Kiprah Ulama dan Dahsyatnya 'Pasukan Gaib'

Arief • Dipublikasikan Selasa, 26 April 2022 | 17:10 WIB
BAYAR PAJAK: Warga mendatangi outlet layanan Warung PBB yang mulai dibuka BPPRD pada Awal Februari 2023 lalu | FOTO: NADIA UNTUK RADAR BANJARMASIN
BAYAR PAJAK: Warga mendatangi outlet layanan Warung PBB yang mulai dibuka BPPRD pada Awal Februari 2023 lalu | FOTO: NADIA UNTUK RADAR BANJARMASIN
Garis yang tampak di tanah itu laiknya dinding pelindung. Selama pasukan pejuang kemerdekaan berada dalam garis, tak ada satu pun peluru penjajah Belanda yang mampu mencapai tubuh mereka.

Photo
Photo


Berdiri sejak tahun 1.804, Masjid Jami Sungai Banar memiliki sejumlah nama. Namun, yang melekat dan terkenal hanya satu nama."Hanya nama Masjid Sungai Banar," ucap sang marbot masjid, Ahmad Royani, pada Jumat (22/4) lalu.

Mengutip dalam buku sejarah Masjid Jami Sungai Banar, yang disusun oleh mantan pengurus masjid tersebut, H Abidin B, pada 2004 lalu, setidaknya pengubahan nama masjid dilakukan dua kali. Di antaranya yakni pada tahun 1.990, masjid itu bernama Masjid Baiturrahman. Sayang, nama itu tidak populer.

Padahal, nama itu sempat diabadikan dalam sertifikat (tanda bukti hak) tanah wakafnya. Yang dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten HSU, pada tanggal 19 November 1991.

Kemudian, di tahun 2.000. Masjid itu berganti nama menjadi Masjid Istiqamah. Nama itu tercantum dalam Surat keputusan (SK) Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Kalsel.

Namun, lagi-lagi nama itu tak populer dan hampir tidak pernah digunakan. Masyarakat lebih suka menyebutnya dengan nama Masjid Sungai Banar.

Lantas, mengapa nama pertama itu lebih disukai? Rupanya, ada cerita tersendiri.

Dituturkan Ahmad Royani, seusai pembangunan masjid itu rampung, ada seorang pedagang yang singgah ke masjid itu untuk menunaikan salat. Si pedagang datang menggunakan perahu. Ia mengaku berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Hal itu membuat masyarakat setempat bahagia. Lantaran si pedagang adalah orang pertama yang berasal dari daerah lain, yang datang untuk salat di masjid yang baru selesai dibangun itu."Waktu itu, baik masjid maupun sungai yang ada di depannya, sama sekali belum memiliki nama," tuturnya.

Seusai salat, si pedagang lantas kembali meneruskan perjalanan dengan perahunya.

Namun rupanya, diketahui bahwa kadut duit (kantong uang, red) yang diduga milik si pedagang tertinggal di batang (dermaga, red) masjid.

Hari berganti hari, pekan berganti bulan, tak ada seorang pun masyarakat atau jemaah masjid yang berani menyentuh kadut duit itu."Sebaliknya, jemaah silih berganti menjagakan barang tersebut agar jangan sampai hilang," kisah Royani.

Beberapa waktu kemudian, si pedagang kembali datang. Ketika menambatkan perahunya di batang masjid, ia mendapati kadut duit miliknya masih ada. Bahkan setelah isinya dicek, ternyata juga masih utuh. Tak ada yang kurang.

Si pedagang pun lantas mengucap syukur. Saat itu ia juga mengatakan, bahwa masyarakat di situ: Banar-banar kadada nang culasnya. Atau dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia, berarti bahwa masyarakat di situ semuanya benar-benar jujur. Tak ada yang curang.

Sesudahnya, si pedagang pun lantas menanyakan apa nama sungai yang dilaluinya dan masjid yang menjadi tempat ia menunaikan salat.

Lantaran masyarakat atau jemaah menjawab masih belum ada nama, si pedagang pun memberikan nama pada sungai itu dengan nama Sungai Banar."Sedangkan masjid, dinamainya dengan Masigit (masjid, red) Sungai Banar," kisah Royani.

Sejak saat itulah, masjid ini bernama Masjid Sungai Banar atau hingga kini dikenal dengan nama Masjid Jami Sungai Banar.

Lantas siapa sebenarnya pedagang itu? Sampai sekarang, menurut Royani, tidak ada seorang pun yang tahu siapa pedagang itu. "Menurut kisah yang saya dengar dari orang-orang dahulu, setelah si pedagang memberikan nama, pedagang itu langsung menghilang," tutup Royani.

Lahir dari Daerah Sungai Banar



Keberadaan Masjid Jami Sungai Banar juga berperan penting dalam hal dakwah hingga pengajaran Agama Islam. Sejak dahulu, di masjid itu, rutin digelar pengajian agama atau yang biasa disebut majelis.

ITIKAF: Ruangan dalam Masjid Jami Sungai Banar dahulunya menjadi pusat pengajian Agama Islam untuk kawasan Hulu Sungai. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Dalam buku sejarah tentang masjid tersebut yang disusun oleh H Abidin B itu pula disebutkan bahwa, pada sekitar tahun 1.850 pengajian bahkan tidak hanya digelar di masjid. Tapi, juga di rumah-rumah serta musala.

Tak ayal, pada masa itu, kawasan Sungai Banar disebut-sebut sebagai pusat pengajian Agama Islam, tertutama bagi daerah Hulu Sungai. Keadaan demikian, terus berlangsung hingga menjelang kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Masih dalam buku yang sama, ditulis pula sejumlah nama ulama terkenal yang biasa mengisi pengajian di Masjid Jami Sungai Banar, rumah-rumah hingga musala. Di antaranya yakni, Tuan Guru H Abdul Qadir (Lahir tahun 1.830). Lalu, tuan Guru H Ahmad (Lahir sekitar tahun 1.860 wafat sekitar tahun 1.944 ) bin H Abdul Qadir.

Selanjutnya, Tuan Guru H Ahmad atau yang biasa dikenal dengan nama H Ahmad Khatib (Lahir sekitar tahun 1.866 wafat tahun 1.956) bin H Muhammad Arif. Kemudian, ada nama Tuan Guru H Abdul Hamid atau yang biasa dikenal dengan Tuan Guru H Putih (Lahir tahun 1.870 dan wafat pada tahun 1.940) bin Matsaleh.

Lalu, ada Tuan Guru H Abdul Hamid (Lahir tahun 1.896 dan wafat tahun 1.951) bin H Jamaluddin. Hebatnya, ke semua ulama-ulama itu berasal atau lahir dari kawasan Sungai Banar, Kabupaten HSU.

Di sisi lain. Sejak dibangun, Masjid Jami Sungai Banar melewati banyak masa-masa bersejarah. Salah satunya, ketika meletusnya pertempuran melawan penjajah Belanda.

Ya. Selain sebagai tempat ibadah, masjid itu dahulunya juga digunakan sebagai markas pasukan pejuang kemerdekaan. Akan tetapi, sifatnya sangat rahasia. Bahkan, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.

Dituturkan sang marbot masjid, Ahmad Royani, zaman dahulu ada pasukan khusus bentukan masyarakat yang bermukim di kawasan Sungai Bujur. Pasukan itu diberinama 'Tentara Gaib'.

Jumlah pasukan hanya 70 orang. Pemimpinnya adalah Mat Ali. Lalu ada seseorang lagi yang betindak sebagai wakil pimpinan, Itar namanya. Ada pun tugas pasukan itu, yakni mengobarkan semangat juang masyarakat untuk merebut kemerdekaan.

Lalu, memberikan dukungan dan informasi kepada pejuang. Baik yang berada di daerah Kabupaten HSU hingga daerah lainnya.

Kemudian, pada saat diperlukan, pasukan itu juga siap melakukan penyerbuan alias penyerangan."Bila ada kesempatan, misalnya seusai salat, berzikir bersama, atau mengikuti pengajian, para 'Tentara Gaib' akan bermusyawarah dan mengatur strategi di masjid ini," kisahnya.

Kisah serupa juga ditulis dalam buku sejarah Masjid Jami Sungai Banar yang disusun H Muhidin B, itu. Sebelum berangkat melakukan penyerangan, pasukan terlebih dahulu melakukan salat dan berzikir di Masjid Jami Sungai Banar.

Sesudah itu, pasukan mengambil kain putih yang biasanya dikenakan khatib ketika berkhutbah. Lalu, kain putih itu dibelah menjadi dua. Belahan kain yang satu dibagi lagi dan diikatkan ke kepala. Pun demikian dengan belahan kain yang satunya lagi, kali ini diikatkan ke pinggang.

Ada pun tongkat yang biasa dipakai khatib naik ke mimbar, dijadikan sebagai bendera juga sekaligus senjata. Lantaran tongkat itu seluruhnya terbuat dari besi dan berbentuk tombak.

Konon, penyerangan besar yang pernah dilakukan 'Tentara Gaib', yakni terhadap pos Belanda yang berada di Desa Jatuh, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Dalam beberapa pertempuran yang diikuti, ada banyak pasukan Belanda yang tewas. Sedangkan pasukan khusus dari 'Tentara Gaib', kembali ke kawasan Sungai Banar dalam keadaan semuanya selamat.

"Dari cerita orang terdahulu, pemimpin pasukan, menggoreskan tongkat besinya ke tanah. Konon, selama berada dalam garis itu, pasukan tak akan terluka sedikit pun," tekan Royani.

Saat berbincang dengan lelaki 33 tahun itu, penulis juga berkesempatan melihat langsung tongkat yang dimaksud. Tongkat itu benar-benar terbuat dari besi.

Di bagian atas tongkat, ada semacam bandulan. Sedangkan di bagian bawahnya tampak runcing layaknya tombak. Benda itu hingga kini masih berada di mimbar Masjid Jami Sungai Banar.

Menurut Royani, benda bersejarah yang masih tersisa selain bangunan masjid itu sendiri yakni tiga buah bejana, tongkat besi, dan mimbar masjidnya."Mimbar masjid ini, sedari awal tak pernah diganti. Tetap dipertahankan, terus dirawat dan dipakai," tutupnya.

Lantas, dari mana diketahui bahwa mimbar itu tak pernah diganti?

Itu dibuktikan dengan dimasukannya catatan tentang mimbar itu dalam buku sejarah masjid tersebut. Dalam buku itu dituliskan bahwa mimbar terbuat dari kayu ulin. Di situ juga dijabarkan secara lengkap terkait tentang ukuran lebar, tinggi, juga bentuk mimbar.

Lalu, jumlah anak tangganya, serta sejumlah nama pembuat hingga pewakaf mimbar yang terukir di mimbar itu. Penulis pun mencocokan tulisan di buku itu dengan keadaan mimbar yang ada. Benar, ada nama si pembuat mimbar juga nama pewakafnya.

Totalnya ada tiga nama di mimbar itu. Diukir menggunakan huruf hijaiyah, dengan ejaan Arab Melayu. Ukiran itu bertuliskan: Bikinan punya Buha dan bikinan punya Thahir. Wakaf punya Haji Mahmud. (war/by/ran) Editor : Arief
Masjid Ulama Ekspedisi Ramadan