Angkat Tradisi Tasmiya, Posko La Bastari HSS Sabet Dua Penghargaan di Tapin Art Fest 2026

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:55 WIB
Perwakilan penari Posko La Bastari Kandangan menerima penghargaan sebagai Juara III lomba Parade Tari Kalimantan di Tapin Art Fest 2026.(Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)
Perwakilan penari Posko La Bastari Kandangan menerima penghargaan sebagai Juara III lomba Parade Tari Kalimantan di Tapin Art Fest 2026.(Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Sanggar Seni Posko La Bastari Kandangan berhasil meraih Juara III Parade Tari Kalimantan sekaligus penghargaan Konsep Naskah Karya Terbaik pada ajang Tapin Art Fest 2026 tingkat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Minggu (2/8/2026) malam.

Tema pada ajang ini "Ritual Siklus Kehidupan". Menyesuaikan tema tersebut, Posko La Bastari Kandangan mengangkat tradisi Tasmiyah. Yakni prosesi pemberian nama kepada bayi yang baru lahir yang masih lestari di kalangan masyarakat Muslim Banjar.

Ketua Posko La Bastari Kandangan, Muhammad Ferry Fauzan atau yang akrab disapa Ujang, mengatakan pemilihan Tasmiyah dilakukan karena dinilai selaras dengan tema yang ditentukan panitia, sekaligus menawarkan sudut pandang yang berbeda dibandingkan karya peserta lainnya.

"Temanya memang berkaitan dengan ritual yang sarat ungkapan doa. Kami ingin menampilkan sesuatu yang baru," ujarnya.

Menurutnya, selama ini banyak pertunjukan tari yang mengangkat ritual adat suatu suku. Karena itu, timnya memilih mengeksplorasi tradisi keagamaan yang juga tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat Banjar.

"Kami mengangkat Tasmiyah karena memiliki nilai religius sekaligus edukatif. Tradisi ini masih hidup di tengah masyarakat Islam di Kalimantan Selatan, khususnya di Hulu Sungai Selatan," jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh rangkaian prosesi Tasmiyah dituangkan ke dalam koreografi, mulai dari tahapan persiapan hingga puncak acara saat pemberian nama kepada sang bayi.

"Prosesi itu kami iringi dengan aransemen musik yang memuat lantunan ayat suci Alquran dan selawat agar nuansa sakralnya tetap terasa," tambahnya.

Sementara itu, penata tari Muhammad Halim Maulana mengatakan konsep gerak dalam karya tersebut tetap berpijak pada identitas tari Banjar, namun dikembangkan agar memiliki warna yang lebih segar.

"Di sini kami mengambil pijakan pada gerakan tari Japin yang dipadukan dengan gerak tari modern yang tetap relevan dan sesuai dengan konsep tradisi Tasmiyah ini," ujarnya.

Menurutnya, perpaduan tersebut dilakukan agar tarian tetap mempertahankan akar budaya Banjar, tetapi mampu menghadirkan penyajian yang lebih dinamis tanpa menghilangkan makna dan nilai yang terkandung dalam tradisi Tasmiyah.

Editor : M Oscar Fraby
Posko La Bastari tapin art festival hulu sungai selatan