Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Batumbang Apam untuk Berkati Anak-Anak

Arief • Jumat, 22 April 2022 | 19:50 WIB
SELALU RAMAI: Masjid Al A
SELALU RAMAI: Masjid Al A
Diiringi gema salawat, dipandu seorang marbot atau imam masjid beserta orang tuanya, bocah itu menaiki undak-undakan mimbar. Harapan dihaturkan, semoga sang bocah memiliki akhlak yang terpuji dan menjadi orang yang sukses di kemudian hari.



Prosesi itu termasuk dalam rangkaian tradisi Batumbang Apam. Tradisi turun temurun yang hingga kini bisa disaksikan di daerah hulu sungai.

Salah satunya, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), sebuah daerah yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Kota Banjarmasin. Dan di Kabupaten HST lah, Jejak Ramadan di Pelosok kali ini.

Secara sederhana, tradisi ini dimaknai sebagai upacara pemberkatan untuk anak-anak. Lalu, juga sebagai salah satu wujud syukur lantaran terkabulnya sebuah hajat. Umumnya ini disebut sebagai acara selamatan atau kenduri.

Mengutip seperti apa yang disampaikan oleh Helda Hermawati, dalam bukunya berjudul Tradisi Batumbang Apam di Masjid Al Munawarah.
Pewarisan tradisi Batumbang Apam hanya bermula dari individu ke individu lainnya. Umumnya, orang-orang yang sudah lebih dulu melakukannya. Selanjutnya, tradisi itu lantas membudaya lantaran adanya pengaruh lingkungan serta masyarakat yang masih memegang teguh tradisi tersebut.

Sederhananya, tak ada yang tahu, kapan tradisi tersebut bermula.

Kendati demikian, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST, Masruswian menjelaskan bahwa bagi masyarakat di Kabupaten HST tradisi ini sudah berlangsung sejak sangat lama."Bahkan sejak zaman Kerajaan Banjar," ucapnya, ketika ditemui penulis pada Selasa (19/4) lalu.

Tradisi itu sendiri tetap dipertahankan, lantaran merupakan tradisi yang sangat baik. Kemudian ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Di Kabupaten HST, setidaknya ada dua tempat bagi warga yang hendak menggelar tradisi itu. Yakni di Masjid Al Munawarah, Desa Pajukungan, Kecamatan Barabai. Lalu, Masjid Al A'la atau Masjid Keramat Jatuh, di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan. Di dua tempat itulah, tradisi Batumbang Apam biasanya digelar.

Tradisi Batumbang Apam, umumnya dilakukan di bulan Syawal atau pada Hari Raya Idul Fitri. Lalu, di bulan Dzulhijjah, pada Hari Raya Idul Adha
Biasanya digelar pada hari pertama, hingga sepekan kemudian. Tergantung dari banyaknya orang yang ingin menggelarnya.

Apakah ada selain hari itu? Jawabannya, tentu saja ada.

Pasalnya, seperti yang diungkapkan sebelumnya, Batumbang Apam juga dimaknai sebagai selamatan lantarannya terkabulnya sebuah hajat.

Jadi, kapan pun, sebenarnya tradisi ini bisa saja digelar. Seperti misalnya di Masjid Al A'la, ya g berlokasi di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan.

"Tapi memang, yang ramai biasanya di Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha," ungkap H Nasrullah. Salah seorang warga di Desa Jatuh.

Di sisi lain, tradisi ini menurutnya tidak hanya dilakukan oleh warga Desa Jatuh saja. Tapi, juga warga di berbagai daerah lainnya.

Lantas, bagaimana prosesi itu berlangsung? Penulis menemui Ketua Pengurus Masjid Al A'la, Jafar Shadiq, pada Rabu (20/4) lalu.

Dijelaskannya, bahwa pertama-tama tentu warga yang ingin menggelar tradisi itu terlebih dahulu melapor ke marbot atau imam masjid.

Mengingat pada umumnya, tradisi itu digelar di dalam masjid. Selanjutnya membawa anak yang ingin ditumbang (diboyong, red) ke dalam masjid.

"Mereka yang menggelar tradisi ini, umumnya memiliki hajat tertentu. Contoh, ingin agar anak tidak sakit-sakitan dan lain sebagainya. Atau bagi mereka yang hajatnya sudah terkabul," ucapnya.

Kemudian, pihak keluarga yang hendak melaksanakan tradisi tersebut menyiapkan sejumlah Kue Apam khas Barabai.

Yang unik, Kue Apam yang dibawa biasanya dipersiapkan tidak hanya diletakan di atas nampan. Ada pula yang ditusukan pada pelepah kelapa. Jadi, Kue Apam itu, diletakan pada daun yang telah diserut hingga menyisakan bilah lidi.

Tinggi pelepah kelapa itu sendiri, diukur setinggi anak-anak yang bakal mengikiti prosesi Batumbang Apam itu.

Konon, lantaran memboyong kue apam pada saat prosesi selamatan itulah mengapa tradisi ini biasa disebut dengan nama Batumbang Apam.

"Oleh imam masjid, kue itu kemudian diletakan di atas kepala sang anak. Atau biasanya diletakan di samping ketika anak itu dibawa. Sambil terus membacakan doa, ayat-ayat alquran hingga salawat," tuturnya. "Harapannya agar sang anak diharapkan selalu mendengarkan hal yang baik-baik saja. Sekaligus tentu mengenalkannya tentang agama Islam," jelasnya.

Sesudah prosesi itu, dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh sang imam. Umumnya, doa yang dibacakan adalah doa keselamatan.Selain ditujukan untuk sang anak, doa juga ditujukan kepada keluarga yang berhadir dalam prosesi itu.

Dijelaskan Jafar, ketika sejumlah prosesi utama itu selesai, ada pula prosesi penggiring lainnya.Dijelaskannya. Batumbang Apam tak sekadar menghaturkan harapan serta bentuk ungkapan rasa syukur akan terkabulnya hajat saja."Sebenarnya ada banyak hikmah yang terkandung di dalam tradisi itu. Dan oleh karena itu pula tardisi Batumbang Apam dipertahankan hingga kini," ucapnya.

Ambil contoh pada prosesi penggiring seperti di antaranya yakni berupa menuntun anak atau bocah yang menjalani tradisi untuk naik ke mimbar khatib masjid.Filosofinya, agar sang anak memiliki akhlak yang terpuji dan menjadi orang yang sukses di kemudian hari.

"Bukan kah orang-orang yang menaiki mimbar itu biasanya hanya orang yang berilmu? Ulama dan orang saleh lainnya. Kita mengambil berkat dari situ," ucap Jafar.

Lalu, ada pula prosesi menghamburkan atau membagikan sejumlah uang receh di halaman masjid.

Umumnya, itu dilakukan oleh imam masjid yang menjadi tempat tradisi Batumbang Apam digelar. Saat menghamburkan receh itu, biasanya juga diiringi dengan bacaan selawat.

Dan Biasanya uang itu diperebutkan anak-anak lantaran dianggap berkah.

Ada pun filosofinya, membiasakan diri agar selalu berbagi kepada orang-orang ketika ada orang yang membutuhkan atau saat kita diberikan rezeki berlebih.

Lebih jauh, penulis juga mewawancarai Imam Masjid Al A'la. Namanya Ahmad Zulfadli. Ia mengaku sudah lima tahun terakhir menjadi imam di masjid tersebut.

Lelaki 40 tahun itu pun membenarkan, bahwa menurutnya tradisi Batumbang Apam sudah ada sejak zaman dahulu."Saat saya masih kecil. Itu sudah ada. Imam-imam terdahulu pun memimpin hal itu (Batumbang Apam)," ucapnya.

Ia pun lantas menjelaskan, bahwa Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, adalah hari favorit warga untuk menggelar tradisi itu.
"Dibandingkan hari biasa, saat itu selalu banyak orang yang datang ke masjid ini untuk melaksanakan tradisi Batumbang Apam," tutupnya. (war/by/ran) Editor : Arief
#Seni dan Budaya #Ekspedisi Ramadan