RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Ribuan masyarakat memadati kawasan Rampa Berkah, Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Senin (27/7) malam. Mereka datang untuk menyaksikan pementasan teater tradisional Mamanda yang sudah lama dirindukan masyarakat Kotabaru.
Suasana penuh kehangatan langsung terasa sejak acara dimulai. Gelak tawa berkali-kali pecah ketika para pemain melontarkan dialog-dialog jenaka. Namun di balik tawa itu, banyak penonton mengaku terharu karena akhirnya kembali bisa menikmati pertunjukan seni tradisi yang kini semakin jarang dipentaskan.
Pementasan yang dibawakan Sanggar Seni Pusaka Saijaan itu mengangkat lakon Lautan Dendam Samudera Cinta. Pertunjukan semakin semarak dengan penampilan Tari Kreasi Bujang Dara serta tarian pembuka dari anak-anak Sanggar Tari Sinar Laut Desa Rampa.
Nasarudin, salah seorang warga Kotabaru, mengaku rela datang meski baru mengetahui informasi acara sekitar 20 menit sebelum pertunjukan dimulai.
"Dulu saya sering menonton Mamanda. Sekarang sudah sangat jarang. Begitu tahu ada pementasan, saya langsung datang untuk mengobati rasa rindu," ujarnya.
Pemain Lepaskan Kerinduan Tampil di Atas Panggung
Kerinduan bukan hanya dirasakan penonton. Para pemain pun mengaku merasakan hal serupa.
Fitri Fahriannoor, pemeran Raja dalam pementasan tersebut, mengatakan dirinya bersama rekan-rekan sangat menikmati kesempatan kembali bermain Mamanda.
"Walaupun badan terasa lebih berat karena harus berakting sekaligus menari, rasa lelah itu terbayar saat melihat masyarakat tertawa dan menikmati pertunjukan," katanya.
Warisan Budaya Sarat Nilai Moral
Mamanda merupakan salah satu kesenian tradisional khas Banjar yang bukan sekadar menyajikan hiburan. Di dalamnya tersimpan nilai budaya, sejarah, etika, hingga kritik sosial yang dikemas melalui kisah kehidupan kerajaan.
Secara historis, Mamanda berakar dari kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan bangsawan Malaka pimpinan Encik Ibrahim dan Cik Hawa ke Tanah Banjar pada 1897. Di Kalimantan Selatan, kesenian tersebut kemudian berbaur dengan Komedi Indra Bangsawan dan budaya lokal hingga melahirkan teater Mamanda.
Maestro Mamanda Kalimantan Selatan, Firhansyah atau Bang Ifir, sebelumnya pernah menjelaskan bahwa nama Mamanda berasal dari sebutan Pamanda Mangkubumi, salah satu gelar kehormatan di lingkungan kerajaan.
Menurutnya, setiap pementasan Mamanda selalu mengangkat kehidupan istana yang sarat pesan moral dan tata krama. Para pemain juga dituntut menampilkan adab yang baik, termasuk tradisi meminta izin atau "sowan" dalam alur cerita sebagai cerminan budaya Banjar.
Improvisasi Jadi Ciri Khas Mamanda
Salah satu keunikan Mamanda terletak pada proses pementasannya yang berlangsung tanpa naskah.
Para pemain, mulai dari Raja, Mangkubumi, Perdana Menteri hingga rakyat biasa, harus mampu berimprovisasi, memahami budaya Banjar, serta membangun komunikasi yang hidup dengan penonton.
Kemampuan itulah yang membuat komedi, tarian, nyanyian, hingga kritik sosial mengalir secara alami di atas panggung, menjadikan Mamanda tetap relevan dan selalu mampu menghibur lintas generasi.
Editor : Eddy Hardiyanto