Kepala Balai Bahasa Kalsel, Armiati Rasyid berharap Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) ini menjadi pemantik pelestarian, serta mewujudkan ketahanan bahasa daerahnya. Itu disampaikannya di sela kegiatan pelatihan kepada guru utama bahasa, kemarin (16/5).
Program revitalisasi bahasa daerah ini merupakan salah satu program Merdeka Belajar yang diusung Kemendikbudristek. Revitalisasi masuk program Merdeka Belajar episode 17.
Program ini diluncurkan sejak tahun 2021 hingga tahun berikutnya. "Program MB-17 RBD ini tentunya dikembangkan secara kreatif, inovatif, menyenangkan, dan berpusat kepada penutur bahasa itu sendiri," katanya.
Revitalisasi bahasa daerah di Indonesia punya tujuan akhir sebagai pendekatan baru dengan menjadikan para penutur muda sebagai penutur aktif berbahasa daerah. Mereka didorong mempelajari bahasa daerah dengan penuh suka cita melalui media yang mereka suka.
"Diharapkan dapat menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah, dan untuk menciptakan ruang kreativitas dan kemerdekaan bagi para penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasanya," ujar Armiati.
Menurutnya, revitalisasi bahasa daerah juga dilakukan berdasarkan prinsip dinamis, adaptif, dan regenerasi.
"Prinsip adaptif dilakukan dengan menyesuaikan situasi lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun masyarakat. Penerapannya perlu dilaksanakan secara fleksibel dan tidak kaku, khususnya para penutur di usia sekolah pada tingkat dasar dan menengah," sambungnya.
Bagi bangsa Indonesia, bahasa daerah merupakan aset budaya tak benda yang merekam kearifan lokal, khazanah pengetahuan dan kebudayaan, serta kekayaan batin penuturnya. Aset tersebut perlahan akan hilang seiring dengan punahnya sebuah bahasa.
"Ketika bahasa daerah mulai dianggap kurang bergengsi dan tidak keren, masyarakat pun enggan menuturkannya, serta tidak ada upaya pelestarian ataupun pelindungannya. Cepat atau lambat kondisi demikianlah yang akan mengantarkan kepunahan bahasa daerah," ingatnya.
Armiati menegaskan generasi penerus sejak usia dini diharapkan bisa mencintai dulu. “Mungkin melalui berpuisi atau bercerita. Seiring waktu akan tercipta keinginan perlahan menggunakan bahasa Banjar dan Bakumpai," tutupnya. (lan/az/dye) Editor : Arief