BANJARBARU - Kaum perempuan sangat gampang terpengaruh paham radikal dan terorisme. Bahkan berdasarkan hasil survei BNPT tahun 2020 lalu, menunjukkan fenomena keterlibatan perempuan dalam terorisme ini cukup mencengangkan. Hal itu diungkapkan Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Suparmi dalam sosialisasi Perempuan TOP Cerdas Digital Satukan Bangsa di Gedung Serbaguna Limosin Dinas Perkebunan dan Peternakan, Banjarbaru, Rabu (22/11) pagi.
Suparmi membeberkan perempuan lebih mudah diajak atau bergabung dengan teroris, karena banyak menggunakan perasaannya. Jika dipengaruhi, maka secara psikologis akan lebih kuat. “Dalam survei BNPT itu indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan, urban, generasi muda, dan mereka yang aktif di internet dan media sosial,” kata Suparmi.
Angka indeks potensi radikalisme pada perempuan mencapai 12,3 persen. Dengan melihat angka tersebut, diperlukan suatu formula baru untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. “Edukasi digital skill dan digital ethics diharapkan mampu memberikan kebaikan, dan mengajak masyarakat yang lain untuk menguatkan semangat pluralisme melalui konten-konten membangun,” ujar Suparmi.
Fakta hasil survei tersebut dibenarkan oleh Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel, Aliansyah Mahdi. “Kalangan perempuan ini masuk sangat rentan. Mereka masuk dalam daftar yang sangat mudah terpengaruh.” ujarnya.
Menurutnya, sosialisasi diperlukan untuk menjadi benteng dalam mencegah paham radikalisme dan paham terorisme bagi kalangan perempuan. “Kita harap ini jadi sebuah imunitas bagi para perempuan. Terutama bagi ibu-ibu. Soalnya dari mereka pemahaman tentang bahaya paham-paham radikal ini bisa tersampaikan maksimal kepada lingkungan,” ujarnya.
Di Banjarbaru, diakuinya, tidak bisa lepas dari ancaman dua paham tersebut. Bahkan, Aliansyah menyebut setiap wilayah pasti ada potensi tumbuhnya paham-paham tersebut. Sedikit saja lengah, oknum penyebar paham radikalisme dan terorisme ini pasti akan masuk. “Potensi akan selalu ada. Jadi jangan sampai lengah, dan terus dicegah dengan cara mengedukasi masyarakat terkait paham radikalisme dan terorisme,” sebutnya.
“Kita berharap perempuan sebagai garda terdepan, bersama-sama menangkal radikal. Perempuan sebagai garda terdepan di keluarga, terutama pada anak,” tegasnya.
Asisten II Pemko Banjarbaru, Puspa Kencana mengingatkan menjadi seorang perempuan di zaman sekarang perlu memiliki pengetahuan digital.
Supaya dapat menyaring informasi yang saat ini begitu mudah diakses, sebelum menyebarkannya kembali melalui media sosial. "Cari tahu dulu kebenarannya, dan jangan mudah percaya," ujarnya.
Puspa berharap kegiatan tersebut bisa dilaksanakan secara rutin guna mencegah paham radikalisme dan terorisme, terutama di kalangan keluarga.
“Kalau bisa dilaksanakan rutin, karena perempuan harus selalu diingatkan pentingnya bijak bermedia sosial," tuntasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief