BANJARMASIN— Banua Creative Festival (BCF) kembali hadir pada 5–7 Desember 2025 di Gedung Sultan Suriansyah, Kayutangi, Banjarmasin. Mengusung tema “Titik Kumpul”, festival ini dirancang sebagai ruang pertemuan strategis yang mempertemukan produk kreatif, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan calon investor dalam satu ekosistem kolaboratif yang memperkuat keberlanjutan ekonomi kreatif Banua.
Tema “Titik Kumpul” bukan sekadar slogan. Ia adalah energi baru. Sebuah penegasan bahwa perkembangan ekonomi kreatif tidak hanya soal karya, tetapi soal keberanian untuk hadir,
bertemu, dan saling memperkuat.
Setelah tahun sebelumnya mengangkat “Kebangkitan Lokal”,BCF 2025 seperti menegaskan bahwa kebangkitan itu sudah terjadi, dan kini saatnya menghubungkan titik-titiknya. Tahun ini, penyelenggara menargetkan 5.000–7.000 pengunjung selama tiga hari.
Festival menghadirkan rangkaian program seni, pertunjukan, pameran produk, film, diskusi kreatif,
hingga pertunjukan kolosal, dengan fokus membangun pondasi produk lokal yang kuat, sekaligus mendorong kehadiran investor lokal yang selama ini masih jarang muncul.
Direktur Festival BCF 2025, Aswin Nugroho, menyampaikan dengan tegas bahwa fondasi utama dari sebuah ekosistem kreatif bukanlah jejaring, bukan pula promosi besar-besaran. Ia dimulai dari satu hal yang paling sederhana namun paling penting, yaitu produk.
“Kalau bicara berjejaring itu step nomor empat. Step pertama itu adalah produk sebagai fondasinya. Yang harus berkumpul di sini adalah produk dulu. Di-display, dilihat oleh khalayak,” ungkapnya.
Aswin percaya bahwa sebelum bicara pasar dan kolaborasi, para pelaku harus mempercayai karya mereka sendiri. Produk yang kuat adalah titik mula dari keberanian tampil, dan dari sanalah jejaring dan bisnis mulai tumbuh. Karena itu, BCF 2025 memberikan ruang yang sangat luas bagi para pelaku ekraf untuk menampilkan karya mereka secara langsung.
Di festival ini, bukan hanya pengunjung umum yang melintas. Ada para penikmat musik, peserta diskusi, penggiat komunitas, hingga tokoh-tokoh yang berpotensi menjadi pemodal lokal. Sesuatu yang selama ini terasa langka.
“Kita selama ini tidak punya pemodal lokal. Harapannya, yang berkumpul di sini bukan hanya menjadi pembeli, tapi ada yang tertarik untuk bermodal,” tambah Aswin.
Di titik inilah BCF 2025 memainkan perannya, menjadi jembatan antara keberanian berkarya dan kesempatan bertemu dengan pihak yang tepat.
FASILITASI YANG TOTAL: PANGGUNG UNTUK SEMUA
Tahun ini, penyelenggara memberikan fasilitas penuh dari etalase produk, pembagian segmen,hingga crowd yang dipastikan akan ramai. Pelaku ekraf tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tampil. Mereka hanya perlu membawa karya mereka dan keyakinan bahwa karya itu layak dilihat.
“Kalau di event ini mereka tidak berpromosi, itu baru lucu. Karena kita sudah siapkan semuanya
gratis. Tinggal keberanian mereka tampil,” kata Aswin.
BCF 2025 ingin memastikan bahwa tidak ada lagi alasan bagi pelaku kreatif untuk berdiam diri. Setiap pelaku, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, diberi panggung yang sama untuk menunjukkan diri kepada publik.
PROGRAM UNGGULAN: RUANG-RUANG YANG MELAHIRKAN IDE,
PRODUK, DAN KOLABORASI
Novyandi Saputra, Direktur Kreatif Festival menjelaskan bahwa tahun ini BCF 2025 membawa tiga program unggulan yang menjadi nadi utama festival.
Pertama adalah BanuaCraft, ruang besar yang mengangkat dan membangun produk-produk pelaku ekonomi kreatif. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan beragam karya mulai dari kriya, fesyen, kuliner, desain, hingga inovasi-inovasi baru dari tangan anak muda Banua.
Program kedua adalah Ideaforum, sebuah ruang dialog yang mempertemukan pemikir besar dan pelaku kreatif lokal. Tahun ini, BCF mengundang Handoko Hendroyono, seorang ahli citra media dan jenama nasional. Kehadirannya diharapkan menjadi suntikan inspirasi baru bagi kreator lokal tentang bagaimana membangun brand, ruang, dan narasi yang kuat.
Program ketiga adalah SoundOn, ruang musik yang tidak hanya menampilkan band atau musisi, tetapi menjadi jantung keramaian festival. Musik selalu menjadi magnet yang menarik orang untuk datang, dan dari keramaian itulah para pelaku ekraf mendapatkan perhatian lebih besar.
Namun, BCF 2025 tidak berhenti pada tiga program utama ini saja. Ada deretan aktivasi komunitas yang memberikan warna lebih kaya.
Novyandi mengatakan, Komunitas adalah denyut festival ini.Mereka bukan pelengkap, mereka adalah inti.”
TUJUAN BESAR: MEMPERMUDAH ORANG UNTUK BERTEMU
Pada akhirnya, BCF 2025 hadir sebagai jawaban atas kebutuhan paling mendasar dalam dunia kreatif: pertemuan.
“Tujuan utamanya adalah bagaimana semua orang berkumpul, bertemu, membangun jejaring, dan berkolaborasi,” tegas Novyandi.
Selama ini, banyak pelaku kreatif bekerja dalam ruang kecil masing-masing. Mereka memiliki karya, tetapi tidak punya ruang untuk mempertemukannya dengan pembeli. Mereka punya ide,
tetapi tidak tahu harus bertemu dengan siapa. Mereka punya keberanian, tetapi tidak punya panggung. BCF 2025 ingin memutus siklus itu.
Tema “Titik Kumpul” merangkum semuanya: mempertemukan para pelaku kreatif, menarik perhatian pembeli, membuka peluang untuk investor, dan pada akhirnya mempercepat
tumbuhnya ekonomi kreatif di Banjarmasin.
Festival ini adalah ruang yang merayakan keberanian, kreativitas, dan koneksi. Ia adalah panggung di mana karya tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipertemukan dengan masa depannya.
Dan di tengah festival ini, kita semua—pelaku, pengunjung, pemodal, dan komunitas—menjadi titik-titik yang akhirnya terhubung.
Editor : Fauzan Ridhani