RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Ada sekitar 160 hingga 170 jenis tanaman buah asli Kalimantan yang kini dirawat di Tunas Meratus. Koleksi itu dikenalkan kepada 10 finalis Duta Pepelingasih Hulu Sungai Selatan (HSS) 2026 saat berkunjung ke tempat konservasi tersebut, Sabtu (4/7/2026).
Pendiri Tunas Meratus, Mohamad Hanif Wicaksono, mengatakan keberadaan nursery itu bukan untuk sekadar mengoleksi tanaman endemik. Yang terpenting, bibit-bibit tersebut bisa kembali ditanam masyarakat agar keberadaannya tetap terjaga.
"Kami tidak ingin bibit hanya berhenti di nursery. Bibit ini harus kembali ke masyarakat supaya tanaman asli Kalimantan tetap ada," katanya.
Hanif yang merintis Tunas Meratus sejak 2011 itu menjelaskan, banyak tanaman lokal yang mulai sulit ditemukan. Karena itu, ia bersama sejumlah pegiat lingkungan mulai mengumpulkan, merawat, dan memperbanyak berbagai jenis buah hutan asli Kalimantan.
Tak hanya mengembangkan nursery, Tunas Meratus juga memiliki arboretum di Desa Ambutun, Kecamatan Telaga Langsat, Hulu Sungai Selatan, serta di Kabupaten Balangan. Kawasan itu dimanfaatkan sebagai tempat pelestarian sekaligus sarana belajar mengenal tanaman endemik.
Selama berada di Tunas Meratus, para finalis diajak melihat langsung koleksi bibit yang ada di nursery. Mereka juga berdiskusi mengenai cara perbanyakan tanaman hingga upaya mengembalikan tanaman lokal ke lingkungan masyarakat.
"Kalau masyarakat ikut menanam, peluang tanaman-tanaman ini untuk tetap lestari tentu akan lebih besar," ujar penerima Kalpataru 2019 kategori Pengabdi Lingkungan tersebut.
Kunjungan itu kemudian ditutup dengan penanaman bibit pohon di kawasan Kompleks Olahraga Ganda Kandangan. Bibit yang ditanam merupakan bibit yang sebelumnya diberikan kepada masing-masing finalis sebagai bentuk ajakan untuk ikut menjaga kelestarian tanaman asli Kalimantan.
Editor : Fauzan Ridhani