Berniat ingin merantau tanpa ada tujuan, Suntoro akhirnya berhasil menjadi pengusaha pentol sukses di Kabupaten Tapin. Seperti apakah kisahnya?
RASIDI FADLI, Rantau
Datang bersama istri dan anaknya di Kabupaten Tapin pada tahun 2010 silam, Paman Toro sapaannya tidak terpikir bisa sukses berjualan pentol.
Awal memulai pekerjaan di Tapin, dia bekerja serabutan. Siang menjadi pengumpul besi keliling dan malam hari menjadi tukang urut.
"Hanya bertahan tiga bulan menjadi pengumpul besi keliling," ucapnya. Gara-garanya, ada isu bahwa pengumpul besi rawan dituduh sebagai maling. "adi lebih baik saya berhenti," ucapnya ringan.
Dia kemudian lebih fokus menjadi tukang urut. Profesi yang juga dilakukan orang tuanya dulu.
"Dalam memijat pelanggan, saya tidak pernah menganggarkan upah, tetapi seikhlasnya saja, " ucapnya.
Rupanya, menjadi tukang urut malam hari tak membuatnya puas. Ada waktu siang yang longgar. Pria kelahiran 1985 ini akhirnya bekerja lagi sebagai kuli bangunan. Baru pada tahun 2013, dia mulai berpikiran lagi untuk berdagang. Awalnya dia ingin berjualan siomay.
"Karena bahan baku sulit saya menggantinya dengan berjualan pentol," jelasnya.
Modal awal berjualan pentol, Paman Toro meminjam kepada keluarganya. Hal ini tak berjalan mulus, karena dia tidak dipercaya akan sukses di bidang itu.
Hal itulah yang kemudian melecutnya. "Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa sukses," ceritanya.
Rupanya pengalamannya sebagai tukang urutlah yang banyak membantu dalam menjaring pelanggan, terutama dari pihak kepolisian polres Tapin.
"Dari kenal satu orang personel kepolisian, sampai bisa kenal seluruh anggota personel Polres Tapin," ceritanya yang kini memiliki lima orang pegawai dalam usaha pentol ini.
Toro bukan tanpa kesulitan. Di tahun 2014, pertambangan dan perkebunan sawit di Tapin dan Kalsel keseluruhan mengalami krisis. "Imbasnya, dagangan saya yang sepi peminat," ucapnya.
Di tahun itu, karena kesulitan modal, Toro berhenti menjadi penjual pentol . Dia kembali menjadi tukang urut
"Bahkan, waktu itu pikiran saya sudah tidak karuan dan berniat untuk pulang kampung ke Bojonegoro," ucap Ayah dari bayu, 9, tahun, ini.
Nah, saat sudah hendak pulang kampung, ada anggota kepolisian Polres Tapin yang menawarkan bantuan kepadanya. "Kalau kamu mau membuka usaha, apa yang kamu inginkan," ucap Toro, mengutip ucapan perwira Polisi itu.
Akhirnya diputuskannya untuk berjualan pentol lagi. Perwira itu kemudian memberi ide kepada Toro untuk mencoba hal baru dalam berdagang pentol.
"Saya mulai berinovasi, dengan membuat beberapa rasa untuk pentol saya, dan mengubah nama gerobak saya yang dulunya Pentol Mas Toro, berubah menjadi Pentol Paman Toro," jelasnya.
Tercetuslah pentol paman Toro dengan varian rasa mulai dari pentol daging, isi telur, isi coklat, isi mercon. "Diantara itu, yang paling banyak dibeli yaitu isi keju dan mercon," paparnya.
Dua bulan kemudian, berkat bantuan promosi dari semua anggota Polres Tapin di media sosial, akhirnya pentolnya menjadi ramai didatangi pengunjung.
"Pernah waktu itu, orang-orang antre panjang di Polres Tapin, untuk membeli pentol saya," kenangnya.
Dia harus mengakui, kesuksesan yang ia dapat sekarang, sedikit banyak bantuan dari personel kepolisian Polres Tapin.
"Ditambah, saya menjunjung tinggi kepuasan pelanggan," tuturnya, yang tinggal di Jalan Impat Desa Binderang Kecamatan Lokpaikat.
Hasilnya dahsyat. Bayangkan saja, sebulan Toro bisa meraup omzet sebesar Rp 250 juta.
"Dalam sehari saya bisa memproduksi 60 kg pentol daging, dengan dibantu sepuluh karyawan saya di rumah," tuturnya.
Pelanggan paman Toro sudah tersebar di semua Kabupaten atau Kota di Provinsi Kalimantan Selatan, bahkan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
"M aparat kepolisian, pentol saya sudah terkenal di Mabes Polri," tuturnya.
Bagaimana bisa? Ternyata pentol paman Toro selalu dibawa oleh perwira di Polres Tapin jika berkunjung ke Mabes Polri.
" Kapolres Tapin waktu itu, apabila ingin ke pusat, selalu pesan pentol saya beberapa kotak untuk dibawa," bebernya.
Banyaknya pelanggan Paman Toro, juga tidak terlepas dari aksinya yang selalu melakukan swafoto dengan pelanggan, yang kemudian diunggahnya di media sosial Instagram.
"Itu juga bertujuan untuk mempromosikan pentol saya," pungkasnya.(ay/ran)