Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Bengkel Asal Banua Anyar yang Mereplika Supercar

Arief • Rabu, 21 Februari 2018 | 11:10 WIB
kisah-bengkel-asal-banua-anyar-yang-mereplika-supercar
kisah-bengkel-asal-banua-anyar-yang-mereplika-supercar

Lamborghini Aventador dibandrol Rp11,8 miliar. Agus Cahyo mereplikasi supercar itu hanya dengan Rp350 juta. Pembuatan Lamborghini KW ini bermula dari tantangan seorang teman.


SYARAFUDDIN, Banjarmasin


BENGKEL milik Agus beralamat di Jalan Pangeran Hidayatullah No 15 Banua Anyar. Namanya CF Variasi. Penulis awalnya mengira CF singkatan dari bahasa asing atau istilah khusus dalam dunia otomatif, ternyata bukan.


"CF singkatan dari Cahyo Febry. Febry adalah nama anak saya. Agar membawa berkah," ungkapnya, kemarin (20/2). Perawakan lelaki 40 tahun ini tinggi besar dengan model rambut semi gundul.


Seperti kebanyakan tempat modifikasi mobil, bengkel ini bising dengan bunyi las. Berbau menusuk oleh lem, dempul dan fiber basah. Umur CF Variasi kini menginjak tahun kedelapan.


Namun, minat Agus pada dunia otomotif sudah merentang seperempat abad. Lulus dari STM (Sekolah Teknik Mesin), Agus mengambil Jurusan Teknik Elektro di ITS (Institut Teknologi Surabaya). "Tapi elektro tak pernah mengalihkan kecintaan saya pada otomotif," tegasnya.


CF Variasi sering kedatangan penggila modifikasi mobil. Pertengahan tahun 2017, Agus berbincang dengan seorang pengusaha sukses yang juga teman baiknya. Dia mengutarakan impiannya untuk memiliki sebuah Lamborghini.


Masalahnya, supercar dengan yang terkenal dengan logo banteng itu luar biasa mahal. Si teman (Agus menolak menyebutkan namanya) kemudian berniat memesan Lamborghini KW dari Bandung. Karena baru modifikator asal ibu kota Jawa Barat itulah yang sanggup membuat tiruan Lamborghini.


"Dia pikir, kenapa harus repot-repot memesan ke Bandung? Kenapa tidak saya saja yang menggarapnya? Saya merasa ditantang," kisah warga Sungai Andai ini. Misinya adalah meniru Lamborghini semirip mungkin. Dari rangka luar hingga interior ruang kemudinya.


Proyek setengah sinting itu pun dimulai pada Agustus 2017. Modalnya sebuah mesin Kijang tahun 1992. Ditambah rangka mobil Corolla DX keluaran tahun 1975. Dengan hitung-hitungan bakal menghabiskan ongkos sekitar Rp350 juta.


Memasuki bulan ketujuh pengerjaan, proses peniruan sudah mencapai 60 persen. "Jadi lamban karena full manual. Rangkanya kami bangun dengan palum, betel dan alat las doang. Pakai tangan semua," ujarnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Agus sendiri pernah mengunjungi Bandung. Secara perlengkapan, bengkel disitu disebutnya punya peralatan yang jauh lebih lengkap dan siap. "Tetap saja mereka perlu waktu 11 bulan untuk mereplika Lamborghini," tukasnya.


Sosok utama dalam pengerjaan ini adalah Amang Idar. Di CF Variasi dia punya spesialisasi sebagai tukang las. Pria 42 tahun ini asli kelahiran Kandangan, Hulu Sungai Selatan. "Benar-benar asli Banua, Kandangan cing!" tukas Agus tergelak.


Amang Idar ternyata seorang pemalu. Tak mudah untuk menanyainya. Dia lebih banyak diam mendengarkan. Kalau pun mau menjawab, kalimatnya dihemat dengan ketat.


"Saya ngelas sejak tahun 1992. Waktu itu diajak sepupu ngebengkel," ujarnya. Awalnya dia bekerja di Samarinda. Khusus mengerjakan mobil-mobil besar jenis hardtop.


Ditanya kesulitan, jawabannya simpel, seumur hidup Idar tak pernah melihat langsung Lamborghini. "Seandainya di sini ada Lamborghini, gampang membangun rangkanya. Saya bisa tahu detil dan ukurannya. Misal jarak antara pintu dengan ban depan berapa sentimeter," jelasnya.


Praktis, Idar bekerja dengan hanya melihat-lihat foto Lamborghini yang banyak beredar di internet. Di tangannya, dia juga memegang sebuah mainan mobil-mobilan Lamborghini berwarna hitam doff. "Dari mainan ini saya membangun rangkanya dalam pikiran," ujarnya.


Meski baru separo lebih, rangka utama mobil dari moncong hingga buritan telah beres dikerjakan. Bentuk Lamborghini sudah mulai tampak jelas. Sekarang, Idar disibukkan dengan bagian pintu dan kap mesin. Lamborghini ini rencananya akan disemprot dengan cat warna emas yang mewah.


Kembali pada Agus, jika rampung, dia yakin ini bakal menjadi tiruan Lamborghini pertama di Kalsel. Atau bahkan di Kalimantan. "Kalau Bandung saja bisa, mengapa Banjarmasin tidak. Ini bakal bikin heboh," ujarnya bersemangat.


Agus memang sudah lama keranjingan mengikuti kontes mobil modifikasi. Terakhir kali, dia memenangi The Best Indonesian Modified di Balikpapan pada kontes Hot Import Night (HIN) 2017. Dia memodifikasi interior mobil Avanza dengan ornamen kain Batik.


Itu pula yang sering membuatnya kepikiran. Banjarmasin disebutnya selalu kalah soal even otomotif dengan Balikpapan atau Palangkaraya. Langganan untuk dilewatkan para promotor even level nasional dan internasional. "Dengan Banjarbaru saja kalah. Karena mereka punya Lapangan Murjani, kita tidak. Fasilitas kita minim sekali," keluhnya. (at/nur)

Editor : Arief