BANJARMASIN - Pentas seni ini adalah cara orang Kotabaru berbicara tentang laut. Delapan tubuh melangkah ke tengah panggung. Tiga lelaki dan lima perempuan mengenakan kain sasirangan bermotif ombak—simbol orang pesisir yang selalu bergerak dan tak pernah tenang.
Musik mengalun pelan, perlahan memuncak. Gerak dimulai. Mereka menunduk seakan sedang mengemudikan perahu.
Seolah memegang dayung tak kasat mata, mengayun ke kiri dan kanan.
Tak lama, tubuh ketiga lelaki itu melengkung. Kaki terangkat seperti nelayan yang sedang melompat ke laut.
Mereka berenang dalam imajinasi, tubuh mereka lentur bak gelombang kecil yang berkejaran di permukaan air.
Sementara para perempuan mengulur dan menarik dengan gerakan lembut namun tegas. Mereka sedang melempar jala ke lautan.
Sejurus kemudian, mereka menari dalam gerak memutar. Menjaga keseimbangan, seolah sedang meniti tali.
Inilah sekilas tarian Hikayat Orang Laut yang mengirimkan makna tentang orang-orang Bajau di pesisir Kotabaru yang setia pada laut.
Mereka tahu bahwa laut tak selalu bersahabat. Ombak kadang tenang, kadang brutal. Tercermin dari setiap gerak tarian itu.
Setiap langkah, setiap lenggok, seolah berkata bahwa dalam hidup tak ada yang bisa berdiri sendiri.
Setelah Hikayat Orang Laut, ada tarian Gemilang Budaya Saijaan yang ditampilkan puluhan penari.
Entah berapa jumlahnya, yang pasti banyak sekali.
Tarian ini menceritakan tentang keragaman dan keharmonisan budaya di Kotabaru.
Perbedaan dan keberagaman etnis menciptakan kebersamaan. Menjadi julukan kabupaten itu, yakni Sa-ijaan. Artinya seiya sekata dan seiring sejalan.
Tarian-tarian ini ditampilkan pada pentas Semalam di Kampung Laut Kotabaru di panggung Bahtiar Sanderta, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin Utara, Rabu (18/12) malam.
Pentas ini digagas Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kotabaru.
Kepala Bidang Event, Pertunjukan, dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kotabaru, Rudi Nugraha mengatakan ada 63 penampil yang datang dari Kotabaru untuk meramaikan pentas ini.
"Mulai dari penari, pemain teater, pemusik, dan tim produksi," katanya.
Mereka menghadirkan paket lengkap: pertunjukan musik, seni rupa, dan kuliner. Tujuannya mempromosikan potensi pariwisata Kotabaru.
"Selama ini, masyarakat hanya mengenal suku Banjar dan Dayak. Padahal, di Kotabaru ada suku Bajau Samah yang memiliki keunikan tradisi, kearifan lokal, dan komoditas khas," ujar Rudi.
Untuk pentas seni ini, Disparpora berkolaborasi dengan mahasiswa Sendratasik.
Terpisah, Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti mengatakan, pentas ini bertujuan menguatkan identitas lokal.
"Ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan," singkatnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief