia peroleh dari stationary ataupun toko-toko online.


Untuk menghasilkan satu karya berukuran A4, Lulu membutuhkan waktu sehari. Menentukan ide dan tema adalah langkah pertama. Kedua menentukan kalimat lettering. Selanjutnya membuat garis dasar. Berupa guratan samar pensil membentuk kalimat dan dekorasi di sekelilingnya. “Langkah akhir, diamkan sesaat untuk proses pengeringan,” ucap mahasiswa Uniska Banjarmasin tersebut.


Dalam sebulan, Lulu menerima pemesanan maksimal 5 kali. Staff administrasi di BNN Provinsi Kalsel itu sering diminta membuat ucapan selamat ulang tahun, pernikahan dan kelulusan. Lebih dari 30 karya pernah ia buat semenjak membentuk Productive Luniria.


“Pertengahan 2017 saya mendapat orderan ukuran A3 dan dikirimkan ke Jawa Timur,” bebernya. Dengan mengirimkan pesan langsung di akun Instagram @productiveluniria, siapa saja dapat memesan karya Lulu.


Bagi lulu, seni yang satu ini mengajarkannya banyak hal. “Memanfaatkan waktu, tenaga dan mengasah kreatifitas menjadikan seni ini sangat berkesan bagiku,” pungkasnya.



Saufa Nurbaidha
Karikatur


Selanjutnya ada si cantik Saufa. Dia adalah karikaturis handal. Menggambarkan objek konkret dengan cara menonjolkan salah satu bagian adalah ciri khas seni ini.
Contohnya menggambarkan kepala lebih besar dari bentuk badan objeknya. Sehingga karya ini akan menimbulkan kesan lucu dan menggemaskan oleh para penikmatnya.


Lewat akun Instagram @karikatur_kb2 dan @saufa_ufa, gadis kelahiran Banjarmasin, Mei 1993 itu membagikan hasil karyanya. Menggunakan krayon, karikatur Saufa terlihat berani dari segi warna.


Sejak enam tahun lalu, Saufa mulai menggeluti dunia menggambar ini. Tepatnya ketika ia masih tergabung dalam lembaga pers mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ULM.


Kala itu dirinya ditunjuk sebagai karikaturis buletin kampus. Terbit satu kali dalam sebulan. Bertahun-tahun terlibat di media kampus itu, membuatnya terbiasa menggambar.


Saufa juga pernah menjuarai lomba karikatur bertema ‘cerdas memilih’ beberapa tahun lalu. Hal itu semakin membulatkan tekadnya untuk lebih mendalami seni ini. Sampai akhirnya ia pun membuka jasa menggambar.


Dalam selembar kertas berukuran A4, dia bisa menggambarkan satu hingga belasan karakter wajah. Karikatur Saufa seringkali dijadikan kenang-kenangan dan ucapan selamat. Tema gambarnya berbeda-beda. Tergantung kebutuhan pemesan. Ada yang diperuntukkan pada pekerja kantoran, kelulusan mahasiswa dan hadiah ulang tahun. “Karikatur wisata Banjarmasin, hadiah pernikahan, karikatur kayu dan mahar juga pernah aku buat,” sebutnya.


Soal tarif, Saufa mematok harga Rp85 ribu untuk satu karakter karikatur berukuran kertas A5. Jika ada pemesan yang menginginkan foto bersama dalam satu karikatur. Tarifnya ditambah Rp25 ribu per satu karakter wajah dan berlaku kelipatan.


Peralatan dan bahan yang dipakai terbilang simpel. Pensil, kertas gambar tebal dan krayon. Untuk menghasilkan sebuah karikatur, Saufa membutuhkan waktu sekitar lima jam.


“Langkah pertamaku membuat gambar sesuai dengan foto contoh. Terutama di bagian wajah kemudian berlanjut ke tubuh. Setelah itu baru pewarnaan,” jelas Saufa.


Karya Saufa sudah menjadi perhatian banyak orang. Dalam sepekan dia bisa menerima pemesanan 2 hingga 7 buah karikatur.


Selain jadi sumber penghasilan, karikatur mengajarkan Saufa ketelitian. Seni ini juga jadi cara baginya untuk memanfaatkan waktu dan berkomunikasi dengan banyak orang.



Melinda Hairi
Watercolor Painting


Cewek satu ini menjadikan cat air sebagai media utama lukisannya. Kelebihannya terletak pada kesan warna transparan yang dihasilkan oleh cat tersebut. Sehingga tiap lapisan detail gambar akan terlihat jelas. “Itulah yang membedakannya dengan cat minyak dan akrilik,” ujar Melinda.


Selain cat air, peralatan seperti water brush, kuas berbagai ukuran dan kertas canson bertekstur medium sering ia pakai. Awalnya Melinda tertarik untuk membuat manga. Seni lukis karakter fiksi yang sering dilakukan oleh seniman Jepang.


2012 menjadi tahun pertamanya belajar. Melukiskan portrait wajah orang jadi kegemarannya. Kala itu dia sering menciptakan karakter sendiri. Beberapa tahun kemudian dirinya perlahan mengubah konsep, menjadi portrait beraliran realis. Mengacu pada foto-foto asli. Dan inilah yang digeluti Melinda hingga sekarang.


Dalam waktu 5 jam Melinda berhasil menyelesaikan satu karyanya. Dengan tahap pertama membuat sketsa, menggunakan pensil. Lalu shading. Yakni membentuk segi-segi detail wajah menjadi semakin nyata. Terakhir, pewarnaan. Ada dua teknik, yakni wet on dry, dengan mengaplikasikan cat air pada kertas kering. Dan wet on wet, mengaplikasikan cat air pada kertas yang dibasahi terlebih dahulu. “Catnya menyebar karena kertasnya basah duluan. Efek gradasinya lebih halus dan seringkali aku terapkan pada bagian pipi,” jelas putri pasangan Rulian Hairi dan Kumala itu.


Lewat akun @hrmelinda, ratusan karyanya terpampang nyata. Terdiri dari koleksi pribadi dan pesanan. Karakter-karakter Justice League dan member EXO, Park Chanyeol pernah ia lukis. “Aku sendiri lebih concern pada koleksi pribadi ketimbang dijadikan bisnis. Namun aku juga tidak menutup kemungkinan ketika ada orang yang minta dibuatkan portrait watercolor,” ucapnya.


Untuk lukisan satu wajah ukuran A4, Melinda mematok harga Rp300 ribu. Lukisan dengan karakter wajah lebih dari satu dikenakan biaya Rp100 ribu dan berlaku kelipatan. Eitss, tenang. Harga tersebut juga bisa dinego. Tergantung kerumitan dan warna cat yang akan dipakai.


Menurut gadis kelahiran Pangkalanbun, Juli 1994 itu, melukis menggunakan watercolor lebih simpel ketimbang digital. Bermodalkan beberapa palet, water brush dan buku sketsa kecil, dia bisa melukis di mana dan kapan saja. “Ketika ada waktu luang, ketimbang main HP aku lebih memilih coret-coret portrait. Lebih asyik dan menghasilkan. Dalam setahun, lebih dari seratus gambar sudah aku buat,” tegasnya.



Ratu Ariaty Djamaluddin
Sketch Portrait


Nama bekennya Tytae Djamal. Cewek kelahiran 28 Mei 1990 ini berkutat di dunia sketsa wajah sejak tahun 2008. Pensil dengan berbagai tingkat ketebalan menjadi amunisi utamanya.


Menggunakan kertas canson bertekstur sedang, lukisan berbagai macam wajah pernah ia lukis. Alumni FKIP ULM itu mengaku cinta pada dunia sketsa wajah sejak ia duduk di bangku kuliah. Membentuk garis-garis kontur wajah menjadi hal yang menarik baginya.


Sejak kecil dia memang jago menggambar. Tapi bukan pada sketsa wajah. Melainkan desain busana. Berbagai bentuk pakaian pernah ia lukis. “Semakin bertambah usia, ketertarikan aku berubah. Mulai dari melukis pemandangan sampai akhirnya lukisan realis wajah manusia sekarang ini,” tuturnya.


Seniman serupa, Jennifer Haley jadi salah satu inspirasi Tytae mendalami seni lukis tersebut. Objek-objek fantasi portrait karya Jennifer sangat membuatnya terpukau. Dia juga sering melihat video tutorial pelukis portrait handal dunia. Stanislav Prokopenko dari Rusia salah satunya.


Adegan dalam film juga jadi sumber inspirasi. Seperti adegan Lady Galadriel mengecup kening Frodo Baggins di film The Lord of The Ring. Gambar tersebut juga menjadi karya sketch portrait pertama yang dihasilkan oleh Tytae. Waktu yang dibutuhkan terbilang singkat. Yakni sekitar 30 menit, kedua karakter tersebut bisa terselesaikan.


Belasan tipe pensil ia miliki. Mulai dari tipe H series, F dan B series. “Semua disesuaikan dengan kebutuhan shade wajah. Kalau mau yang samar, pakai yang H series. Sedangkan yang tebal bisa memilih pensil bertipe B hingga 8B,” jelas Tytae.


Tidak ada jam khusus bagi Tytae untuk melukis portrait. Pagi, siang, sore ataupun malam. Ia juga membuka orderan portrait sejak tahun 2012.


Lukisan berukuran A4 memakan waktu hingga 3 hari. Sebab, Tytae juga seorang freelancer production house yang bergerak di bidang videografi. “Kalau kerjaan di PH sudah aman, orderan lukisan bisa aku kebut dua hari selesai,” ujarnya.


Soal tarif, Tytae mematok harga dasar Rp300 ribu. Tarif bertambah Rp100 ribu untuk karakter lebih dari satu wajah. Lukisan terbesar yang ia buat berukuran A3.


Dari kertas kosong menjadi sebuah lukisan utuh, Tytae setidaknya melakukan empat langkah. Pertama membuat rangka, pemetaan shadow dan lighting. Kemudian tahap shading. Membuat gambar menjadi lebih berdimensi dengan memainkan gradasi warna pensil. Terakhir finishing. Dia menggunakan paper stamp dan penghapus elektrik.


“Tiga tahap awal punya kerumitan yang berkesinambungan. Ketika keliru di satu tahap, maka akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Dari seni inilah aku belajar kesabaran, kerja keras, tekun dan keindahan,” sebutnya.



Widdya Ilawati
Pappercut


Jika yang lain menggunakan pewarna dan berbagai jenis pensil sebagai perlengkapan utama, tidak bagi Widdya. Karyanya menggunakan kertas sebagai bahan dasarnya. Namanya seni papercut. Yakni salah satu jenis seni lukis lewat kertas-kertas yang dipotong.


Widdya menggunakan kertas berjenis buffalo, karton dan fancy. Menggunakan pensil 2B. Untuk proses ini, Widya membutuhkan waktu 5 hingga 10 menit. Wajar, cewek kelahiran Banjarmasin, Agustus 1992 itu memang mahir menggambar.


Selanjutnya langsung ke tahap pemotongan. Disinilah klimaks dari seni pappercut. Alat potong yang digunakan Widdya adalah cutter dengan berbagai mata pisau. Ada yang berbentuk seperti cutter biasa, melengkung hingga tajam di ujung. Cutting matt, atau alas pemotong juga dipakai pada tahapan ini. Prosesnya memakan waktu hingga 5 jam, untuk ukuran A5. “Sedangkan yang A4 full pola bisa menghabiskan waktu hingga 12 jam,” ujarnya. Hasilnya karyanya dikemas ke dalam figura.


Widdya baru menggeluti seni papercut. Tepatnya sejak awal tahun 2018. Sebelumnya ia menggeluti seni lukis menggunakan cat air.


Staff administrasi PT. Surya Satrya Timur ini awalnya tak sengaja mengenal papercut. Berawal dari iseng-iseng mengisi waktu senggang bekerja, ia pun melipat-lipat kertas dan memotongnya. Hampir setiap hari ia melakukan hal serupa.


“Akupun mencoba pola yang rumit seperti motif-motif batik. Masih menggunakan gunting, akupun sempat kesulitan memotong bagian-bagian kecilnya. Akhirnya terpikirlah membeli cutter khusus untuk papercut lewat toko online,” tutur Widdya.


Naho Katayama, cutterist asal Jepang jadi inspirator Widdya. Papercut bunga tiga dimensi Katayama membuatnya makin menggemari seni ini. Ia juga berniat akan menggabungkan papercut dengan watercolor. “Entah bagaimana hasilnya, aku sudah kepikiran mau mengkolaborasikan dua jenis seni ini. Ada kemungkinan suatu saat aku bakal open commision papercut. Terima order siluet salah satunya,” pungkasnya Widdya. (mr-150/nur)

Editor : Arief