RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Rasa takut berbicara di depan umum ternyata bukan semata-mata disebabkan kurangnya kemampuan.
Sebaliknya, persoalan itu lebih dipengaruhi oleh persepsi negatif yang dibangun seseorang terhadap dirinya sendiri sebelum mulai mencoba berbicara.
Kondisi itu dibahas bersama dalam seminar public speaking bertajuk “Berani Berbicara Tanpa Takut Salah” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Banjarmasin di Aula Kayuh Baimbai, Sabtu (25/7/2026) pagi, oleh narasumber, Toto Fachruddin.
Menurutnya, ketakutan berbicara di depan publik kerap lahir dari ilusi atau asumsi yang dibangun dalam pikiran sendiri.
Sebagai praktisi komunikasi, Wakil Direktur Radar Banjarmasin ini menilai sering kali seseorang sudah merasa akan dinilai buruk sebelum benar-benar mencoba menyampaikan pendapatnya.
"Takut berbicara bukan lahir dari orang lain, tetapi bersumber dari pikirannya sendiri. Kita sudah merasa salah sebelum memulai," ujarnya.
Contoh lain, pengalaman gagal di masa lalu juga kerap menjadi penyebab seseorang kehilangan keberanian. Hal tersebut semakin menggerus mental tanpa benar-benar berpikir secara terbuka terhadap perkembangan diri.
Ditekankannya, padahal, kegagalan seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan menjadi alasan untuk berhenti berkembang.
Ia mengingatkan peserta agar tidak terjebak pada rasa malu ketika melakukan kesalahan.
Evaluasi, kata dia, seharusnya difokuskan pada aspek yang perlu diperbaiki, seperti tempo bicara, intonasi, maupun artikulasi.
"Jangan fokus pada salahnya, tetapi lihat bagian mana yang perlu diperbaiki. Dari situ mental dan rasa percaya diri akan terbentuk," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Toto juga menjelaskan pentingnya memahami karakter audiens.
Berdasarkan kajian mengenai rentang perhatian, kemampuan manusia untuk mempertahankan fokus secara intens umumnya hanya berlangsung sekitar tiga hingga tujuh menit.
Lebih dari itu maka akan mulai menurun. Maka dari itu, penyampaian materi tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah satu arah.
Pemateri perlu membangun interaksi melalui pertanyaan, diskusi, maupun simulasi agar perhatian peserta tetap terjaga.
"Komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi bagaimana membuat audiens ikut terlibat. Diskusi, tanya jawab, hingga role play menjadi cara efektif agar pesan lebih mudah diterima," paparnya.
Selain komunikasi verbal, penggunaan bahasa tubuh dan gestur juga dinilai berperan penting dalam memperkuat penyampaian pesan kepada audiens.
Di akhir sesi, Toto turut mengajak peserta memahami bahwa kecenderungan overthinking merupakan hal yang alamiah dimiliki setiap manusia.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi penghalang untuk tampil dan menyampaikan gagasan.
"Gejolak pikiran itu kodrat manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya agar tidak menguasai diri, tetapi justru menjadi dorongan untuk terus belajar dan berani mencoba," pesannya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana, Syifa Raihana Pratiwi menyebut kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi sekaligus meningkatkan kualitas diri.
Menurutnya, keterampilan berbicara di depan umum bukan hanya berguna saat menyampaikan gagasan kepada banyak orang, tetapi juga menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja
"Harapannya seminar ini bisa menjadi bekal dan skill bagi pemuda-pemudi Banua untuk terus mengembangkan diri, baik dalam hal-hal kecil maupun besar, untuk kepentingan diri sendiri maupun orang banyak," katanya.
Syifa juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis (critical thinking) yang harus dimiliki setiap individu. Ia mengajak generasi muda agar tidak takut melakukan kesalahan dalam proses belajar.
Menurutnya, kemampuan public speaking bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir, melainkan keterampilan yang harus terus diasah melalui latihan dan pengalaman.
"Jangan takut salah. Tidak ada orang yang sejak lahir langsung bisa public speaking. Kemampuan itu dibangun dan terus diasah seiring waktu," pungkasnya.
Editor : Arief