Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Taklukan Penghuni Gunung Keramaian

Arief • Sabtu, 7 Mei 2022 | 14:42 WIB
SYARAT SEKOLAH: Siswa divaksin di Hulu Sungai Selatan jelang pembelajaran tatap muka (PTM) lalu. | Foto: Dok/Radar Banjarmasin
SYARAT SEKOLAH: Siswa divaksin di Hulu Sungai Selatan jelang pembelajaran tatap muka (PTM) lalu. | Foto: Dok/Radar Banjarmasin
Datuk Nafis adalah sosok ulama yang haus akan ilmu agama. Konon, ia tak hanya disegani oleh jemaah, tapi juga bangsa jin.

- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Tanah Laut



Dari Kotabaru, Jejak Ramadan di Pelosok Banua bergeser ke Kabupaten Tanah Laut. Rute terakhir yang mesti disinggahi penulis dalam ekspedisi Ramadan tahun ini.

Tujuan penulis, adalah Desa Tungkaran Buah. Sebuah desa yang berada di kawasan Gunung Keramaian. Kecamatan Pelaihari, pusat pemerintahan di Kabupaten Tanah Laut (Tala). Di situlah makam Datuk Nafis berada.

Informasi awal tentang Datuk Nafis didapat penulis pada Jumat (29/4) lalu. Ketika beristirahat di kawasan Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu.
Saat itu, penulis berbincang dengan seorang pemudik yang juga beristirahat. Namanya M Agus Salim.

Ia lah yang menyarankan penulis untuk menyambangi lokasi makam Datuk Nafis. Menurut lelaki 46 tahun itu, makam Datuk Nafis dianggap keramat. Banyak peziarah yang datang."Saya pernah berziarah ke sana. Tapi sudah lama sekali," ucapnya.

Agus mengatakan, untuk menuju ke makam sang datuk juga cukup mudah. Bila sudah memasuki kawasan Gunung Karamaian, cukup sekali bertanya ke warga.
"Warga di sana pasti tahu di mana lokasinya," tambahnya.

Penulis cukup lama berbincang dengan Agus. Lelaki yang mengaku hendak bertolak ke Kota Banjarbaru itu rupanya cukup tahu tentang cerita Datuk Nafis."Kalau saya tidak keliru, beliau bergelar Datuk Keramat Lifbata," ujarnya. Disebut demikian, lantaran sang datuk juga dikenal mengajarkan membaca Alquran.

Dituturkannya, Datuk Nafis diketahui terkenal gigih dalam berdakwah. Bahkan, sampai harus melawan makhluk halus menguasai kawasan hutan di Gunung Keramaian, yang kerap menganggu masyatarakat.

Seperti apa ceritanya? Diceritakan bahwa dahulu ada sebuah kampung di daerah Pelaihari, yang masih kental dengan ilmu-ilmu sihir dan paham-paham leluhur dan kepercayaan kepada makhluk halus."Dipuja agar tidak menganggu umat manusia," tuturnya.

Mendengar kabar itu, Datuk Nafis pun lantas memutuskan untuk berdakwah di kampung itu. Konon, kampung itu dahulu terletak di kawasan Gunung Keramaian."Tidak hanya berdakwah, beliau juga memutuskan untuk menetap di situ," jelasnya. "Seperti warga kebanyakan. Datuk Nafis, di samping mengajar ilmu agama, beliau juga bertani dan berkebun di situ," lanjutnya.

Hingga suatu ketika, tanaman kebun yang digarap oleh sang datuk tiba-tiba saja mati. Padahal, kondisi itu tak pernah terjadi sebelumnya.

Konon, karena ketinggian ilmu sang datuk, akhirnya diketahui bahwa peristiwa itu terjadi karena olah dari para makhluk halus penunggu hutan.
mereka marah karena datuk tidak memberikan sesajen. Warga di sana memang kerap menyediakan sesajen agar tanaman yang digarap tidak diganggu makhluk halus.

Berang dengan hal itu, sang datuk pun lantas bersikap tegas. Dia bertekad tak akan pernah sekali pun mau memberikan sesajen bagi makhluk halus.
Alasannya dalam Islam, hal demikian bisa dianggap sebagai kemusyrikan.

Hingga suatu ketika Datuk Nafis pun memutuskan untuk berduel dengan makhluk halus atau jin penunggu kawasan hutan.

"Duel itu sangat seru dan dahsyat. Menurut cerita yang pernah saya dengar, pada malam hari, terdengar gemuruh yang sangat nyaring dari dalam hutan. Dan ketika pagi hari, terlihat ada banyak pohon yang tumbang. Bekas dari sisa duel itu," tutur Agus.

Singkat cerita, Datuk Nafis pun berhasil mengalahkan makhluk halus yang menjadi penunggu kawasan hutan di Gunung Keramaian."Saking hebatnya beliau, makhluk halus itu bahkan mengajukan diri sebagai pembantu beliau," ucapnya.

"Tapi datuk tidak menginginkannya. Beliau hanya berpesan agar para makhluk halus penunggu hutan, tidak lagi mengganggu warga yang mencari nafkah atau bekerja di hutan," lanjutnya.

"Dan sejak itu pula, pemberian sesajen tak lagi dilakukan oleh warga. Dan sejak itu pula, ada banyak warga yang berguru untuk belajar ilmu agama dengan beliau," tambahnya.

Pertemuan penulis dengan Agus terhenti usai salat Jumat. Penulis memilih melanjutkan perjalanan menuju ke Kabupaten Tala, dan Agus mengaku masih hendak mampir ke rumah keluarganya di kawasan Angsana.

Setibanya di Kabupaten Tanah Laut, penulis tak ujug-ujug langsung menuju lokasi makam Datuk Nafis. Penulis, baru ke sana keesokan hari. Yakni pada Sabtu (30/4) pagi.Dari Pelaihari, jarak menuju kawasan Gunung Keramaian terpaut sekitar 19 kilometer.

Sedangkan dari pintu gerbang kawasan Gunung Keramaian menuju Desa Tungkaran Buah, setidaknya memakan waktu sekira 20 menit menggunakan kendaraan roda dua.

Jalan yang dilalui sudah beraspal. Tapi, sekitar beberapa kilometer sebelum tiba di lokasi makam, jalanan sudah mulai rusak. Jalan aspal, berganti bebatuan dan tanah. Konturnya juga turun naik.

Kian masuk ke dalam kawasan desa itu, rumah-rumah warga berganti dengan banyaknya pepohonan. Ada pula kebun karet.

Sesampainya di kawasan makam, penulis dihadapkan dengan sebuah gapura yang lumayan besar. Di dinding gapura yang berkelir merah ke hitam-hitaman itu, tampak tulisan bergaya khat kufi. Tulisannya: 'Maka Datu Nafis'.

Mulanya, tentu tulisan lengkapnya 'Makam Datu Nafis'. Namun, huruf M yang ada di dinding itu tampak hilang entah kemana.

Di kompleks makam, setidaknya ada tiga bangunan. Dua bangunan di ataranya berisi makam. Dan satu bangunan lainnya adalah musala.

PENGABDIAN: Seorang guru agama mengajar di sekolah dasar di Kalsel (DOK/RADAR BANJARMASIN)
PENGABDIAN: Seorang guru agama mengajar di sekolah dasar di Kalsel (DOK/RADAR BANJARMASIN)
MERAH KONTRAS: Pintu gerbang makam Datuk Nafi s di Desa Tungkaran
Buah, di kawasan Gunung Keramaian, Kabupaten Tanah Laut.

Lantas, di mana makam Datuk Nafis? Makam itu berada di bangunan yang paling besar. Yang berkelir hijau tua. Di bangunan itu setidaknya ada dua kubah makam. Dan makam Datuk Nafis berada di tengah-tengah bangunan.

Ketika penulis tiba di situ, tak ada satu pun tampak ada penjaga makam. Suasananya begitu sunyi. Hanya ada bunyi burung-burung, dan bunyi dedaunan yang bergesek karena embusan angin.

Puas melihat-lihat makam dan memotretnya, penulis lantas bertandang ke sebuah rumah yang berada di seberang kompleks makam. Di situ, setidaknya ada tiga warga. Di antaranya yakni Mama Bayah, Jajam dan Hadirin.

Dibincangi penulis ketiganya membenarkan bahwa makam itu adalah makam Datuk Nafis.

"Wah, kalau penjaga makamnya tidak ada, berarti sudah pulang. Rumahnya di Pelaihari," ungkap Mama Bayah. Kendati demikian, perempuan 40 tahun ini mengaku sempat menjadi penjaga makam.

Dituturkan Mama Bayah, soal asal usul Datuk Nafis cukup sulit diketahui. Alasannya, karena tak ada catatan resmi. Di makam pun, juga tak ada.
"Ada yang bilang, beliau berasal dari hulu sungai. Ada pula yang bilang, berasal dari Martapura," ucapnya.

Pun demikian dengan siapa nama lengkap sang datuk. Kapan ia tinggal di kawasan Gunung Keramaian hingga wafatnya.

"Namun dari cerita orang-orang terdahulu, misalnya nenek saya, datuk memang tinggal dan wafat di sini. Beliau berdakwah, juga mengajar membaca Alquran," ucapnya."Beliau juga dikenal dengan nama Datuk Keramat Lifbata," timpal Hadirin dan Jajam hampir berbarengan, yang saat itu menyimak perbincangan kami.

Sungguh, hanya sedikit informasi yang bisa dikorek dari tiga warga yang ditemui penulis dari ketiga warga itu. Selebihnya, hanyalah kisah keramat sang datuk.

Seperti misalnya, tentang ada peziarah asal Kota Samarinda, Provinsi Kaltim yang datang untuk berhajat. Kemudian meletakan sekantong plastik berisi banyak uang pecahan ratusan ribu di atas makam sang datuk.

Namun anehnya, menurut Mama Bayah, peziarah lain yang justru juga ada di situ, tidak melihat bahwa ada sekantong uang di dalam plastik terbuka yang diletakan di atas makam sang datuk.

"Kebetulan, saya yang diamanahi si pesiarah asal Samarinda itu untuk menjaga. Kata peziarah, uang itu akan diambil lagi nantinya di kemudian hari. Ibaratnya, ia menitipkan saja," jelasnya Mama Bayah.

"Dahulu makam beliau tidak seperti ini. Belum berpagar besi. Jadi bisa dengan bebas meletakan apa saja di atasnya. Yang saya ingat, peziarah itu bilang, jumlah uang itu sebanyak Rp35 juta," tambahnya.

Dilanjutkan Mama Bayah, berbulan-bulan kemudian, peziarah asal Samarinda itu kembali datang. Kemudian, mengambil uang yang sebelumnya dititipkan di atas makam.

Dituturkan Mama Bayah, bahwa peziarah itu mengaku bahwa hajatnya sudah terkabul. Maka, ia pun kembali mengambil uang itu."Dari peziarah asal Samarinda itu pula, saya diberitahu bahwa keramat beliau tidak main-main. Bahkan, hingga kini," ujarnya.

Dituturkan Mama Bayah pula, hingga kini peziarah terus berdatangan. Paling ramai, biasanya pada hari Minggu. Atau setelah hari raya. Baik saat Idul Fitri maupun Idul Adha."Rombongan bus, dan mobil, bisa sampai ke sini," lanjut Mama Bayah.

"Sayang, kalau saja jalanan ini diperbaiki, mungkin akan lebih memudahkan peziarah untuk datang," tambahnya."Saya dengar, usulan perbaikan sudah disampaikan oleh kepala desa. Tapi, tidak tahu nantinya kapan baru diperbaiki," tutupnya. (war/by/ran) Editor : Arief
#Ulama #Ekspedisi Ramadan