BANJARMASIN - Pasukan robot menginvasi Indonesia pada tahun 2345. Nusantara mencekam, diliputi kekacauan setelah 300 tahun merdeka.
Tidak tinggal diam, manusia melawan. Dipimpin pemuda bernama Adam, delapan pejuang coba memberontak dominasi robot yang berjumlah 400-an.
Meski berjuang mati-matian, polemik cinta segitiga di antara mereka menggoyahkan perjuangan.
Manusia nyaris kehilangan martabat di hadapan para robot.
Adegan di atas adalah cuplikan Pentas Tunggal Wiramartas (PTW) 2024 bertajuk 2345 yang digelar di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya, Banjarmasin Utara, Sabtu (16/11) malam.
Noor Hidayah, salah satu penonton, terkesan dengan kualitas pementasan. Oleh iringan musik ciamik dan sorotan lampu yang atraktif.
"Pesannya sangat relevan, apalagi di era teknologi seperti sekarang. Selain itu, visual panggungnya juga luar biasa," katanya.
Ketua Panitia PTW 2024, Muhammad Fadillah bercerita, pementasan ini mengangkat isu modernisasi dan dampaknya terhadap kemanusiaan.
"Cerita ini untuk memperingatkan supaya manusia harus bertahan di tengah arus teknologi yang semakin maju. Adam dan kawan-kawan menjadi simbol perjuangan martabat manusia," jelas Fadillah.
Pentas ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-18 Wiramartas, komunitas seni dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Wakil Ketua Panitia, Muhammad Anshori Rahman berujar, pentas ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan bakat seni para anggotanya.
“Kami bukan hanya menampilkan seni peran, tetapi juga perpaduan bidang seni lainnya, seperti tari dan musik. Ini adalah momen penting bagi Wiramartas untuk menunjukkan kreativitasnya,” ungkap Anshori.
Lebih dari 120 orang terlibat dalam pembuatan karya ini, mulai dari tim produksi hingga para talent.
Persiapan yang memakan waktu tiga bulan ini menjadi bukti dedikasi Wiramartas dalam menyuguhkan karya seni yang bermakna.
Ke depan, Wiramartas berharap PTW bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di lingkup ULM, tetapi juga di kancah nasional.
“Kami ingin pentas ini bisa menjadi ajang yang lebih besar dan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa Banjarmasin,” tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief