KOTABARU - Puncak kemeriahan Penutupan Festival Akrab 2025 di Siring Laut Kotabaru menjadi penanda geliat luar biasa sektor ekonomi kreatif (Ekraf) di Bumi Saijaan, Sabtu (25/10/2025) malam.
Mengusung semangat Hari Ekraf Nasional, kegiatan tahunan ini diharapkan menjadi momentum transisi ekonomi Kalimantan Selatan dari ekstraktif menuju kreatif.
Respons positif masyarakat Kotabaru terhadap festival ini dijawab langsung oleh Rudi Nugraha, Kepala Bidang Event dan Pertunjukan Disparpora Kotabaru.
"Festival Akrab ini sebenarnya sudah memasuki tahun ketiga, bukan kedua seperti yang diasumsikan. Ini kami selenggarakan dalam rangka menyambut Hari Ekraf Nasional, ibaratnya ini adalah Hari Rayanya pelaku Ekraf di Kotabaru," ujar Rudi Nugraha.
Sementara itu, M Basir, Ketua DPC Gekrafs Kotabaru, menyebut perkembangan ekonomi kreatif di Kotabaru selama tiga tahun terakhir berjalan luar biasa.
Menurut Basir, kolaborasi dengan DPC Gekraf telah menjadi modal utama untuk menjadikan ruang-ruang kreatif terus berkelanjutan, yang harus berbasis pada inovasi dan kreativitas.
"Kami DPC Gekraf bersama 17 subsektor ekonomi kreatif di Kotabaru memulainya dari roadmap. Kami keliling ke semua kecamatan, dan hasilnya di tahun kedua kami sudah bisa berkolaborasi mengumpulkan semua pelaku Ekraf," jelasnya.
Meski demikian, proses ini tidak instan dan penuh tantangan. Basir tak menampik adanya suka duka.
"Sisi sedihnya itu ketika harus menuju ke kecamatan dan desa-desa, berpanas-panas, berhujan-hujan. Tapi suka dukanya banyak dalam proses yang kami lalui bersama teman-teman 17 sub sektor," kenangnya.
Menanggapi hal tersebut, Andi Fitria Ketua DPW Gekrafs Kalsel, memberikan pandangan strategis.
"Bicara ekonomi di Kalimantan, sudah saatnya Kalimantan Selatan dari ekonomi ekstraktif menuju ke ekonomi kreatif. Ini karena ekonomi kreatif berbasis ide yang terus berkembang. Kami berharap Festival Akrab ini terus berkelanjutan," tegas Andi.
Andi juga berharap Sumber Daya Manusia (SDM) kreatif terus tumbuh, dan produk yang dihasilkan tidak hanya untuk konsumsi lokal, tetapi mampu go international.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, DPW Gekraf bertindak sebagai hub (pusat) pemasaran. Ia mencontohkan produk unggulan Kalimantan Selatan, Sasirangan, yang terus didorong agar tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi mampu bersaing di kancah global.
Baca Juga: Pemkab Tanah Bumbu Jalin Kerja Sama dengan LAN untuk Pengembangan ASN
"Sasirangan yang dulunya mungkin hanya berkutat pada seremoni, kini sudah menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Sasirangan dipakai sehari-hari dengan berbagai produk seperti kaos, hoodie, jaket, dan lain-lain. Anak muda harus dekat dengan Sasirangan sebagai kekayaan budaya Kalsel," tambahnya.
Dalam upaya membumikan Ekraf, Andi Fitria menyebutkan strategi kampanye melalui program Goes to School, Goes to Kampus, dan Goes to Pesantren. Langkah ini penting untuk mendorong Ekraf sejak dini dan mengenalkan bahwa ekonomi kreatif adalah bagian dari masa depan ekonomi.
Editor : Fauzan Ridhani