Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Soetji Nurani sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im

Arief • Jumat, 16 Februari 2018 | 14:36 WIB
soetji-nurani-sebagai-kelenteng-dewi-kwan-im
soetji-nurani-sebagai-kelenteng-dewi-kwan-im

Bangunan tempat ibadah, berdiri megah di beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin. Salah satunya adalah kelenteng Soetji Nurani.


ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.


Ketika masuk ke area kawasan kelenteng, nuansa warna merah dan emas terlihat mendominasi bangunan. Warna itu konon merupakan simbol kemakmuran bagi warga keturunan. Aroma dupa atau hio merebak di seluruh ruangan. Beberapa orang terlihat sibuk membersihkan altar tempat persembahan, Kamis (15/2) pagi. Sebagian lainnya ada yang tengah sembahyang.


Pengurus di kelenteng itu tengah menyiapkan acara sembahyang menghadapi hari besar Imlek. Biasanya pada malam Imlek, sekitar pukul 23.00 Wita masyarakat Tionghoa akan berdatangan untuk sembahyang di Kelenteng.


Sekretaris Pengurus Kelenteng Soetji Nurani, Tiono Hasan menceritakan kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1898. Bukan hanya tua, juga terbesar di Banjarmasin. Kalau dihitung sekarang usianya sudah 119 tahun.


Letaknya di pertigaan Jalan Kapten Pierre Tendean, Banjarmasin Tengah. Bangunan ini berada di tepian Sungai Martapura. Dibangun di tepian sungai ini ternyata ada makna dalam keyakinan kuno orang China.


Masa itu ada dua jenderal yang berlayar ke Banjarmasin. Namanya, The Sin Yoe dan Ang Lin Thay. Warga China memang gemar berdagang. Nah, kedua jenderal itu datang juga sebagai pedagang. Kebetulan di kawasan jalan ini mayoritasnya China, mereka kemudian membangun kelenteng. Arsitekturnya juga seperti istana-istana raja-raja China. “Kelenteng ini sengaja dibangun di dekat sungai karena sesuai feng sui dan juga mayoritas warga di sini adalah China,” kata Tiono Hasan ketika ditemui di ruang kerjanya persis bersebelahan dengan kelenteng.


Sumber air seperti sungai dan laut diyakini dalam ajaran Tri Dharma membawa ketenangan. Jadi, apapun yang menghadap ke sumber air diyakini akan mendapat imbas energi positif. Dalam membangun kelenteng harus memenuhi dua unsur ini, angin dan air. Supaya membawa ketenangan pikiran, jiwa dan raga bagi masyarakat. “Kalau membangun berdasarkan kedua unsur itu harapannya akan bagus ke depannya, membawa ketenangan bagi semua yang beribadah di dalam,” tambahnya.


Kelenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa atau di Indonesia sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu.


Di kelenteng ini masih terlihat barang-barang kuno yang masih terawat. Seperti patung, guci, tempat sembahyang dan cawan-cawan yang terbuat dari kuningan. Beberapa peralatan tersebut dulu langsung dibawa oleh para pendiri klenteng dari daratan China. Ada juga lonceng yang tergantung di tiang kanan dan beduk di tiang kiri. “Kelenteng ini sudah tiga kali direnovasi,” katanya.


Soetji Nurani ini namanya mengambil makna dari Dewi Kwan Im yang artinya belas kasih dan penyayang. Di setiap kelenteng, dewa utama yang disembah berbeda-beda. “Di kelenteng ini dewa utamanya adalah Dewi Kwan Im,” katanya.


Selain itu, Hasan menyebut ada 9 dewa lainnya yang juga menjadi penghuni di Kelenteng Soetji Nurani. Thien Khung (Tuhan), Cu Sen Niang Niang, Thian Shang Sheng Mu, Kwan Ti Shen Chiun, Fu The Cen Sen, San Ciau Cu Se, Tai Swi, dan terakhir adalah dewa Men Sen.


Masing-masing dewa mempunyai kemampuan yang diyakini dapat mengabulkan semua permohonan doa. Cu Sen Niang Niang adalah dewi yang bisa memberikan kehamilan. Dewa Thien Sang Sen Mu dikenal sebagai dewi penguasa laut. Kwan Kong adalah dewa yang setia dan jujur. Dewa Fu The Cen Sen disebut juga dengan dewa tanah.


San Ciau Cu Se adalah dewa yang disembah Konghucu, Taoisme dan Buddha. Dewa Tai Swi atau Panglima Tahunan. Dia merupakan salah satu dewa yang sangat dihormati dan ditakuti dalam kepercayaan Tionghoa. Dewa Men Sen adalah merupakan dewa penjaga pintu.(at/dye)

Editor : Arief