Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Perajin Tajau yang Hanya Tersisa Satu di Banjarmasin

Arief • Jumat, 23 Februari 2018 | 10:41 WIB
kisah-perajin-tajau-yang-hanya-tersisa-satu-di-banjarmasin
kisah-perajin-tajau-yang-hanya-tersisa-satu-di-banjarmasin

Gentong penampungan air yang terbuat dari pasir dan campuran semen atau biasa disebut dengan tajau masih bisa ditemui di Jalan Pangeran RT 5, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Namun, usaha pembuatan penampungan air tradisional ini hanya menyisakan satu rumah saja yang hingga kini masih terus bertahan.


Wahyu Ramadhan, Banjarmasin


Masrani sedang asyik menyeruput segelas teh. Pria 60 tahun tersebut langsung berdiri menyambut siapapun yang datang. Bahkan, langsung menawarkan tajau yang berjejer rapi, alias selesai dibuat. "Oh, saya kira ingin beli tajau," ujarnya. Kemudian mempersilakan penulis duduk-duduk di teras.


Masrani menuturkan bahwa hingga kini cukup banyak masyarakat yang masih setia menggunakan tajau sebagai tempat penampungan air. Mayoritas pembeli tinggal di pinggiran sungai. Seperti daerah Aluh-Aluh di Kabupaten Banjar hingga daerah Marabahan yang terletak di Kabupaten Barito Kuala.


Banyaknya peminat membuat permintaan kian meningkat. Dalam sehari ketiga karyawannya mampu menghasilkan sepuluh tajau. Sebuah tajau dijual dari harga Rp35 ribu hingga Rp70 ribu. Selain dijajakan di tempat pembuatan, tajau juga dijajakan dengan menggunakan perahu. "Sebelum adanya tajau berbahan plastik atau lainnya, kami bisa memproduksi lebih dari sepuluh perhari," ungkapnya.


Masrani tak menampik bahwa masyarakat sekarang lebih menyukai peralatan yang serba praktis. Termasuk tempat penampungan air yang terbuat dari bahan plastik. Selain ringan dan harganya terjangkau, bahan plastik juga tak mudah rusak.


Musim hujan juga jadi kendala usahanya. Tajau yang dibuat akan menjadi lambat kering. Padahal pengeringannya sangat bergantung pada terik matahari. "Kalau sudah seperti itu, paling hanya bisa membuat tiga sampai lima tajau saja perhari," ujarnya.


Selain digunakan sebagai tempat menampung air, tajau juga mempunyai kelebihan lain. Mampu menjernihkan air serta mengubah rasa air yang sebelumnya terasa payau. "Tajau cocok bagi masyarakat yang masih bergantung dengan air sungai," tegasnya.


Masih bertahannya masyarakat yang membuat tajau di kawasan Kelurahan Kuin Utara diapresiasi oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Hal itu dibuktikan dengan dimasukkannya kawasan tersebut menjadi salah satu Kampung Wisata.


"Itu dilakukan sebagai salah satu bentuk dukungan kepada masyarakat yang terus membuat kerajinan tajau di tempat tersebut," ujar Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Khuzaimi.


Perajin tajau masih mempertahankan model lama. Hanya dibuat polos tanpa adanya sentuhan lain yang mampu membuat tajau lebih menarik hingga bernilai tinggi. "Kalau dimodifikasi atau dibikin dengan ukuran kecil, kemudian diberi ukiran seperti lukisan mungkin bisa lebih menarik," sebut Rizaldi, pengunjung di tempat tersebut. Supaya bisa menjadi oleh-oleh bagi para wisatawan.(at/dye)

Editor : Arief