Rumah-rumah yang dihuni mualaf di kampung yang terletak di Kecamatan Halong itu, diberikan secara gratis. Mualaf bebas menempatinya selama yang mereka mau.
Dengan catatan, tanah beserta rumah itu tak boleh dijual. Mualaf di situ benar-benar terayomi. Terlebih dalam hal pendidikan juga bimbingan keagamaan.
Namun, rupanya masih ada yang mengganjal. Mereka memerlukan uang untuk membeli atau memenuhi kebutuhan hidup. Untuk mendapatkan uang, mereka tentu mesti bekerja. Kalau tidak, dapur tak akan mengepul.
Warga yang tinggal di Kampung Mualaf mayoritas kerja serabutan. Bisa bekerja sebagai buruh bangunan dan lain-lain. Penghasilan para warga di situ tidak menentu.
Ambil contoh, pekerjaan yang dilakoni Mira Tania. Putri dari Siti Khadijah itu menjadi kuli bangunan alias bertukang. Lokasi tempatnya bekerja berada di Paringin, jantung Kabupaten Balangan.
Berangkat dengan menggunakan sepeda motor milik sang mandor bangunan. Terkadang pagi hari, terkadang sore hari. Tak menentu.
Mira menjelaskan, sebelum pindah ke Kampung Mualaf, dahulu dirinya beserta keluarga yang lainnya adalah pekebun."Tapi di sini, kami tidak punya kebun yang bisa digarap," ucapnya.
"Jadi, mau tidak mau pekerjaan apa pun diambil. Termasuk, sebagai pencuci pakaian," tambah perempuan kelahiran tahun 1990 itu.
Sang ibu, Siti Khadijah, pun melakukan hal yang sama seperti anaknya. Bedanya, lantaran ia tidak bisa mengendarai sepeda motor, ia memilih bekerja sebagai pencuci pakaian saja.
Atau yang paling mudah dan sering, bantu-bantu di warung makanan yang ada di Desa Halong."Tapi, sekarang bulan Ramadan. Warung-warung banyak yang tutup," jelasnya.
Sulitnya mencari penghasilan juga dituturkan mualaf lainnya, Siti Aminah. Untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga, ia pun membuka jasa pijat urut di kediamannya. Bila kondisinya memungkinkan, perempuan 60 tahun itu juga berkebun.
"Kalau tidak seperti itu, bagaimana kami bisa dapat uang. Bergantung jadi tukang urut, orang tidak datang setiap hari," ucapnya.
"Berkebun pun, menumpang di kebun orang yang ada di dekat sini. Bukan milik kami sendiri. Terkadang menyadapkan karet, terkadang memanenkan cabai," tambahnya.
Hal senada juga disampaikan Sapri. Ia anak laki-laki Nurhayati. Seperti sang ibu, Sapri juga mualaf yang tinggal di Kampung Mualaf.
Dituturkannya, warga yang tinggal di kawasan Pegunungan Meratus yang ada di Kabupaten Balangan, umumnya memiliki kebun di kampung halamannya. Ambil contoh, Mualaf yang berasal dari Desa Binuang Santang seperti ia dan ibunya. Mereka menggantungkan hidup dengan hasil alam."Misalnya panen padi, panen pisang, cabai, hingga getah karet," ucapnya.
Kendalanya sekarang ini, baik dirinya juga beserta sang ibu, sudah mulai jarang bisa ke kebun. Jarak antara Kampung Mualaf dengan kebunnya yang ada di Desa Binuang Santang sangatlah jauh."Kalau bahasa kami di sini, perlu tiga sampai empat gunung yang dilewati. Baru sampai ke kebun. Paling cepat, empat jam perjalan," jelasnya.
Itu, kalau ditempuh dengan jalan kaki. Kalau naik sepeda motor, waktu tempuh bisa sedikit dipangkas. Asalkan jalanan tidak becek. Namun persoalannya lagi, ada banyak warga mualaf yang tidak memiliki sepeda motor."Yang punya hanya beberapa. Kalau pun ada sepeda motor tak sedikit dari kami yang tidak bisa mengendarainya," ungkapnya.
"Kalau pun bisa, bila sepeda motor tidak didukung dengan ban rimba, mungkin hanya bisa menempuh sampai setengah perjalanan saja," tambahnya.
Dilema jauhnya jarak antara area perkebunan milik para mualaf dengan kampung baru yang mereka tempati, juga membuat mereka kesulitan untuk mengikuti pengajian keagamaan.
"Terkadang, warga juga perlu menjaga kebun dari serangan hama. Misalnya babi hutan dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa bolak-balik dari kebun langsung ke sini," timpal Siti Aminah.
"Kalau pun bisa bolak-balik, mungkin malam hari baru sampai ke rumah. Kalau sudah sampai ke rumah, biasanya kami langsung istirahat saja," jelasnya."Kalau terus-terusan absen pengajian, jangan-jangan malah nanti dikira tidak serius," tekannya.
Untuk itu warga pun lantas berharap, semoga ada dermawan atau pemilik lahan perkebunan yang lokasinya berdekatan dengan kampung Mualaf, mempersilakan kebunnya untuk digarap.
Paling tidak, bisa ditanami berbagai macam tanaman. Dengan begitu, para mualaf tak perlu repot-repot menempuh perjalanan jauh untuk kembali bisa berkebun.
Sehingga para mualaf bisa dengan mudah dan bisa lebih rutin mengikuti kajian keagamaan, yang biasanya terpusat di musala yang berada di Kampung Mualaf."Sementara ini, saya masih kerja membantu-bantu warga sekitar memanen padi. Kalau sudah selesai, saya harus cari kerjaan lain lagi," ucap Sapri.
"Kami tidak bisa memilih antara berangkat ke lokasi kebun kami yang jauh itu atau mengikuti pengajian agama. Kami ingin memilih keduanya. Semoga ke depan ada solusinya," tutup Sapri. (war/by/ran) Editor : Arief