Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ubah Limbah Sayur dan Buah jadi POC

Arief • Kamis, 1 September 2022 | 07:00 WIB
JADI SOLUSI: Para anggota Kelompok Tani Berkat Karya kini bisa membuat Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pengganti pupuk kimia yang semakin mahal harganya.
JADI SOLUSI: Para anggota Kelompok Tani Berkat Karya kini bisa membuat Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pengganti pupuk kimia yang semakin mahal harganya.
BANJARBARU-Sisa sayuran dan buah-buahan yang sudah rusak, basi, atau membusuk kerap dibuang begitu saja. Padahal, dari limbah sayuran dan buah-buahan tersebut dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat, yakni Pupuk Organik Cair (POC). Kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk mengubah limbah sayur dan buah-buahan tersebut menjadi POC masih sangat minim. Untuk itu, perlu diberikan edukasi dan sosialisasi untuk menyulap limbah yang tidak berguna, menjadi sesuatu yang berharga.

Hal inilah yang dilakukan oleh dua dosen Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (Fahutan ULM) Banjarbaru. Yakni, Dr Suyanto dan Dr Yusanto Nugroho.

Keduanya secara khusus hadir di rumah salah satu anggota kelompok tani di Kelurahan Landasan Ulin Barat, RT 01, RW 01, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru untuk memberikan edukasi dan sosialisasi pengolahan POC kepada warga setempat. Kedatangan mereka disambut oleh Kelompok Tani Berkat Karya. “Bertempat di rumah Susilo Budi, Ketua RT sekaligus salah satu anggota Kelompok Tani Berkat Karya, kami mengadakan Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA). Di sana, kami memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai cara membuat POC dari limbah sayur dan buah,” sebut Suyanto, Sabtu (27/8) lalu.

Suyanto menceritakan anggota Kelompok Tani Berkat Karya yang rata-rata berprofesi utama sebagai petani, kerap terkendala dalam mendapatkan pupuk kimia. Apalagi, harga pupuk kimia juga terbilang mahal, sehingga memberatkan mereka dalam menyuburkan tanaman. Di sisi lain, di lokasi tersebut banyak ditemui limbah sayuran dan buah, terutama pada massa perawatan atau panen. “Padahal limbah tersebut dapat dikonversi menjadi POC yang bermanfaat sebagai alternatif pengganti pupuk kimia,” sebutnya.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong Suyanto dan Yusanto untuk mengajarkan Kelompok Tani Berkat Karya membuat POC dari limbah sayur dan buah tersebut. “Bahan baku POC yang paling baik adalah dari bahan organik basah atau bahan organik yang mempunyai kandungan air. Selain itu, sampah organik yang dihasilkan rumah tangga seperti sampah sayur baru, sisa sayuran basi, sisa nasi, sisa ikan, ayam, kulit telur, sampah buah seperti anggur, kulit jeruk, apel, dan lain-lain juga sangat baik untuk membuat POC,” tuturnya.

JADI SOLUSI: Para anggota Kelompok Tani Berkat Karya kini bisa membuat Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pengganti pupuk kimia yang semakin mahal harganya.
JADI SOLUSI: Para anggota Kelompok Tani Berkat Karya kini bisa membuat Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pengganti pupuk kimia yang semakin mahal harganya.
JADI SOLUSI: Para anggota Kelompok Tani Berkat Karya kini bisa membuat Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pengganti pupuk kimia yang semakin mahal harganya.

Proses pembuatan POC menggunakan prinsip fermentasi dan berlangsung pada kondisi anaerob. yaitu, mikro organisme, dalam hal ini dari jenis Lactobacillus sp, Actinomycetes sp tumbuh berkembang tanpa membutuhkan oksigen. “Untuk mempercepat proses fermentasi di dalam bak anaerob, harus diberi sedikit campuran kotoran sapi atau EM4 sebagai starter Selanjutnya, dalam waktu 15–21 hari dari bak anaerob berkapasitas 35 liter akan dihasilkan ampas 5 liter dan pupuk sekitar 30 liter POC. Pupuk POC yang dihasilkan perlu diencerkan dengan perbandingan 1 liter POC berbanding 4-5 liter air dan siap digunakan untuk menyuburkan tanaman,” sambungnya.

“Semoga lewat kegiatan PDWA ini, mereka semakin terampil membuat POC. Sehingga, bisa terus memproduksi hasil tani, tanpa harus menggunakan pupuk kimia,” tandasnya.(zuhdi) Editor : Arief
#Fakultas Kehutanan ULM