Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mappanre Ri Tasi’e 2026 Resmi Digelar, Ritual Bentuk Syukur dan Penjaga Nilai Luhur Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Selasa, 14 April 2026 | 12:42 WIB
DUET: Vokalis Slank, Kaka berduet dengan Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif saat pembukaan Mappanre Ri Tasi’e di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir. (Bagprokopim Tanah Bumbu)
DUET: Vokalis Slank, Kaka berduet dengan Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif saat pembukaan Mappanre Ri Tasi’e di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir. (Bagprokopim Tanah Bumbu)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Festival budaya tahunan Mappanre Ri Tasi’e di Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, dibuka meriah pada Ahad (12/4) malam. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi area panggung utama, menyaksikan pembukaan yang kali ini menghadirkan kejutan besar, penampilan Slank dan Siti Badriah di malam pertama.

Sejak sore, area panggung sudah dipadati penonton meski acara baru dimulai malam hari. Penyanyi dangdut Siti Badriah tampil membuka rangkaian konser. Dengan lagu-lagu upbeat seperti Berondong Tua, ia berhasil memancing goyangan massa dan menciptakan atmosfer penuh semangat. Penonton larut dalam hentakan musik yang menjadi pembuka spektakuler festival.

Suasana semakin memuncak ketika Slank naik ke panggung. Grup musik legendaris itu membawakan total 12 lagu, termasuk deretan hits yang membuat penonton bernyanyi bersama sambil menyalakan lampu ponsel.

Momen istimewa terjadi saat vokalis Slank, Kaka, mengajak Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif naik ke panggung. Keduanya kemudian berduet membawakan lagu Ku Tak Bisa, disambut sorak sorai ribuan penonton.

Atmosfer pembukaan tahun ini mendapat apresiasi dari warga. Hidayat, penonton asal Batulicin, mengaku terkesan dengan kehadiran band papan atas di awal rangkaian acara. “Biasanya band-band ibu kota disimpan untuk malam puncak. Tapi kali ini Slank tampil di malam pertama,” ujarnya.

Sebelum konser, panitia menggelar tradisi Mallibu Kampong, yakni prosesi keliling kampung dengan pakaian adat dari Tugu Perjuangan 7 Februari. Tradisi ini merupakan bentuk syukur masyarakat nelayan yang kembali dihidupkan pemerintah daerah. Sekretaris Daerah Tanah Bumbu, Yulian Herawati, menegaskan komitmen pemerintah dalam merawat tradisi lokal sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.

Ketua Lembaga Adat Ade Ogi, Fawahisah Mahabatan, menambahkan bahwa sinergi pemerintah dan lembaga adat penting untuk menjaga nilai luhur masyarakat Pagatan. “Berbagai prosesi adat akan terus berlangsung secara maraton hingga puncak acara akhir April nanti,” katanya. 

Ritual Bentuk Syukur

Sementara Mappanre Ri Tasi’e memiliki akar sejarah panjang dalam budaya masyarakat nelayan Bugis, Tanah Bumbu. Tradisi ini berakar dari ritual lama yang dikenal sebagai Mappanretasi atau Massorong.

Sejak abad ke-19, masyarakat Bugis Pagatan melaksanakan ritual tersebut sebagai bentuk syukur atas hasil laut, pertanian, dan perkebunan yang melimpah.

Dalam praktiknya, nelayan melaksanakan Mappanretasi sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan ikan. Prosesi ritual biasanya dipimpin oleh sandro atau pemuka adat, dibantu para dayang. Rangkaian kegiatan dimulai sejak malam hari dengan persiapan makanan adat, seperti ketan, hingga puncak acara di laut.

Pada puncak prosesi, rombongan menuju titik tertentu di laut untuk melaksanakan ritual. Di lokasi tersebut dilakukan doa selamat dan melarung ke laut sebagai bagian dari tradisi turun-temurun. Melarung merujuk pada prosesi menghanyutkan sesaji ke laut sebagai simbol ungkapan syukur.

Seiring waktu, tradisi ini mengalami penyesuaian. Pemerintah daerah kemudian mengemasnya sebagai agenda budaya dan pariwisata yang masuk dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Tanah Bumbu.

Perubahan juga terjadi pada istilah yang digunakan. Pemerintah mengganti penyebutan Mappanretasi (memberi makan laut) menjadi Mappanre Ri Tasi’e (makan bersama-sama di laut) untuk menghilangkan makna yang dianggap bertentangan dengan nilai keagamaan.

Meski mengalami perubahan istilah dan kemasan, esensi tradisi sebagai ungkapan syukur masyarakat pesisir tetap dipertahankan. Ketua Lembaga Adat Ade Ogi, Fawahisah Mahabatan, mengatakan pesta laut ini memiliki nilai sejarah. Sebagai generasi ketujuh, ia mendorong tradisi ini terus dilestarikan, terutama prosesi melarung. “Ini jadi amanah untuk kami terus menjaganya,” katanya.

Baca Juga: Tahulah Pian, Masukkiri: Tradisi Masyarakat Bugis Pagatan yang Kurang Dikenal Dibanding Mappanre Ri Tasie’e

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Mappanre Ri Tasi’e #festival budaya #Budaya #kalimantan selatan #Tanah Bumbu