Untuk mencapai kesuksesan tak harus menunggu tua. Kerja keras! Itu menjadi kunci utama. Hal itulah yang dilakukan oleh dosen muda psikologi Fakultas Kedoteran Universitas Lambung Mangkurat, Fridha Yuserina.
ENDANG, Banjarmasin.
Berawal dari keinginan untuk membantu orang sakit, Ida—panggilan akrab Fridha—bercita-cita pengin kuliah kedokteran. Tapi takdir berkata lain, anak pertama dari pasangan Fahmi Yuseran dan Yuniar Saparina ini tidak lulus. Atas saran dari sang ibu, perempuan berparas cantrik itu akhirnya mendaftar jurusan psikologi lewat jalur mandiri.
Kala itu Ida dinyatakan lulus. Tahun 2009 dia mulai menjalani masa-masa kuliah di Universitas Lambung Mangkurat jurusan Psikologi. Setelah mendapatkan gelar S1, perempuan berusia 25 tahun itu melanjutkan studi S2 profesi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Di sanalah dia menemukan jati dirinya. Ida merasa menjadi psikolog tak kalah dengan profesi dokter. “Semula biasa saja, tapi setelah di S2 saya baru merasa enjoy dan tahu bahwa ilmu yang saya pelajari ini ternyata bisa berguna dan membantu orang,” tutur cewek kelahiran Muara Teweh, Kalimantan Tengah 19 April 1992 itu.
Selama 2,5 tahun menempuh pendidikan Magister Psikologi Profesi, wanita yang hobi membaca dan jalan-jalan ini lulus dengan nilai yang memuaskan. Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,58. Kesibukannya saat ini selain berpraktek, juga mengajar sebagai dosen di Program pendidikan Psikologi FK Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.
Meski usianya masih terbilang muda, tapi pengalaman dalam praktek, anak pertama dari tiga bersaudara ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia sangat piawai. Meskipun pasien yang datang berobat banyak yang usianya tua, tapi itu tidak membuat kendala baginya.
Karena dalam menjalankan praktek, itu didasarkan ilmu pengetahuan yang sudah teruji, sehingga apa yang sudah didapat selama duduk di bangku kuliah dapat diterapkan dalam pekerjaannya.
“Setiap menghadapi pasien saya mengibaratkan seperti seorang dokter yang tengah mengobati pasien. Menanyai apa yang dikeluhkan pasien dan mencari pengobatannya,” jelasnya.
Ida mengaku apa yang sudah dicapainya selama ini tidak lepas dari dukungan dari orangtua. Ia berharap ini juga bisa diikuti oleh generasi muda lainnya. Di jaman serba canggih sekarang ini, generasi millennia bisa memanfaatkan teknologi internet untuk mencari bahan pelajaran. Mereka bisa lebih leluasa berkreativitas. “Dulu warung internet tidak banyak, sekarang menjamur, bahkan generasi sekarang cukup menggunakan smartphone sudah bisa berselancar di dunia maya,” tuturnya. (at/nur)
Editor : Arief