Mixed Martial Arts (MMA). Seni bela diri gabungan yang belakangan mulai digandrungi warga Banjarmasin. Tak cuma laki-laki, tapi juga perempuan.
Di Banjarmasin baru ada dua tempat latihan MMA. Di Komplek Banjar indah Permai 2, di The Hayati Resident Gedung 1 lantai 2 dan di Jalan Kayu Tangi dekat STM Hasnur Grup.
Tempat berlatih MMA disebut dojo. Mirip sebutan untuk tempat latihan seni bela diri Jepang, seperti judo dan karate. Tak ada jadwal latihan khusus. Member bebas mementukan hari.
Beberapa waktu lalu, Radar Banjarmasin menengok dojo MMA di Kayu Tangi. Kala itu pukul 20.00 Wita. Terlihat ada lima perempuan yang bersiap untuk sedang berlatih. Mereka adalah, Sari, Rina, Nisa, Dina dan Histi.
Sebelum mulai latihan, mereka diminta pelatih melakukan pemanasan. Durasinya sekitar lebih 15 menit. Seperti olahraga lainnya, proses ini bertujuan agar otot-ototnya tak kaget. Setelah itu, lathan pun dimulai.
Latihan berlangsung sekitar 2 jam. Diawali dengan materi fisik. Seperti mengangkat barbel atau ban, biasa mereka menyebut tabata crossfit. Gunanya untuk melatih kekuatan. Durasinya sekitar 15-30 menit.
Setelah itu, kelima perempuan ini melakukan shadow boxing. Atau praktik meninju bayangan sendiri. Metode tersebut untuk mengasah keterampilan seni bela diri tanpa menggunakan tas atau perisai.
Next, dilanjutkan tahapan memukul samsak dan terakhir masuk ke bagian teknik. Kelimanya mengaplikasikan berbagai teknik pukulan seperti jab (pukulan lurus ke depan), straight (pukulan keras mengarah lurus ke depan), hook (pukulan arah setengah lingkaran) serta uppercut (Pukulan keras yang bisa dilakukan dengan arah vertikal).
Tak cuma pukulan, teknik tendangan dan bantingan juga dicoba. Seperti round kick (tendangan memutar) dan straight kick (tendangan lurus). Kalau bantingan ada fire man carry (teknik gendong pemadam kebakaran), double leg take down (menyerang kedua belakang lutut lawan) serta single leg take down (meraup kaki dengan tangan dan menjatuhkan lawan).
Sesi latihan pun berakhir. Radar Banjarmasin berkesempatan ngobrol dengan tiga dari lima member perempuan tersebut. Yakni Rina, Dina dan Histi.
Pertanyaan dasarnya cuma satu. Kepana memilih MMA? Bukan yoga atau jumba.
Jawaban pertama datang dari Rina. Dia mendaftar beberapa bulan lalu. Perempuan berusia 25 tahun ii memilih MMA lantaran merasa tertantang. Karena tak sekadar olahraga, tapi seni bela diri.
Selama menjalani latihan, dia diajari berbagai teknik bela diri. Mulai dari pukulan, tendangan hingga kuncian. Melelahkan iya, tapi manfaat yang dirasakan Rina besar. Sebagai perempuan, bobot badannya makin ideal.
“Manfaatnya berat badan jadi stabil tidak melar. Juga dapat ilmu boxing,” kata warga Jalan Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah itu.
Dina sepakat dengan Rina. MMA efektif menurunkan berat badan. Karena latihan yang dijalani maksimal membakar kalori.
Perempuan 23 tahun ini sudah sering mengikuti berbagai olahraga lainnya. Mulai dari senam, fitness hingga yoga. Namun pilihannya tetap MMA. “Sekarang sudah turun sekitar 10 kilo dari 67 kg jadi 57 kg,” sebutnya. Dia sudah setahun menjadi member MMA.
Menurut Dina, MMA punya unggul. Meski banyak makan, berat badannya tetap stabil. “Olahraga jalan, ngemil tetap jalan,” ucapnya sembari tersenyum.
Lalu, bagaimana dengan Histi? Dia juga sudah setahun jadi member MMA. Pernyataannya sedikit berbeda. Bela diri keras itu tak cuma efektif menurunkan berat badan, tapi juga menaikkannya.
Sebelum resmi menjadi member, berat badan Histi hanya 48 Kg. Setelah beberapa bulan menjalani latihan, bobotnya mulai naik. Bahkan sekarang sudah mencapai angkai ideal.
“Sekarang sudah 50 kg. Kalau naik paling satu atau dua kilo saja,” ungkapnya.
Warga Jalan Mesjid Jami ini juga menyebut, aktivitas yang diikutinya bermanfaat untuk menjaga diri. “Badan jadi sehat jarang sakit, kalau ilmu bela diri bisa untuk pertahanan diri,” kata perempuan berusia 20 tahun itu. (gmp/at/nur)
Editor : Arief